AYAM MENULIS TELUR

Picture by Badaruddin Amir

Ditulis Oleh : Badaruddin Amir - 13 Juli 2020

Oleh Badaruddin Amir

 

 

Di sebuah sekolah menulis suatu pagi, dua orang siswa mendekati gurunya. Mereka merasa telah lama menjadi siswa namun harapannya untuk segera menjadi penulis belum juga tercapai.

 

“Apa yang harus saya lakukan agar saya bisa cepat menjadi penulis, Guru ?” kata salah seorang dari mereka.

 

Sang guru bingung. Ia tidak bisa menjawab cepat karena yang ditanyakan bukan soal materi menulis yang baru saja dipelajari. Untuk cepat menjadi penulis tentu saja Sang Guru bisa menjawab segeralah menulis. Tapi Sang Guru berpikir bahwa bukanlah jawaban seperti itu yang tepat untuk diberikan kepada seorang yang baru mau belajar menulis.

 

“Belilah telur !” kata Sang guru.

 

“Beli telur? Apa hubungannya, Guru ?” tanya siswa itu bengong.

 

Belum sempat sang guru menjawab, murid yang satunya lagi bertanya.

 

“Tapi, apa yang harus saya lakukan agar saya bisa menulis terus seperti Pak Guru ?”

 

“Hm...kukira kau lebih maju dari temanmu ini. Aku sarankan kau supaya memelihara ayam !”

 

Murid ini pun bengong, lalu bertanya pula, “Memelihara ayam ? Apa hubungannya Guru ?”

 

Sang guru menyuruh kedua muridnya itu duduk behadap-hadapan . Di depannya sebuah meja segi empat  dan sang guru meletakkan dua buah spidol di atas meja yang baru saja ditariknya dari laci meja itu.

 

“Perhatikanlah, supaya kalian bisa lebih bijak memahami sebuah perumpamaan. Kalian tanya aku apa yang seharusnya dilakukan agar bisa cepat menjadi penulis, maka aku menjawabnya belilah telur. Telur adalah objek yang ingin cepat kalian capai, maka jika ingin cepat sampai ke objek maka belilah objek itu: belilah telur !” kata sang guru sambil memindahkan satu spidol ke sudut meja.

 

“Oh, kalau begitu maksud guru...supaya kami cepat memperoleh tulisan maka kami harus membeli tulisan ? Begitukah Guru !” kata murid mencoba-coba menerka jalan pikiran gurunya.

 

“Tidak begitu, tapi seperti itu !”

 

“Tapi...kalau kami membeli tulisan, berarti bukan kami yang menulisnya .” kata murid bingung.

 

“Betul. Banyak orang yang ingin cepat menjadi penulis dengan cara serperti itu. Bukankah sudah  banyak juga orang yang menyediakan jasa untuk menulis, ada jasa menulis skripsi, tesis, disertasi, ada jasa penulisan makalah dan karya ilmiah dan sebagainya. Bukalah google kau pasti akan menemukan biro-biro jasa seperti itu. Tak perlu repot-repot belajar menulis. Suatu waktu akan juga ada biro penulisan cerita pendek, puisi, prosa, puisi esai atau jenis tulisan apa saja dan kau boleh mengklaimnya sebagai milikmu tanpa ada yang keberatan karena semuanya sudah dibayar. Di sini tak berlaku undang-undang hak cipta, tak ada istilah plagiasi karena memang sudah disediakan untuk diplagiat. Lihatlah betapa banyaknya guru membuat karya tulis ilmiah yang disebutnya PTK itu lolos hanya dengan melalukan plagiasi. Bahkan ada syarat persentase plagiasi dengan nilai masing-masing, asal tidak melakukan plagiasi 100 %. Nah !” Jelas Sang Guru.

 

“Hmn, terus apa hubungannya dengan anjuran guru untuk memelihara ayam seperti yang dikatakan tadi ?” kata murid yang lain.

 

“Itu bukan untuk kalian, tapi untuk siswa yang ingin menulis secara kontinu, ingin menjadi penulis sungguh-sungguh, bukan penulis pura-pura.”

 

“Tapi kami ingin menjadi penulis sungguh-sungguh, Guru !” kata kedua muridnya.

 

“Kalau memang cita-cita kalian ingin menjadi penulis,”  kata sang Guru, “Maka tepatlah kalau kamu memelihara ayam !”

 

“Hubungannya, Guru ?”

 

“Kalian benar-benar murid goblok. Kalau telur sudah diumpamakan tulisan maka ayam adalah yang menentukan tulisan.”

 

“Maksud guru, penulis, begitu ?!”

 

“Kalian terlalu  mengonkretkannya. Yang menentukan nilai tulisan itu bukan penulis, tetapi pembaca. Penulis hanyalah jembatan seorang pembaca.” Jelas Sang Guru.

 

Kedua murid itu kembali jadi bengong. Tapi mereka tak berani lagi berpendapat agar mereka tak terdeteksi sebagai murid goblok. Mereka pun hati-hati bertanya.

 

“Jadi kami harus menjadi pembaca dulu sebelum membuat sebuah tulisan, begitu Guru ?”

 

“Nah, kali ini pendapat kalian benar. Untuk menjadi penulis jadilah kalian pembaca yang baik dulu. Dalam membaca kalian telah belajar menulis dari orang lain. Pelajari bagaimana tulisan yang kalian baca, timbalah ide-idenya, contohilah gaya bahasanya, dan simpanlah istilah-istilah dalam ingatan kalian. Kelak semuanya akan sangat berguna jika sampai gilirannya kalian harus menulis. Semakin banyak kalian membaca bacaan yang bagus semakin berkualitaslah tulisan kalian nantinya. Tidak perlu mungunggu harus jatuh cinta dulu untuk menulis sebuah tulisan yang bagus. Tapi bacalah banyak buku-buku yang bagus dan hindari membaca buku-buku sampah karena itu hanya akan menghabiskan usia kalian tanpa memberi kontribusi apa-apa. Nah kalian sudah mengerti rahasia ini kan? Inilah yang kusebut ayam menulis telur !” kata Sang Guru.

 

Kali ini sang murid benar-benar memahami.



Artikel Terkait

Mengeja Permainan Badaruddin Amir

Prolog suatu Siang Di Lobi Hotel Di Tahun 2019, Seorang Lelaki Tua Berkacamata Sedang Duduk Sendirian. Di Kepalanya Bertengger Topi Yang Kesannya Asal Dipakai. Lelaki Itu Sudah Saya Kenal...

Waktu Teman Paling Kekal

Waktu Teman Paling Kekaltak Ada Rumah Yang Ditujumelepas Sekilas Setumpuk Resahmengurai Rindu Yang Ditolak Harapansebelum Sempat Menjamah Wajah Yang Semakin Asingwaktu Teman Paling Kekalmenyuapku...

Autophile

Dua November 2019, Adalah Bukan Pertama Kalinya Aku Pergi, Dan Do Something Sendiri. Dekat Atau Jauh, Dan Apapun Aktivitasnya, Nyatanya Sendiri Terkadang Memang Lebih Banyak Memberi Arti. Salah...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul