Belajar Tauhid Dari Corona

Picture by Fathan Faris Saputro

Ditulis Oleh : Fathan Faris Saputro - 31 Maret 2020

Menyebarnya virus corona atau covid-19 ke penjuru negeri, telah membuat manusia heboh oleh berita atau opini yang tersebar di tengah masyarakat, khususnya di jagat maya.


Dampaknya adalah rasa gelisah dan ketakutan yang dirasakan. Namun sebagai umat muslim tentu memiliki prinsip yang kuat untuk menyikapi virus corona ini. Jangan sampai rasa gelisah dan takut yang berlebihan.


Wabah ini membuat kita diminta uzlah sebentar merenung. Bahwa tidak semua bisa dilakukan tanpa pertolongan Tuhan. Tuhan menunjukkan kekuasaanNya lewat makhluk super kecil tak terlihat mata sebagai ujian. Siapa beriman dan siapa ingkar.

Kita kerap datang ke tempat ibadah tapi seberapa sering kita menemukan Tuhan? Melalui makhluk kecil yang kita sebut dengan nama indah Corona itu manusia bisa mengenal Tuhan lebih dekat sekaligus mengetahui perangai buruk dan elok diri sendiri.

 

Ternyata sebagian kita selama ini telah menempatkan Tuhan dalam seremonial belaka. Tak lebih. Meskipun mulut kita sering berkhutbah, penampilan berjubah, berjenggot, jidat menghitam, tak menjamin benar-benar hadir di depan Tuhan.


Ada orang mengaku paling dekat dengan Tuhan tapi mulutnya garang menafikan yang lain. Artinya dia telah menciptakan tuhan menurut persepsinya sendiri. Orang ini telah mereduksi Kemahaluasan Tuhan menjadi sempit. Sesempit pikirannya.


Perilaku Jabariyah


Orang yang mengatakan takutlah hanya kepada Allah jangan takut pada virus Corona, sesungguhnya dia tak punya stamina spiritual prima. Dia rapuh, tak punya daya imunitas tauhid. Sebab melawan sunatullah atau bisa disebut qaulu haqqin ala u’ridha bihi al baathil. Pernyataan yang seolah-olah benar tapi mengajak pada yang batil.


Perilaku jabariyah seperti meniadakan ikhtiar, dengan alasan menyandarkan tawakal kepada Allah adalah gejala imunitas iman turun. Virus Corona itu sunatullah maka makhluk kecil ini berperilaku sesuai sifat yang diberikan Allah kepadanya.


Kasus tabligh akbar di Malaysia dan kebaktian di gereja Korea Selatan yang melonjakkan jumlah pasien Corona merupakan bukti virus ini tak peduli siapa pun. Bakal dilibas kalau ada peluang masuk ke tubuhnya.

  

Pikiran jabariyah memegang dalil manusia lahir dalam keadaan terikat, tidak punya pilihan, sebab semua sudah ditetapkan di Lauh al Mahfudz jauh sebelum penciptaan makhluk.

Hidup mati manusia, sakit sehat dirinya, menjadi baik atau buruk, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, susah atau senang, menjadi mukmin atau kafir, bahkan masuk surga atau neraka, semua sudah ditetapkan takdirnya.


Manusia itu lari dari ketetapan takdir yang satu menuju takdir yang lainnya. Tiada sama sekali pilihan. Sebab memilih adalah perbuatan menuju pilihan yang sudah ditetapkan. Dari pikiran semacam inilah lantas ada orang berkata, berusaha seperti apa pun kalau sudah ditakdirkan kena virus Corona ya sakit juga.


Perilaku Qadariyah


Pada sisi ekstrem juga muncul pandangan wabah Corona adalah peristiwa alam. Makhluk ini sudah ada di alam. Tak ada hubungannya dengan Tuhan. Apalagi azab bagi pemerintah China yang dzalim terhadap bangsa Uighur. Pikiran itu ditolaknya.

Pandangan ini berdalil semua makhluk diciptakan mengikuti hukum sebab akibat karena setiap sesuatu ada kadarnya. Pandangan inilah yang disebut sebagai qadariyah. Bahwa segala sesuatu di alam semesta telah ditetapkan kadar, ukuran, yang mendorong terjadinya hubungan sebab akibat.


Termasuk virus Corona adalah makhluk yang muncul karena sesuatu sebab yang membuatnya berkembang biak. Untuk memusnahkan maka harus memahami sifat makhluk ini.

Keberhasilan China mengatasi wabah Corona menjadi contoh. Bangsa komunis yang tak percaya Tuhan itu ternyata bisa menaklukkan berkembangnya virus tanpa doa dan sembahyang. Dengan ikhtiar mengenali sifat virus, mereka temukan penangkalnya.

Jalan Tengah


Maka bangsa ini tak jadi lenyap karena azab kedzaliman sebagaimana dikhutbahkan orang-orang yang mengaku shaleh di saat awal wabah ini merebak. Apakah Tuhan gagal dengan azabnya terhadap bangsa China?

   

Tidak juga. Ikhtiar manusia adalah bagian sunatullah. Manusia punya akal. Maka dengan akal itulah manusia harus berikhtiar. Tuhan sudah menetapkan hukumnya di alam dan berjalan tetap selamanya begitu tanpa campur tangan lainnya. Manusia tinggal mengikuti hukum alam menuju kesuksesan atau kegagalan.

Disebutkan dalam hadits, Rasulullah SAW bercerita, ada orang yang di awal hidupnya beramal seperti ahli surga tapi takdir menetapkan ia masuk neraka. Maka di akhir hidupnya ia beramal seperti ahli neraka.

Sebaliknya ada orang yang di awal hidupnya beramal seperti ahli neraka tapi takdir menetapkan ia masuk surga. Maka di akhir hidupnya ia beramal seperti ahli surga.

Lantas para sahabat bertanya, kalau begitu apa gunanya ikhtiar? Rasulullah menjawab, ikhtiar adalah untuk memudahkan kepada takdir yang sudah ditetapkan.


Maka janganlah abaikan di antara ikhtiar orang-orang yang tak percaya Tuhan. Ada doa-doa dan dzikir yang dilafalkan orang-orang saleh yang memudahkan takdir mempercepat jalannya. Jadi tak peduli Anda Jabariyah atau Qadariyah kalau pemahaman takdir tak lengkap bakal dilibas Corona.


Data yang Bicara


Sejak pertama kali kemunculannya sampai sekarang, Corona telah benar-benar membuat manusia seolah lumpuh dan tak berdaya. Mengutip info berita tentang update Corona pada laman kompas.com tanggal 23 Maret 2020. Corona telah menyerang tak kurang dari 342.407 ribu manusia di dunia, 14.753 diantaranya berakhir dengan kematian.


Di Indonesia sendiri terdapat 579 orang yang positif dihinggapi Corona dengan 49 di antaranya meninggal dunia. Bagai bola salju yang menggelinding, semakin hari Corona semakin besar dan meluas. Menyebar dan meneror tanpa mampu ditaklukan.


Corona yang meski berukuran sangat kecil, namun mampu mengoyak segala keangkuhan, kebesaran dan kedigdayaan umat manusia yang selama ini terus menerus dikampanyekan. Sekolah diliburkan, toko dan pabrik tutup, masjid dan tempat ibadah dikosongkan bahkan negara-negara super power pun dibuat panik dan kebingungan menghadapi makhluk yang sangat kecil ini.


Selaras dengan hal tersebut dalam Islam kita disunnahkan untuk membersihkan dan menyucikan badan kita dari segala najis dan kotoran dengan air wudhu. Termasuk diharapkan dengan menjaga wudhu tersebut badan kita akan terbebas dari virus Corona.


Namun yang tidak kalah penting adalah kita juga mesti membersihkan dan menyucikan hati dan jiwa kita dari segala sifat buruk seperti, iri, dengki, tamak, ujub, riya dan penyakit hati lainnya. Agar jiwa dan hati kita terbebas dari saa a qorina.


Sucikan badan dan sifat lahiriah kita dengan air wudhu dan sucikan batin kita dengan air mata taubat. Dengan sucinya batin dan lahir kita, Allah akan membimbing dan menunjukkan jalan untuk tetap menjadi sebaik-baik ciptaan (ahsani taqwim) dan memiliki sebaik-baik teman dekat (ahsanu qorinan).


Corona dan Kerusakan Alam

Corona agaknya hari-hari ini benar-benar menjadi saa a qorina (teman yang sangat buruk), yang menemani dengan setia setiap aktifitas kita. Pertanyaannya adalah mengapa Corona makhluk super kecil ini, dilahirkan di saat sekarang ini?


Jika setan adalah saa a qorina bagi orang-orang yang riya’ dalam berinfak, enggan beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka bagaimana dengan Corona? Perilaku apa yang menjadi sebab Allah mengutus Corona di tengah-tengah kita? Kerusakan di darat dan di laut (bumi) adalah sebab ulah tangan (perbuatan) manusia (dzhoharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aydinnaas).


Apakah sebab perilaku kita yang selalu berorientasi kepada dunia dalam setiap aktifitas, pekerjaan dan kesibukan kita? Atau karena hasrat kita akan jabatan, harta, ketenaran dan popularitas yang menjadi motif dalam setiap laku kehidupan kita? Atau karena perilaku kita yang menomorduakan Tuhan atau bahkan meniadakan-Nya?


Atau karena keraguan kita akan adanya hari akhir (akhirat) sehingga membuat kita rakus dan tamak, menghancurkan bumi tempat kita tinggal. Menghisab habis kekayaan yang ada di dalamnya. Memusnahkan makhluk-makhluk lain yang telah terlebih dahulu tinggal di atasnya. Dan bahkan dengan mudah membunuh sesama manusia demi kepentingan materi semata.

?

Atau karena sikap kita yang menutup rapat telinga kita dari rintihan orang-orang miskin dan memalingkan wajah kita dari tangisan anak-anak yatim? Benarkah segala sikap dan cara berpikir kita yang tamak, rakus, ujub, kikir, riya, amoral dan materialistik tersebut adalah saa a qorina yang telah mewujud menjadi Corona dan menemani kita hari-hari ini?

 


John Doe
Fathan Faris Saputro
Aktif bergerak dalam dunia lingkungan hidup. peraih Award lomba menulis Kemenag Kabupaten Lamongan 2020

Artikel Terkait

Jarak Aman Dalam Menerapkan Physical Distancing

Sars-cov-2 Atau Yang Biasa Kita Sebut Covid-19, Merupakan Wabah Besar Yang Terjadi Di Lebih Dari 190 Negara Di Dunia. Virus Ini Diindikasikan Menyebar Paling Banyak Melalui Respiratory Droplets...

Dikala Pandemi, Ilalang Pustaka Rilis Perdana

Semester Pertama Memasuki Dunia Kampus, Ada Yang Menarik Perhatianku. Sebuah Sepeda Onthel Terparkir Rapi Dengan Beberapa Buku Di Belakangnya. Aku Malah Teringat Dengan Kawan Literasiku Sewaktu...

Cara Melawan Kerusakan Alam Dengan Eko-psikologi

Mungkin Istilah Atau Wacana Ekopsikologi Tidak Sesering Kita Bicangkan Apalagi Implementasikan Dalam Bentuk Gerakan Ekologi seperti Halnya Dengan  wacana Ekologis Dari Sudut Pandang Ilmu...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul