Belajar Menjadi Manusia Sebelum Belajar Agama

Dokpri

Ditulis Oleh : Dilla Hardina - 17 September 2020

Judul Buku : Agama Adalah Cinta, Cinta Adalah Agama
Penulis : Edi AH Iyubenu
Penerbit : Diva Press
Halaman : 200

Buku ini berisi kumpulan kajian religi yang ditulis Pak Edi mulai tahun 2018 hingga 2020. Buku yang sampulnya dominan berwarna merah muda ini memiliki 20 tema kajian yang berbeda-beda. Namun, secara keseluruhan kumpulan tulisan tersebut bicara mengenai bermanusia dan beragama.

Dalam beretorika, Pak Edi tidak menggunakan bahasa-bahasa langit yang mungkin saja dapat membuat bingung beberapa pembaca yang bukan berasal dari kalangan akademisi. Justru, di beberapa kalimat tersisip kata dalam Bahasa Jawa : Khas Pak Edi.

Di dalam buku setebal 200 halaman ini, Pak Edi menggunakan bahasa yang di beberapa bagian terkesan santai, namun di beberapa bagian lain terkesan serius. Meskipun begitu, dibalik santai atau seriusnya bahasa yang digunakan, secara keseluruhan—menurut saya bahasa yang digunakan sangat halus dan indah. Hal ini secara tersirat menampakkan kesan keramah-tamahan dari penulisnya kepada para pembaca.

Dilihat dari tampilannya, buku ini memiliki warna sampul yang colour full, sehingga menampakkan kesan ceria, ekspresif, humanis dan tidak kaku. Sehingga, buku ini seakan berbicara, “siapapun dan bagaimanapun dirimu, kau bisa membaca aku”. Meskipun bertema religi dan spiritualitas, buku ini tidak terkesan “menceramahi” ataupun menggurui. Malah, seakan kita sebagai pembaca seperti diajak berbicara dengan seorang teman.

Saya sendiri sebetulnya bukan tipikal orang yang gemar membaca buku-buku islami. Namun, saat melihat buku Pak Edi yang baru terbit Bulan April 2020 tersebut, rasa ketidaktertarikan saya untuk “belajar islam dari buku” pun akhirnya runtuh. Ya, saya kepincut dengan bukunya Pak Edi.

Di dalam buku ini, Pak Edi banyak sekali menyuguhkan kisah-kisah Rosul beserta para sahabatNya yang menjadi refleksi historis tersendiri bagi para pembaca. Selain itu, Pak Edi juga menyuguhkan berbagai gagasan rasional yang didukung dengan ayat-ayat Alquran beserta hadist-hadist terdahulu yang semakin menyakinkan pembaca bahwa gagasan tersebut patut untuk direnungkan, pun dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini juga mengajak kita untuk tidak berbangga diri atas segala ibadah dan amal perbuatan yang telah kita lakukan di dunia ini. Pak Edi mewanti-wanti kita agar tidak mudah mengutuk orang lain dengan sebutan musyrik, kafir, laknat, pendosa dan pelbagai ujaran buruk lainnya. Seakan, kitalah yang paling suci dan yang paling rajin beribadah.

Sesungguhnya, kita tidak pernah tahu bagaimana nasib kita di akherat khelak. Apakah ibadah-ibadah yang telah kita lakukan dapat menolong kita untuk tidak tercebur ke dalam neraka, atau justru perasaan rendah diri kita di hadapan Allah dan perasaan “bukan siapa-siapa” lah yang mampu memasukkan kita ke dalam damai surganya. Kita tidak akan pernah tahu hal itu. Jadi, alih-alih sibuk mengomentari akhlak orang lain, lebih baik sibuk untuk menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.

Pak Edi mengajak kita untuk senantiasa mawas diri terhadap amalan-amalan yang telah kita perbuat. Sebab, seperti yang beliau katakan, “Apa yang kita pandang sebagai praktik keselamatan, amat bisa jadi sejatinya telah bergeser begitu jauh sebagai bukan lagi praktik keslamatan” (halaman 101).

Saya sempat berkaca-kaca ketika membaca hadist dari Tirmizi (tidak akan saya sebutkan karena isinya cukup panjang) yang menerangkan bahwa tidak peduli betapa besar dosa yang telah kita perbuat, Allah akan selalu memberikan ampunannya kepada kita.

Inti dari kalimat tersebut diulang sebanyak tiga kali. Bahkan janji Allah untuk memberi ampunan pada makhlukNya pun tidak main-main. Dari situ, saya langsung teringat betapa saya mudah sekali berbuat dosa, namun Allah dengan mudahnya mengizinkan saya untuk senantiasa memohon ampunanNya. Karena sesungguhnya, ketika kita memohon ampunan atau hidayah kepada Allah, sesungguhnya itu bukan karena kemauan dari dalam diri kita, melainkan karena rahmat dari Allah yang diberikan dengan murah hati untuk kita. Sungguh Allah maha pengampun.

Pak Edi seakan “peka” terhadap fenomena perpecahan antarumat islam yang disebabkan karena setiap kelompok atau golongan merasa bahwa pemahaman kelompok merekalah yang paling benar dan yang paling suci. Mereka seakan tidak memberikan ruang toleransi di hati mereka masing-masing. Maka salah satu fenomena inilah yang mengilhami Pak Edi untuk dapat melahirkan buku ini.

Selain itu, kajian-kajian yang ada di dalam buku ini juga dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan, seperti covid-19 misalnya. Hal ini tentunya semakin menambah relevansi terkait bagaimana untuk bisa bermanusia dan beragama di masa kini. Intinya, buku ini sangat berhubungan dengan dunia sosial-agama kita hari ini. Secara keseluruhan, buku ini sangat cocok dibaca oleh para muslimin yang ingin mencari arti sesungguhnya dalam beragama, yakni dengan memanusiakan manusia.


John Doe
Dilla Hardina
Kelilingilah dirimu dengan orang-orang yang pantas mendapatkan keajaibanmu

Artikel Terkait

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat...

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat Berliterasioleh : Halisa (pegiat Literasi Rbi Tonyaman) payung Rumah Baca Inspirasi Akhirnya Terpasang, Tepat Di Hari Kamis 22 Oktober 2020....

Jarak Aman Dalam Menerapkan Physical Distancing

Sars-cov-2 Atau Yang Biasa Kita Sebut Covid-19, Merupakan Wabah Besar Yang Terjadi Di Lebih Dari 190 Negara Di Dunia. Virus Ini Diindikasikan Menyebar Paling Banyak Melalui Respiratory Droplets...

Hayluz, Taman Baca Yang Mapan?

Kawan-kawan Dan Pengunjung Yang Mengetahui Taman Baca Hayluz Sejak Awal Tentu Saja Mengerti Bagaimana Kami Memulai Dan Mengusahakan Perkambangan Tbh. Mulai Dari Koleksi Bacaan Hingga Pelbagai...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul