ANALISA EFEK COVID-19 TERHADAP DIMENSI KEHIDUPAN MANUSIA

Picture by Silferius Hulu

Ditulis Oleh : Silferius Hulu - 09 Mei 2020

ANALISA EFEK COVID-19 TERHADAP DIMENSI KEHIDUPAN MANUSIA


Penulis: Silfeius Hulu, S. Fil.


Abstrak


Kecemasan dan ketakutan melanda manusia di awal tahun 2020. Hal ini disebabkan oleh hadirnya virus baru yang menyerang bagian penting dari organ tubuh manusia. Ia tidak hanya menyerang, namun juga mematikan. Ratusan ribu manusia telah terjangkit sengatannya. Puluhan ribu jiwa telah ditewaskannya. Ratusan negara telah menikmati keganasannya. Penularan dan penyebarannya sangat cepat. Nilai-nilai kearifan budaya global dan lokal yang dibangun oleh manusia selama ini menjadi kadaluarsa karena kehadirannya. Para pemimpin negara gonjang-ganjing dan dituntut berpikir ekstra menyelamatkan rakyatnya. Para tenaga medis pun mengalami kelelahan, bahkan menjadi korban paparan virus ini. Para pemimpin spiritual keagamaan juga telah melakukan berbagai devosi untuk mengakhiri wabah ini. Solidaritas dan kerja sama global, nasional, lokal hingga tiap individu sangat dibutuhkan untuk memutus rantai kebringasan Covid-19.

Abstract


The anxiety and fear hit humans in early 2020. Because the presence of a new virus that attacks an important part of the human body's organs. He not only attacks, but also deadly. Hundreds thousands peoples have been stung. Tens thousands souls have been killed. Hundreds countries have enjoyed the ferocity. Transmission and spread is very fast. The values of global and local cultural wisdom developed by humans so far have expired because of their presence. The leaders of the state broke down and were demanded to think extra to save their people. The medical staff also experienced fatigue, even victims of exposure to this virus. Religious spiritual leaders have also carried out various devotions to end this outbreak. The solidarity and cooperationality of global, national, local and even individual are urgently needed to break the chain of Covid-19's passion.


Kata-kata kunci: covid-19, manusia, WHO, negara, Agama


1.   Pendahuluan

1.1   Latar Belakang Masalah

Seperti telah kita ketahui pada awal tahun 2020, Covid-19 menjadi masalah kesehatan dunia. Kasus ini diawali dengan informasi dari Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) pada tanggal 31 Desember 2019 yang menyebutkan adanya kasus kluster pneumonia dengan etiologi yang tidak jelas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Kasus ini terus berkembang hingga adanya laporan kematian dan terjadi importasi di luar Cina. Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO menetapkan Covid-19 sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)/Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD). Pada tanggal 12 Februari 2020, WHO resmi menetapkan penyakit virus Corona pada manusia ini dengan sebutan Coronavirus Disease (Covid-19). Pada tanggal 2 Maret 2020 Indonesia telah melaporkan dua kasus konfirmasi Covid-19. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO sudah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi.

Virus Corona adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Diketahui ada dua jenis virus corona yang menyebabkan dan menimbulkan penyakit gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus penyebab Covid-19 ini dinamakan Sars-CoV-2. Virus corona adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS dari unta ke manusia. Adapun, hewan yang menjadi sumber penularan Covid-19 ini sampai saat ini masih belum diketahui.[1]

World Healt Organization (WHO) China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, pada tanggal 31 Desember 2019. Cina mengidentifikasi pneumonia yang tidak diketahui etiologinya tersebut sebagai jenis baru coronavirus (coronavirus disease, Covid-19) pada tanggal 7 Januari 2020. WHO telah menetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia/Public Health Emergency of International Concern (KKMMD/PHEIC) pada tanggal 30 Januari 2020. Penambahan jumlah kasus Covid-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran antar negara. Sampai pada tanggal 23 Maret 2020, secara global dilaporkan 338.724 kasus konfimasi di 192 negara, dengan rasio kematian 43,5%. Di antara kasus tersebut, sudah ada beberapa petugas kesehatan yang dilaporkan terinfeksi dan meninggal dunia.[2]


1.2   Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki empat tujuan. Pertama, untuk menemukan dan menganilisis perkembangan Covid-19 di dunia. Kedua, untuk memberikan informasi risiko Covid-19 dan sejauh mana sudah keterlibatan negara, agama dan masyarakat dalam kesiapsiagaan dan respon terhadap Covid-19. Ketiga, untuk memberikan panduan informasi praktis kepada setiap orang dan tiap keluarga menghadapi Covid-19 di Indonesia. Keempat, untuk menambah wawasan penulis dan para pembaca.


2.   Landasan Teori Analisis

2.1   Definisi Covid-19

Novel Coronavirus (Covidn-19) adalah jenis virus baru penyebab penyakit saluran pernafasan. Virus ini bermula dari Cina. Novel coronavirus merupakan salah satu keluarga dengan virus penyebab SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome).[3]

Tanda dan gejala umum infeksi Covid-19 antara lain gejala gangguan pernafasan akut seperti demam, batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, pneumonia ringan hingga berat. Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada kasus berat Covid-19 dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernafasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian. Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan pada sebagian besar kasus adalah demam ?38?C, kesulitan bernafas, dan hasil rontgen menunjukkan infiltrat pneumonia luas di kedua paru.[4]

Berdasarkan penelitian dan bukti ilmiah, Covid-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui sentuhan fisik dan cairan batuk/bersin. Orang yang paling berisiko tertular penyakit ini adalah orang yang kontak erat dengan pasien Covid-19 termasuk yang merawat pasien Covid-19. Rekomendasi standar untuk mencegah penyebaran infeksi adalah melalui cuci tangan secara teratur, menerapkan etika batuk dan bersin, menghindari kontak secara langsung dengan manusia, ternak, hewan liar dan menghindari kontak dekat dengan siapa pun yang menunjukkan gejala penyakit pernafasan seperti batuk dan bersin. Selain itu, menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) saat berada di fasilitas kesehatan terutama unit gawat darurat.[5]


2.2   Operasional Covid-19 di dalam Tubuh Manusia

Seorang dokter umum berkebangsaan Inggris bernama Dr. Clare Gerada memberi penjelasan bagaimana Covid-19 menyerang tubuh manusia dan mengapa virus ini membuat kondisi pasien menjadi sangat buruk hingga menelan korban jiwa. Berikut deskripsi cara kerja Covid-19 di dalam tubuh manusia.[6]

Pada dasarnya, virus adalah sepotong materi genetik yang tidak dapat melakukan banyak hal dengan sendirinya. Covid-19 sama seperti virus-virus lainnya membutuhkan inang, dalam kasus ini, yakni tubuh manusia sebagai area perkembangbiakan dan penyebarannya. Ia harus menyerang tubuh manusia agar ia dapat berkembang biak. Karena, tanpa tubuh manusia, virus ini akan mati. Virus dapat menggandakan dirinya apabila ia berhasil masuk ke dalam tubuh manusia.

Jalur penularan utama virus Corona adalah melalui cairan atau tetesan batuk/bersin. Seseorang yang terinfeksi Covid-19 akan mengalami batuk dan bersin yang mengeluarkan cairan mengandung virus. Virus tersebut akan masuk ke tubuh orang lain saat bernafas atau menyentuh di mana tetesan tersebut menempel. Selanjutnya, saat seseorang memegang wajah dengan tangan dan bernafas, ia pun akan terpapar virus ini.

Saat virus Corona telah masuk ke dalam tubuh, dengan cepat ia akan menuju belakang tenggorokan dan hidung orang tersebut. Lapisan hidung dan tenggorokan disebut sebagai mukosa. Di dalam lapisan hidung dan tenggorokan, virus berbentuk paku ini akan menempelkan dirinya sebelum ia mulai bekerja. Ketika mencapai bagian belakang hidung, virus ini akan mengambil alih sel-sel di lorong hidung. Ia akan masuk ke dalam dan memprogram ulang untuk berhenti melakukan pekerjaan apapun dan hanya fokus membuat lebih banyak virus. Setelah sel tersebut menghasilkan lebih banyak virus daripada kapasitasnya, virus pun akan meledak dan menempelkan diri ke sel-sel yang berdekatan. Kemudian menggunakannya sebagai tempat untuk reproduksi, dan siklus kembali berulang. Penghancuran sel-sel di hidung dan tenggorokan akan menyebabkan batuk kering dan sakit ternggorokan. Rasa sakit yang dirasakan adalah tanda bahwa sel berada dalam kesulitan dan sedang dihancurkan.

Tahap selanjutnya adalah demam. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh atau imun telah menyadari adanya benda asing di dalam tubuh. Bahan kimia yang disebut sebagai pirogen pun dilepaskan oleh sistem imun. Zat ini menginstruksikan otak untuk menaikkan suhu tubuh, menyebabkan seseorang mengalami demam tinggi, yaitu sekitar ?38?C. Demam membantu tubuh memicu bagian lain dari sistem kekebalan tubuh untuk mulai bekerja dan juga menciptakan lingkungan yang tidak menguntungkan atau berlawanan dengan virus. Ada pendapat yang mengatakan bahwa demam membantu melawan infeksi, tetapi karena demam merupakan penanda tidak sehat, seseoorang mencoba untuk menurunkannya dengan meminum obat penurun demam. Namun, gejala demam, batuk, maupun sakit tenggorokan adalah waktu di mana gejala berakhir di sebagian besar orang. Dalam waktu 5-7 hari, kekebalan tubuh akan memberikan respon secukupnya untuk menghancurkan virus dan orang tersebut pun akan pulih.

Apabila sistem imun seseorang tidak kuat, dengan cepat virus ini akan terus menyebar. Saat virus menggandakan diri dan menginfeksi lebih banyak sel di dalam tubuh, ia turun menuju ke paru-paru. Di sini, virus menyerang sel-sel di paru-paru. Kondisi ini membuat paru-paru kesulitan melakukan tugasnya mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Paru-paru pun akan bekerja lebih keras dan orang tersebut akan mengalami sesak nafas. Inilah yang menyebabkan virus Corona dikaitkan dengan kesulitan bernafas. Saat virus semakin banyak menyerang bagian paru-paru, maka akan terjadi peradangan. Ketika peradangan semakin meningkat itu berarti cairan dan nanah sudah banyak mengisi paru-paru, sehingga seseorang mengalami pneumonia. Selanjutnya, apabila paru-paru terus membengkak dan terisi dengan banyak cairan dan nanah dari virus ini, pasien membutuhkan ventilator (mesin yang berfungsi untuk menunjang dan membantu membantu pernafasan). Saat paru-paru tidak mau bekerja sekalipun dibantu oleh ventilator, pasien akan mengalami kematian.

Para peneliti di berbagai belahan dunia masih terus melakukan penelitian untuk menciptakan vaksin. Hingga sekarang, situasi wabah masih terus berkembang dan kajian tentang virus ini masih terus diperbarui. 


2.3   Kronologi Wabah Covid-19 di dunia

Temuan kasus penyakit akibat virus Corona telah menyebar ke berbagai belahan dunia. Penulis akan memaparkan kronologi penting wabah Covid-19 di dunia sebagaimana tertuang dalam tabel di bawah ini.[7]

Tabel I. Kronologi Covid-19 di dunia

Waktu dan Peristiwa

31 Desember 2019 : Cina mengirim peringatan ke WHO mengenai kemunculan sejumlah kasus pneumonia janggal di kota Wuhan.

23 Januari 2020 : Cina menutup Wuhan dan sejumlah kota di Provinsi Hubei.

11 Februari : WHO merilis nama SARS-CoV-2, virus yang memicu penyakit menular Covid-19.

26 Februari : Covid-19 menyebar ke 37 negara. Kasus wabah di Italia, Iran, dan Korea Selatan meningkat drastis.

2 Maret : Dua kasus perdana Covid-19 terkonfirmasi di Indonesia.

9 Maret : Pemerintah Italia melakukan menutup negara untuk dikarantina.

11 Maret : WHO mengumumkan status pandemi Covid-19. Ini adalah pandemi ketiga yang diumumkan WHO, setelah influenza pada 1918 dan H1N1 (flu babi) pada 2009.

12 Maret : Pemerintah Denmark menutup negaranya untuk proses karantina selama 14 hari. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membentuk Posko Tanggap Covid-19.

13 Maret : Pemerintah Indonesia membentuk Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Pemerintah DKI Jakarta menutup semua tempat wisata. Pemerintah Kota Solo menetapkan status Kejadian Luar Biasa Covid-19 serta menutup tempat publik dan sekolah, membatalkan semua acara, hingga berupaya memusnahkan kelelawar.

2.4   Beberapa Protokol yang Dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)/ Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD), atas pertimbangan peningkatan kasus yang signifikan dari negara-negara yang melaporkan kasus. Saat ini di Indonesia telah terdapat beberapa kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19. Pada tanggal 12 Maret 2020, Menteri Kesehatan RI Dr. Terawan Agus Putranto telah mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/104/2020 tentang Penetapan Infeksi Novel Coronavirus (Infeksi 2019-ncov) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulangannya. Covid-19 telah ditetapkan sebagai penyakit yang berpotensi mewabah di Indonesia, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah penanggulangan termasuk aspek komunikasi penanganannya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia mengeluarkan pernyataan, sebagaimana termuat dalam poin C, demikian: “Penyebaran Covid-19 semakin meluas dan menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa, kerugian harta benda, dampak psikologis pada masyarakat, serta mengancam dan menggangu kehidupan dan penghidupan masyarakat.” Menyikapi situasi keganasan virus Corona ini, BNPB menetapkan perpanjangan status keadaan darurat bencana wabah penyakit akibat virus Corona di Indonesia, terhitung sejak tanggal 29 Februari 2020 sampai dengan 29 Mei 2020.[8]

Kementerian Kesehatan telah menerbitkan beberapa protokol[9] penanganan Covid-19, antara lain: Protokol Komunikasi Publik, Protokol Kesehatan, Protokol di Area dan Transportasi Publik, Protokol di Area Institusi Pendidikan, Protokol di Pintu Masuk Wilayah Indonesia (Bandara dan Pelabuhan Nasional, PLBDN), Protokol dalam Lingkup Khusus Pemerintahan (VVIP), dan Protokol Isolasi Diri Sendiri.[10]


2.4.1  Protokol Komunikasi Publik

Protokol komunikasi publik menjelaskan beberapa hal terkait komunikasi penanganan Covid-19, sebagai respon atas berkembangnya angka pasien dan korban jiwa dari Covid-19 yang terindentifikasi pertama kali di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Dokumen ini memberikan petunjuk teknis untuk Indonesia yang akan membantu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menanggapi dan menyampaikan informasi tentang Covid-19 kepada masyarakat. Dokumen ini diperbarui sesuai dengan perkembangan informasi tentang Covid-19 di dunia. Protokol ini diadopsi dari beberapa protokol yang ada, khususnya yang dibuat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).[11]

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan empat pilar komunikasi publik terkait Covid-19, antara lain: a) himbauan kepada masyarakat agar tetap tenang dan waspada; b) koordinasi dengan instansi terkait; c) pemberian akses informasi ke media; d) melaksanakan gerakan cuci tangan pakai sabun (CTPS). Narasi utama dalam penyampaian komunikasi oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah kepada masyarakat adalah: “Pemerintah serius, siap dan mampu menangani Covid-19. Masyarakat tetap tenang dan waspada. Covid-19 bisa sembuh”.[12]

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi penanganan Covid-19, antara lain: a) Instalasi Kesehatan Tingkat Pertama; b) Rumah Sakit Rujukan; c) Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota/Kabupaten; d) Dinas Kominfo Provinsi dan Kota/Kabupaten; e) Kementerian Kesehatan RI; f) Kementerian Komunikasi dan lnformatika RI; g) Kantor Staf Presiden RI. Baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah bersama-sama menyusun dan menyebarkan produk komunikasi secara nasional dan spesifik sesuai dengan daerah masing-masing.[13]


2.4.2  Protokol Kesehatan

Kementerian Kesehatan RI membagi dalam dua klaster protokol ini, yakni untuk mereka yang merasa tidak sehat dan yang masih sehat. Untuk klaster pertama, kriteria tidak sehat menurut protokol ini memberi ciri-ciri, yakni demam >38°C dan batuk/pilek/nyeri tenggorokan. Mereka yang tidak sehat disarankan beristirahat di rumah dan meminum air yang cukup. Bila tetap merasa tidak nyaman, keluhan berlanjut, atau disertai dengan kesulitan bernafas (sesak atau nafas cepat), segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Pada saat berobat ke fasyankes, harus melakukan tindakan berikut: a) gunakan masker; b) apabila tidak memiliki masker, ikuti etika batuk/bersin yang benar dengan cara menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan atas bagian dalam; c) usahakan tidak menggunakan transportasi massal.[14]

Klaster kedua, bagi mereka yang sehat, namun memiliki riwayat perjalanan 14 hari yang lalu ke negara dengan transmisi lokal Covid-19, sangat disarankan melakukan self monitoring melalui pemeriksaan suhu tubuh 2 kali. Jika muncul demam >38°C atau gejala pernafasan seperti batuk/pilek/nyeri tenggorokan/sesak nafas segera memeriksakan diri ke fasyankes. Apabila, seseorang merasa pernah kontak dengan kasus konfirmasi Covid-19, disarankan agar segera melapor ke petugas kesehatan dan memeriksa diri ke fasyankes. Selanjutnya petugas kesehatan akan memeriksa spesimen Covid-19 dalam diri pasien.[15]


2.4.3  Protokol di Area dan Transportasi Publik[16]

Beberapa propotokol pencegahan penularan Covid-19 di area publik meliputi pusat perbelanjaan, terminal, pelabuhan, stasiun, bandara, dan tempat-tempat hiburan. Isi protokol tersebut, antara lain:

a.   Memastikan seluruh area publik bersih dengan cara melakukan pembersihan lantai, permukaan pegangan tangga/eskalator, tombol lift, pegangan pintu, mesin ATM, mesin kasir, alat pembayaran elektronik, metal detector, kaca etalase, area bermain anak, musholla, toilet dan fasilitas umum lainnya dengan desinfektan (cairan pembersih) secara berkala minimal 3 kali sehari.

b.   Menyediakan sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan air mengalir di toilet dan menyediakan hand sanitizer di setiap pintu masuk, lift, dan tempat lain yang mudah diakses.

c.   Tidak dianjurkan menyediakan dispenser di area yang banyak dilewati oleh pengunjung.

d.  Memasang pesan-pesan kesehatan (cara mencuci tangan yang benar dan etika batuk/bersin) di tempat-tempat strategis seperti di pintu masuk. Menginformasikan kepada pengunjung untuk menggunakan alat-alat ibadah pribadi.

e.   Lakukan pemeriksaan suhu tubuh di setiap titik pintu masuk dan amati kondisi umum pengunjung. Apabila terdapat pengunjung dengan suhu di atas 38°C, maka tidak diizinkan untuk memasuki area dan segera menghubungi petugas kesehatan. Apabila diamati ada pengunjung dengan gejala pilek, batuk, sesak nafas disarankan untuk segera menghubungi petugas kesehatan.

f.    Pengelola area publik harus berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat secara berkala.


2.4.4  Protokol di Area Institusi Pendidikan

Di sini akan dimuat dua protokol dalam bentuk tabel: satu yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan[17] dan satu lagi yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.[18]

Tabel II. Protokol di Area Institusi Pendidikan dari

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Menteri Kesehatan


1.   Dinas Pendidikan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk mengetahui rencana atau kesiapan daerah setempat dalam menghadapi Covid-19.

1.   Memastikan ketersediaan sarana untuk cuci tangan pakai sabun (CTPS), alat pembersih sekali pakai (tissue), dan/atau hand sanitizer di berbagai lokasi strategis di lingkungan unit kerja.

2.   Menyediakan sarana untuk cuci tangan menggunakan air dan sabun atau pencuci tangan berbasis alkohol di berbagai lokasi strategis di sekolah sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.

2.   Memastikan bahwa pegawai di lingkungan unit kerja Saudara untuk menggunakan sarana CTPS (minimal 20 detik) dan pembersih sekali pakai (tisu) serta berperilaku hidup bersih sehat (PHBS) lainnya.

3.   Menginstruksikan kepada warga sekolah melakukan cuci tangan menggunakan air dan sabun atau pencuci tangan berbasis alkohol, dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) lainnya seperti makan jajanan sehat, menggunakan jamban bersih dan sehat, olahraga yang teratur, tidak merokok, dan membuang sampah pada tempatnya.

3.   Memastikan unit kerja melakukan pembersihan ruangan dan lingkungannya secara rutin, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer, papan tik (keyboard dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan).

4.   Membersihkan ruangan dan lingkungan sekolah secara rutin (minimal 1 kali sehari) dengan desinfektan, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer, meja, keyboard dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan.

4.   Membatasi perjalanan dinas ke luar negeri serta menangguhkan perjalanan ke luar negeri untuk keperluan yang dapat ditunda terutama ke negara-negara terdampak Covid-19.

5.  Memonitor absensi (ketidakhadiran) warga sekolah. Jika diketahui tidak hadir karena sakit dengan gejala demam/batuk/ pilek/sakit tenggorokan/sesak nafas disarankan untuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk memeriksakan diri.

5.   Melakukan pemeriksaan suhu badan seluruh pegawai dan pengunjung serta pelaksanaannya tidak mengganggu kenyamanan dan ketertiban.

6.  Memberikan imbauan kepada warga sekolah yang sakit dengan gejala demam/ batuk/pilek/sakit tenggorokan/sesak nafas untuk mengisolasi diri dirumah dengan tidak banyak melakukan kontak.

6.   Mengingatkan pegawai untuk menghindari kontak fisik secara langsung seperti bersalaman, cium tangan, berpelukan, dan lain sebagainya.

7.   Jika terdapat ketidakhadiran dalam jumlah besar karena sakit yang berkaitan dengan pernafasan, Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan.

7.   Menyediakan papan pengumuman yang berisi informasi mengenai pencegahan Covid-19.

8. Pihak institusi pendidikan harus bisa melakukan skrining (pemantauan) awal terhadap warga pendidikan yang punya keluhan sakit, untuk selanjutnya diinformasikan dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

8.   Mengimbau kepada seluruh pegawai dan pengunjung yang sedang batuk atau pilek untuk menggunakan masker.

9.   Memastikan makanan yang disediakan di sekolah merupakan makanan yang sehat dan sudah dimasak sampai matang.

9.   Bagi seluruh pegawai diharapkan senantiasa melakukan klarifikasi terhadap semua informasi terkait Covid-19 yang diterima dan tidak menyebarluaskan informasi terkait Covid-19 dari sumber yang tidak kredibel/valid atau hoaks.

10.  Menghimbau seluruh warga sekolah untuk tidak berbagi makanan, minuman, termasuk peralatan makan, minum dan alat musik tiup yang akan meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit.

11.   Menginstruksikan kepada warga sekolah untuk menghindari kontak fisik langsung (bersalaman, cium tangan, berpelukan).

12.   Menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang atau kegiatan di lingkungan luar sekolah (seperti berkemah, studi, wisata, dan lain-lain).

13.   Melakukan skrining awal berupa pengukuran suhu tubuh terhadap semua tamu yang datang ke institusi pendidikan.

14.  Warga sekolah dan keluarga yang bepergian ke negara dengan transmisi lokal Covid-19 dan mempunyai gejala demam atau gejala pernafasan seperti batuk/pilek/sakit tenggorokan/sesak nafas diminta untuk tidak melakukan pengantaran, penjemputan, dan berada di area sekolah.

2.4.5  Protokol di Pintu Masuk Wilayah Indonesia (Bandara, Pelabuhan, PLBDN)

Isi protokol ini hampir sama dengan poin 2.4.3 di atas. Beberapa tambahan penting yang mau disoroti dalam protokol ini. Pertama, petugas bandara dan pelabuhan tidak melakukan stigmatisasi dan diskriminasi kepada pelaku perjalanan dari negara tertentu terkait Covid-19. Kedua, dalam melakukan proses wawancara, para petugas bertindak kooperatif menyampaikan pertanyaan, sedangkan para pengunjung secara jujur memberikan jawaban kepada para petugas dan mengikuti arahan sesuai dengan protokol penanganan Covid-19. Ketiga, para pengunjung mengikuti alur skrining Covid-19.[19]


2.4.6  Protokol dalam Lingkup Khusus Pemerintahan[20]

Dokumen ini memuat beberapa protokol dalam lingkup khusus pemerintahan, yakni:

a.   memastikan adanya pembersih tangan berbasis alkohol pada pintu masuk gedung dan wilayah umum.

b.   Memastikan setiap orang yang memasuki bangunan/lingkungan untuk mencuci tangan dengan pembersih tangan berbasis alkohol.

c.   Melakukan pembersihan dan disinfeksi wilayah umum minimal 3 kali sehari (terutama pada jam padat aktivitas), khususnya pada bagian-bagian yang sering disentuh, misalnya toilet, elevator, pegangan pintu, tempat air, dan sebagainya.

d.  Melakukan pemeriksaan temperatur pada orang dan pengunjung yang memasuki gedung.

e.   Menempatkan media komunikasi, informasi dan edukasi terkait upaya pencegahan Covid-19, termasuk cara mencuci tangan dan etika batuk/bersin yang benar pada wilayah umum, seperti toilet, lift, dan koridor.


2.4.7  Protokol Isolasi Diri Sendiri[21]

Tabel III. Isolasi Diri Sendiri


Himbauan dan Tindakan


1.   Jika sakit, tetap di rumah. Jangan pergi bekerja, ke sekolah, atau ke ruang publik untuk menghindari penularan Covid-19 ke orang lain di masyarakat.

2.   Isolasi diri sendiri:

a.   Tinggal di rumah, jangan pergi bekerja dan ke ruang publik.

b.   Gunakan kamar terpisah. Upayakan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari anggota keluarga.

c.   Gunakan selalu masker.

d.   Ukur suhu tubuh dan observasi gejala batuk atau sesak nafas.

e.   Terapkan perilaku sehat dan bersih.

f.    Berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi.

g.   Jaga kebersihan rumah dengan desinfektan (cairan pembersih).

h.   Hubungi petugas kesehatan jika sakit memburuk.

3.   Orang dalam pemantauan (ODP) adalah mereka yang tidak menujukkan gejala, tetapi pernah memiliki kontak erat dengan pasien positif Covid-19, riwayat dari negara atau area transmisi lokal virus ini.

a.   Lakukan observasi diri sendiri di rumah.

b.   Ukur suhu tubuh dan observasi gejala batuk atau sesak nafas.

c.   Jika gejala muncul, laporkan ke petugas kesehatan terdekat.

d.  Jika hasilnya positif, maka lakukan isolasi diri sendiri dan selanjutnya tempuh tindakan medis.

2.5   Tindakan Preventif-Kontradiktif  

2.5.1  Lockdown

Wabah Covid-19 yang semakin mengganas membuat sejumlah negara mengambil keputusan untuk melakukan lockdown. Negara-negara tersebut antara lain China, Italia, Spanyol, Prancis, Irlandia, El-Savador, Belgia, Polandia, Argentina, Belanda, Denmark, Malaysia, Filipina dan Libanon.[22] Lima belas negara ini telah menutup akses masuk ke negara mereka. Namun demikian, Presiden Indonesia lebih memilih social distancing measure sebagai langkah membendung Covid-19.

Para pakar kesehatan Indonesia telah menuliskan rekomendasi yang diterbitkan pada tanggal 14 Maret 2020, meminta pemerintah Indonesia segera melakukan lockdown nasional, untuk mengurangi potensi pandemik Covid-19 di Indonesia. Realisasi rekomendasi ini bertujuan untuk memperkecil peluang penularan. Salah satu alasan lockdown adalah hanya beberapa saja rumah sakit yang memiliki peralatan dan deteksi dini. Karena itu, mereka mendesak Presiden Joko Widodo untuk memberlakukan sistem lockdown karena potensi penularan penyakit Covid-19 ini semakin lama semakin meningkat. Akan tetapi, pemerintah memberikan dalih bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, mustahil bisa menerapkan lockdown.[23] Akibatnya pun langsung nyata di negara kita ini, angka pasien positif Covid-19 dan angka kematian karena Covid-19 semakin bertambah jumlahnya.

Presiden Jokowi, dalam akun facebooknya, menulis status demikian:

“Saya menerima pertanyaan, mengapa kita tidak mengambil kebijakan lockdown saat pandemik korona ini? Pemerintah juga telah mempelajari kebijakan setiap negara dalam menghadapi pandemi ini. Setiap negara memiliki karakter, budaya, dan tingkat kedisplinan yang berbeda-beda. Dengan pertimbangan karakter, budaya, dan kedisiplinan itulah, kita tidak memilih jalan lockdown. Di negara kita, yang paling tepat adalah physical distancing - meminta setiap warga menjaga jarak aman satu dengan yang lain. Kalau ‘jaga jarak’ ini bisa kita lakukan dengan disiplin, saya yakin bahwa kita akan bisa mencegah penyebaran Covid-19 ini. Soal kedisiplinan ini, terutama untuk mereka yang sudah diisolasi. Saya membaca berita, ada yang sudah diisolasi masih membantu tetangga yang mau hajatan, ada yang masih jalan untuk belanja handphone dan ke pasar. Begitu juga kalau dilakukan isolasi terbatas terhadap satu RW atau satu kelurahan, harus dilakukan dengan kedisiplinan yang kuat.”[24]

Mencermati status Presiden kita ini, terdapat kemungkinan bahwa Indonesia tidak akan memberlakukan sistem lockdown dalam mencegah pandemi Covid-19.

Keputusan Presiden Jokowi untuk tidak memberlakukan sistem lockdown di Indonesia mengacu pada kajian Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Undang-undang ini mengatur beberapa, antara lain tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, hak dan kewajiban, kedaruratan kesehatan masyarakat, penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan di pintu masuk, penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan di wilayah, dokumen karantina kesehatan, sumber daya kekarantinaan kesehatan, informasi kekarantinaan kesehatan, pembinaan dan pengawasan, penyidikan, dan ketentuan pidana. Di dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan tidak ditemukan adanya istilah lockdown, namun terdapat beberapa istilah antara lain karantina, isolasi, karantina rumah, karantina rumah sakit, karantina wilayah dan pembatasan sosial berskala besar.

Selanjutnya, apakah istilah lockdown ini masih relevan? Tentunya masih relevan. Mari kita mencermati tabel berikut:

Tabel IV. Definisi lockdown


Cambridge Dictionary

Lockdown is a situation in which people are not allowed to enter or leave a building or area freely because of an emergency; The Secret Service is imposing a virtual lockdown on the city. The school has been placed on lockdown this morning while authorities investigate a bomb threat.[25]


Merriam Webster

1. Lockdown is the confinement of prisoners to their cells for all or most of the day as a temporary security measure.

2. Lockdown is an emergency measure or condition in which people are temporarily prevented from entering or leaving a restricted area or building (such as a school) during a threat of danger.[26]


Wikipedia

A lockdown is an emergency protocol that usually prevents people or information from leaving an area. The protocol can usually only be initiated by someone in a position of authority. Lockdowns can also be used to protect people inside a facility or, for example, a computing system, from a threat or other external event. Of buildings, a drill lockdown usually means that doors leading outside are locked such that no person may enter or exit. A full lockdown usually means that people must stay where they are and may not enter or exit a building or rooms within said building. If people are in a hallway, they should go to the nearest safe, enclosed room.[27]

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, maka lockdown mengarah pada kondisi prosedur darurat dimana orang harus tetap di tempatnya dan tidak boleh masuk atau keluar dari gedung atau kamar di dalam bangunan tersebut. Contoh di Italia. Pemerintah disana melakukan pengawasan ketat di semua wilayah negara untuk mencegah penularan Covid-19.

Tindakan lockdown yang telah dilakukan oleh Italia adalah menutup semua toko, kecuali toko makanan dan apotek. Lockdown ini menyebabkan orang-orang yang sudah lanjut usia di seluruh negeri itu dipisahkan dari orang-orang yang mereka cintai. Italia telah menerapkan pembatasan drastis untuk mencegah penularan. Polisi juga menghentikan orang-orang berjalan di jalanan kecuali mereka memiliki urusan penting. Pemerintah Italia menghimbau dengan tegas agar para warganya membatasi kegiatannya. Mereka yang diizinkan keluar rumah dihimabu menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter. Penduduk yang melanggar aturan ini dikenakan denda, bahkan dipenjara beberapa bulan.

Beberapa kota di China, seperti pusat bisnis Wenzhou dan sekolah ditutup, dan warga diminta tetap tinggal di rumah mereka masing-masing. Di Kota Wuhan warga takut keluar rumah. Pemerintah setempat membantu pengurusan kebutuhan makanan sehari-hari warganya. Polisi melakukan penjagaan khusus jika ada warga yang ingin keluar dari rumah.

Persoalan lockdown (karanatina wilayah) di Indonesia dibahas dalam rapat para pakar kesehatan dengan staf khusus Jokowi dan Gugus Tugas Covid-19. Anggota Dewan Pakar Indonesia Strategic Institute Sidrotun Naim mengatakan semua pakar tak setuju dengan isolasi kota secara total. Kebijakan lockdown belum diputuskan karena lockdown berarti membatasi wilayah. Kebijakan itu memiliki implikasi ekonomi, sosial, dan keamanan. Pemerintah sepertinya sangat mempertimbangkan kondisi ekonomi terkait lockdown, dengan alasan di Indonesia banyak sekali pekerja upah harian. Forum ini menganjurkan modifikasi skema isolasi dengan menutup batas kota, namun tetap mengizinkan mobilitas warga untuk mengantar logistik dan mengakses fasilitasi kesehatan. Para pakar yang hadir dalam forum ini mendesak pemerintah mengadakan rapid test.[28]


2.5.2  Social Distancing

Social distancing adalah suatu tindakan menghindari kerumunan orang dan pertemuan besar. Kerumunan orang yang dimaksud adalah himpunan orang yang bergerak di lokasi pusat perbelanjaan, bioskop, stadion, tempat wisata, dan sebagainya. Acara-acara yang mengundang perhatian banyak orang harus dibatalkan. Ruang untuk berkumpul-kumpul harus dihindari, sekurang-kurangnya menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain. Tujuannya untuk memutus atau memperlambat penyebaran Covid-19.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam social distancing, yakni tetap tinggal di rumah dan bekerja dari rumah, menghentikan kegiatan tatap muka di sekolah/kampus dan beralih ke metode belajar online, bertemu orang lain melalui telepon atau video call, dan membatalkan atau menunda konferensi dan rapat. Aktivitas belajar, bekerja, dan beribadat dilakukan di rumah masing-masing.[29]


2.5.3  Isolasi Diri

Isolasi diri adalah tindakan pencegahan efektif dari seseorang untuk melindungi orang-orang di sekitarnya, seperti keluarganya dan temannya, agar tidak tertular Covid-19. Seseorang mengambil langkah-langkah sederhana dan masuk akal untuk menghindari kontak dekat dengan orang lain sebanyak mungkin. Ini merupakan saat yang menegangkan, tetapi mengambil tindakan ini akan membantunya melindungi keluarga dan orang lain dari penyakit menular Covid-19. Sebisa mungkin, tiap orang harus membatasi kontak dengan orang lain sekurang-kurangnya 1 meter. Tiap orang tidak boleh berbagi piring, gelas minuman, peralatan makan, handuk, bantal atau barang-barang lainnya dengan orang lain di rumahnya. Setelah menggunakan barang-barang ini, harus mencucinya dengan sabun dan air mengalir. Penghuni rumah tangga tidak perlu mengisolasi diri asalkan tindakan pencegahan ini diikuti.[30]

Isolasi diri berlaku bagi mereka yang menunjukkan gejala virus Corona, seperti batuk kering dan suhu tubuh tinggi. Mereka harus mengambil tindakan pencegahan ekstra. Mereka harus tinggal di rumah dan jika mungkin tidak meninggalkannya dengan alasan apa pun, selain berolahraga (tetap menjaga jarak dengan orang lain). Jika memungkinkan, mereka tidak boleh keluar bahkan untuk membeli makanan atau kebutuhan pokok sekalipun. Masa isolasi diri berlangsung selama 14 hari.[31]

3.   Refleksi Kritis

Pandemi Covid-19 belum selesai dan bahkan dari waktu ke waktu semakin meningkat jumlah korban keganasan virus ini. Cepatnya penularan dan penyebaran Covid-19 meneror ratusan negara. Para pemimpin bangsa-bangsa berjuang bersama melawan makhluk renik ini. Kerja sama internasional ini telah dilaksanakan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Darurat G-20 melalui konferensi daring, Kamis (26/3/2020). KTT G-20 adalah suatu forum bagi 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Kedua puluh anggota G-20, yakni Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Britania, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.[32]

Bapa Suci Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik di seluruh dunia, melakukan berbagai kegiatan spiritual dalam menghadapi pandemi Covid-19. Pada tanggal 8 Maret 2020, dalam doa Malaikat Tuhan (Angelus), Paus berdoa bagi mereka yang menderita epidemi virus Corona. Pada tanggal 11 Maret 2020, Paus memanjatkan doa kepada Perawan Maria, Salus Populi Romani (Penyelamat Rakyat Roma). Pada tanggal 20 Maret 2020, Penitensaria Apostolik mengeluarkan dekrit pemberian indulgensi penuh kepada umat beriman penderita Covid-19, petugas kesehatan, anggota keluarga dan semua orang yang dengan kapasitas apa pun, termasuk melalui doa, merawat para penderita virus Corona. Pada tanggal 25 Maret 2020, Paus mengajak seluruh umat beriman mendoakan Doa Bapa Kami. Pada tanggal 27 Maret 2020, Paus Fransiskus memimpin adorasi Sakramen Mahakudus dan memberikan Berkat Urbi et Orbi (berkat untuk Kota [Roma] dan Dunia) serta indulgensi penuh.[33]

Penulis akan memuat secara khusus bahan meditasi Paus Fransiskus pada tanggal 27 Maret 2020, yang saya lansir dari situs vaticannews.va dan mencoba menerjemahkannya.[34]


Berkat Urbi et Orbi dan Meditasi dari Bapa Suci Paus Fransiskus

 “Tuhan mengubah segalanya menjadi kebaikan kita”


Paus Fransiskus memberikan berkat luar biasa “Untuk Kota dan Dunia” pada hari Jumat, 27 Maret 2020, pukul 18.00 waktu Italia, untuk berdoa mengakhiri pandemi Covid-19. Biasanya berkat Urbi et Orbi hanya diberikan pada Hari Raya Natal dan Hari Raya Paskah. Berkat luar biasa ini diberikan mengingat gentingnya situasi global saat ini. Dalam meditasinya, Paus merenungkan kata-kata Yesus kepada para murid-Nya: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”


Bahan Meditasi Bapa Suci: Markus 4:35-41

Pada suatu hari, ketika hari sudah petang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak yang ada di sana lalu bertolak, dan membawa Yesus dalam perahu itu di mana Ia telah duduk; dan perahu-perahu lain pun menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat, dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau pun menjadi teduh sekali. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”


Teks Lengkap Meditasi Bapa Suci Paus Fransiskus

“Ketika hari sudah petang” (Mrk 4:35). Perikop Injil yang baru saja kita dengar dimulai seperti ini. Selama berminggu-minggu sekarang sudah malam. Kegelapan tebal telah berkumpul di alun-alun kita, jalan-jalan kita dan kota-kota kita; ia telah mengambil alih hidup kita, mengisi segala sesuatu dengan keheningan yang memekakkan telinga dan kekosongan yang menyusahkan, yang menghentikan segalanya saat itu berlalu; kita merasakannya di udara, kita memperhatikan gerakan mereka, pandangan mereka memberi mereka. Kita menemukan diri kita takut dan tersesat. Seperti para murid dalam Injil, kita terperangah oleh badai yang tak terduga dan bergejolak. Kita menyadari bahwa kita berada di perahu yang sama, kita semua rapuh dan kehilangan arah, tetapi pada saat yang sama dan penting diperlukan, kita semua dipanggil untuk mendayung bersama-sama, masing-masing dari kita membutuhkan penghiburan dari yang lain. Di kapal ini ... kita semua. Sama seperti para murid itu, yang berseru dengan nada kecemasan yang sama, mengatakan “Kita binasa” (ayat 38), jadi kita juga telah menyadari bahwa kita tidak dapat terus memikirkan diri kita sendiri, tetapi hanya melalui kebersamaan kita dapat melakukan ini. 

Kita mudah untuk mengenali diri kita sendiri dalam kisah ini. Yang lebih sulit untuk dipahami adalah sikap Yesus. Sementara para muridnya secara alami waspada dan putus asa, Dia berdiri di buritan, di bagian kapal yang tenggelam lebih dulu. Dan apa yang Dia lakukan? Meskipun terjadi badai, Dia tidur nyenyak, percaya pada Bapa; ini merupakan satu-satunya waktu dalam Injil kita melihat Yesus tertidur. Ketika Dia bangun, setelah menenangkan angin dan danau, Dia berpaling kepada para murid dengan suara mencela: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (ayat 40).

Mari kita mencoba mengerti. Dalam apakah kekurangan iman para murid, berbeda dengan kepercayaan Yesus? Mereka tidak berhenti percaya pada-Nya; bahkan, mereka memanggil-Nya. Tetapi kita melihat bagaimana mereka memanggilnya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (ayat 38). Apakah Engkau tidak peduli: para murid berpikir bahwa Yesus tidak menaruh perhatian kepada mereka, tidak peduli kepada mereka. Salah satu hal yang paling menyakitkan kita dan keluarga kita saat mendengar ungkapan: “Apakah engkau tidak peduli padaku?” Ini merupakan ungkapan yang melukai dan melepaskan badai di hati kita. Ungkapan yang sama ini akan menggerakkanYesus juga. Karena Dia, lebih dari siapa pun, peduli pada kita. Memang, begitu para murid memanggil-Nya, Dia menyelamatkan murid-murid-Nya dari keputusasaan mereka. 

Badai menyingkap kerapuhan kita dan mengungkap kepastian palsu dan berlebihan yang kita miliki dalam rutinitas, pekerjaan, kebiasaan, dan prioritas kita. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana kita membiarkan hal-hal yang membosankan, melemahkan, dan memperkuat hidup kita dan masyarakat kita menjadi tumpul dan lemah. Badai itu mengungkapkan semua gagasan kita yang sudah terstruktur sebelumnya dan mengabaikan makanan jiwa kita; segala upaya membius cara berpikir dan bertindak kita yang seharusnya “menyelamatkan” kita, tetapi sebaliknya terbukti tidak mampu menempatkan kita pada sumber hidup kita dan menjaga kenangan mereka yang telah berpulang. Kita menghilangkan antibodi yang kita butuhkan saat menghadapi kesulitan.

Dalam badai ini, stereotip-stereotip utama yang dengannya kita menyamarkan ego kita, yang akhirnya mengaburkan citra kita, telah menghilang, mengungkap sekali lagi bahwa kebersamaan merupakan hal tidak dapat kita hilangkan: kepemilikan kita sebagai saudara dan saudari.

“Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Sabda-Mu pada malam ini menyentak dan menyapa kami semua. Di dunia ini, cinta-Mu melebihi cinta kami, kami telah maju dengan sangat cepat, merasa kuat dan mampu melakukan apa saja. Serakah demi keuntungan, kami membiarkan diri kami terjebak dalam aneka hal, dan terpikat dengan tergesa-gesa. Kami tidak berhenti mencela Engkau, kami tidak terguncang oleh perang atau ketidakadilan di seluruh dunia, kami juga tidak mendengarkan seruan orang miskin dan planet yang kami sakiti. Kami terus melanjutkan, berpikir kami akan tetap sehat di dunia yang sakit. Sekarang kami berada di lautan badai, kami mohon kepada-Mu: “Bangun, Tuhan!” 

Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Tuhan, Engkau memanggil kami, memanggil kami untuk beriman. Kami yang tidak percaya ini, datang kepada-Mu dan percaya pada-Mu. Pada masa Prapaskah ini seruan-Mu bergema dengan mendesak: “Bertobatlah!”, “Kembalilah kepadaku dengan sepenuh hati” (Yoel 2:12). Engkau menyerukan kepada kami untuk menggunakan waktu pencobaan ini sebagai waktu untuk memilih. Ini bukan waktu penghakiman-Mu, tetapi penghakiman bagi kami: waktu untuk memilih apa yang penting dan apa yang berlalu, waktu untuk memisahkan apa yang perlu dari apa yang tidak penting. Ini adalah waktu untuk mengembalikan hidup kami ke jalan yang Tuhan kehendaki dan sesama. Kami dapat melihat begitu banyak sahabat teladan untuk perjalanan, yang, meskipun takut, telah bertindak dengan memberikan hidup mereka. Ini karena kekuatan Roh yang dicurahkan dan dibentuk melalui penyangkalan diri yang berani dan murah hati. Kehidupan dalam Rohlah yang dapat menebus, menghargai, dan menunjukkan bagaimana kehidupan kita bersama dijalin dan didukung oleh orang-orang biasa - yang sering dilupakan orang-orang - yang tidak muncul dalam berita utama surat kabar dan majalah, tetapi yang tanpa ragu-ragu pada saat ini menuliskan peristiwa-peristiwa yang menentukan zaman kita: dokter, perawat, pegawai supermarket, petugas kebersihan, pengasuh, penyedia transportasi, aparat penegak hukum dan undang-undang, sukarelawan, para gembala, para religius dan banyak lagi lainnya yang telah mengerti bahwa tidak seorang pun mencapai keselamatan dengan sendirinya. Dalam menghadapi begitu banyak penderitaan, di mana perkembangan otentik dari bangsa kita dinilai, kita mengalami doa agung Yesus: “Supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh 17:21). Betapa banyak orang yang menunjukkan kebesaran hati dan menawarkan harapan setiap hari, berhati-hati untuk tidak menyebarkan tetapi tanggung jawab bersama. Betapa banyak ayah, ibu, kakek nenek, dan guru yang menunjukkan kepada anak-anak kita, dalam tindakan sederhana setiap hari, bagaimana menghadapi dan menanggapi krisis dengan menyesuaikan rutinitas mereka, mengarahkan pandangan mereka dan membina doa. Betapa banyak yang berdoa, mempersembahkan dan menengahi untuk kebaikan semua. Doa dan pelayanan yang tulusmenjadi senjata kemenangan kita.    

Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Iman dimulai ketika kita menyadari bahwa kita membutuhkan keselamatan. Kita tidak hidup sendiri; mengandalkan diri sendiri adalah awal dari sebuah kehancuran: kita membutuhkan Tuhan, seperti navigator kuno yang membutuhkan bintang-bintang. Marilah kita mengundang Yesus ke dalam perahu kehidupan kita. Mari kita serahkan ketakutan kita kepada-Nya sehingga Dia bisa menaklukkan wabah ini. Seperti para murid, kita akan mengalami bahwa bersama Yesus kapal kita tidak akan karam. Karena ini adalah kekuatan Tuhan: beralih ke semua hal-hal baik yang kita alami, bahkan hal-hal buruk. Dia membawa ketenangan ke dalam badai hidup kita, karena bersama dengan Tuhan hidup kita tidak pernah mati. 

Tuhan bertanya kepada kita dan di tengah-tengah badai hidup kita, Dia mengundang kita untuk membangunkan kembali dan mempraktikkan solidaritas dan harapan yang mampu memberikan kekuatan, dukungan, dan makna pada masa-masa ini ketika segala sesuatu tampak menggelepar. Tuhan bangun untuk membangkitkan dan membangkitkan kembali iman Paskah kita. Kita memiliki jangkar: melalui salib-Nya kita telah diselamatkan. Kita memiliki kemudi: melalui salib-Nya kita telah ditebus. Kita memiliki harapan: melalui salib-Nya kita telah disembuhkan dan dipeluk sehingga tidak seorang pun dapat memisahkan kita dari kasih-Nya yang menebus. Di tengah keterasingan ketika kita menderita karena kurangnya kelembutan dan kesempatan untuk bertemu, dan kita mengalami kehilangan banyak hal, marilah kita sekali lagi mendengarkan sabda-Nya yang menyelamatkan kita: Dia bangkit dan hidup bersama kita. Melalui salib-Nya, Tuhan meminta kita untuk menemukan kembali kehidupan yang menanti kita, untuk memandang mereka yang memandang kita, untuk menguatkan, mengenali dan menumbuhkan rahmat yang hidup di dalam kita. Janganlah kita memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (lih. Yes 42:3) yang tidak pernah goyah, dan mari kita beri harapan untuk dinyalakan kembali. 

Merangkul salib-Nya berarti menemukan keberanian untuk merangkul semua kesulitan saat ini, meninggalkan sejenak keinginan kita untuk kekuasaan dan harta untuk memberikan ruang bagi kreativitas yang hanya Roh mampu menginspirasikannya. Itu berarti menemukan keberanian untuk menciptakan ruang di mana setiap orang dapat mengenali bahwa mereka dipanggil, dan menemukan bentuk-bentuk baru keramahan, persaudaraan dan solidaritas. Melalui salib-Nya kita telah diselamatkan untuk merangkul harapan dan membiarkan-Nya memperkuat dan mempertahankan semua langkah dan semua jalan yang mungkin untuk membantu kita melindungi diri kita sendiri dan orang lain. Merangkul Tuhan untuk merangkul harapan: itulah kekuatan iman, yang membebaskan kita dari rasa takut dan memberi kita harapan.

Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Saudara-saudariku yang terkasih, di tempat yang menceritakan tentang keteguhan iman Petrus ini, malam ini saya ingin mempercayakan kalian semua kepada Tuhan, melalui perantaraan Maria, keselamatan semua orang dan Bintang Lautan yang berangin. Dari barisan tiang ini yang merangkul Roma dan seluruh dunia, semoga berkat Tuhan turun atas kamu sebagai pelukan penghiburan. Tuhan, semoga Engkau memberkati dunia, memberikan kesehatan bagi tubuh kami dan menghibur hati kami. Engkau meminta kami untuk tidak takut. Namun iman kami lemah dan kami takut. Tetapi Engkau, Tuhan, tidak akan meninggalkan kami di bawah kekuasaan badai. Katakan lagi: “Jangan takut” (Mat 28:5). Dan kami, bersama-sama dengan Petrus, “membuang semua kecemasan kami kepada-Mu, karena Engkau peduli kepada kami” (lih. 1Ptr 5:7).


Pandemi Covid-19 menyerang dimensi kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Dalam aspek kesehatan, virus Corona telah menjangkiti jutaan manusia dan menewaskan ratusan ribu jiwa yang tak menghendaki kematian karena Covid-19, serta telah menyebar ke berbagai belahan dunia.[35] Dalam aspek ekonomi, wabah Corona telah menghantam perekonomian dunia, diperkirakan bisa mencapai US$ 2,4 triliun.[36] Dalam aspek psikis, virus Corona menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Perasaan primordial manusia, “takut bersentuhan”, menjadi tiran keseharian karena orang dan barang menjadi berbahaya. Yang intim dengan tangan kita, misalnya pegangan pintu, uang, tombol, layar ponsel, sekonyong-konyong menjadi ancaman. Bahkan tangan sendiri dapat menjadi suatu ancaman, “tangan dilarang memegang wajah dan hidung”. Ego menjadi egois. Dalam aspek sosio-religius, Covid-19 menyadarkan setiap orang bahwa segalanya merupakan konstruksi manusia. Tempat kerja, kampus, tempat ibadah, dan tempat kerumunan orang, ditangguhkan. Kota dan negara di-lockdown, karyawan dirumahkan, sekolah dan kampus ditutup sementara, tempat-tempat ibadah dikosongkan, jadwal pertemuan akbar dibatalkan. Perayaan-perayaan Suci keagamaan dilaksanakan secara live streaming melalui kanal youtube, facebook, Tv, dan radio. Dalam aspek metafisis, makhluk renik ini mengingatkan kerapuhan hidup manusia yang berakhir dengan kematian. Manusia tidak takut kematian yang bermakna, tetapi ia akan sulit menerima kematian karena virus Corona. Kematian sebagai karya murung dari kehendak buta yang menganiaya.[37]

Para pasien Covid-19 bukan hanya merasakan keterancaman keutuhan raganya, tetapi juga aneka dimensi kehidupan relasionalnya, intelektualnya, afektifnya dan spiritualnya. Mereka mengharapkan kepedulian dan perhatian kita bersama. Mereka membutuhkan perawatan, dukungan, dan cinta. Di samping setiap orang yang sakit, juga ada keluarga dan para tenaga medis, yang dengan sendirinya ikut menderita dan membutuhkan dukungan serta solidaritas dari kita.


4.   Relevansi

Luasnya wilayah yang terkena dampak dan jumlah korban yang semakin melonjak itulah yang membuat Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan penyebaran virus Corona baru sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat berskala internasional (public health emergency of international concern atau PHEIC pada tanggal 30 Januari 2020. Penetapan status PHEIC menunjukkan perlunya kerja sama dan solidaritas yang lebih kuat baik global maupun nasional untuk mengatasi Covid-19 ini.

Pandemi Covid-19 merupakan bagian ambivalensi kehidupan manusia. Ia meneror harapan hidup manusia untuk menikmati kebersamaan dengan yang lain. Slogan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” pada saat ini rasanya tidak relevan untuk diterapkan. Slogan yang relevan saat ini adalah “Bersatu kita mati, bercerai kita selamat”. Slogan terakhir ini ada benarnya, karena bertujuan untuk memutus penyebaran dan penularan virus Corona.

Pemerintah Indonesia harus transparan dalam menangani persoalan Covid-19. Jika memang ada rakyat Indonesia yang terjangkit, negara harus membuka data sebenarnya – berapa jumlah orang dalam pemantauan (ODP), berapa pasien dalam pengawasan (PDP), berapa pasien positif, di teritori mana virus ini dominan, dan bagaimana cara peneluran virus ini. Pemerintah perlu meningkatkan rasionalitas penanganan virus ini.

Tenaga medis telah berjibaku menangani para pasien Covid-19 dengan peralatan serba minim, sementara jumlah pasien terus melonjak naik. Mereka mengalami kelelahan, bahkan 6 dokter dilaporkan meninggal dunia akibat terpapar virus ini, satu diantaranya meninggal akibat kelelahan. Menyikapi situasi ini, pemerintah seharusnya menjamin ketersediaan alat pelindung diri untuk para dokter, perawat, dan petugas medis. Mereka peran kunci dan garda depan penyelamat para pasien Covid-19. “Di mana ada bahaya, di sana tumbuh juga kekuasaan untuk menyelamatkan”, kata penyair Jerman Friedrich Hlderlin.

Bapa Suci Paus Fransiskus dalam kapasitas spiritualnya juga telah mengajak dunia untuk berdoa bersamanya. Paus memohon kepada Allah agar mengakhiri pandemi Covid-19, menerima para arwah, menguatkan para dokter, perawat, tim medis dan para peneliti.

Hingga selesai penulisan artikel ini, pada tanggal 5 Mei 2020, kasus positif Covid-19 secara global mencapai angka 3.673.221, dengan angka kematian 253.391, angka kesembuhan 1.211.216.[38] Di Indonesia sendiri kasus positif Covid-19 mencapai angka 12.071, dengan angka kematian 872, dan angka kesembuhan 872.[39] Angka kasus Covid-19 ini akan masih terus bertambah.

Covid-19 ini bukanlah masalah sepele. Ini masalah hidup dan mati. Karena itu, dihimbau agar masyarakat tidak menganggap remeh virus ini. Jangan semaunya sendiri. Ini masalah kita bersama yang harus kita selesaikan juga dengan kebersamaan. Ikuti aturan pemerintah. Anda berdiam di rumah, kita semua sehat. TINGGAL DI RUMAH !!!. Yang ada di kota jangan pergi ke desa. Karena Anda rawan terpapar virus selama dalam perjalanan. Jadi, yang ada di kota tetaplah berada dan tinggal di kota. Jangan ke kampung! Sekali lagi, TINGGAL DI RUMAH !!! Atau Anda nekat, kita semua terancam tidak selamat. Jalan terbaik yang dapat kita lakukan sekarang adalah memutus penyebaran virus ini.



Daftar Pustaka


Sumber Buku:

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia. Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia Nomor 13.A Tahun 2020. Jakarta: Direktorat BNPB.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19). Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020.

---------. Panduan Pencegahan Penularan Covid-19 di Tempat dan Fasilitas Umum. Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan, 2020.


Sumber Surat:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Surat Edaran Nomor HK.02.01/Menkes/199/2020 tentang Komunikasi Penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020.

---------. Surat Edaran Nomor HK.02.01/Menkes/202/2020 tentang Protokol Isolasi Diri Sendiri Penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Corona virus Disease (Covid-19) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Direktorat Mendikbud, Maret 2020.


Sumber Majalah dan Koran:

Tempo. “Bahaya Ekonomi di Masa Pandemi”, dalam Tempo, Edisi 23-29 Maret 2020 (Jakarta: PT. Tempo Inti Media Tbk., 2020), hlm. 27.

--------. “Garda Depan Minus Senjata” dalam Tempo, Edisi 23-29 Maret 2020 (Jakarta: PT. Tempo Inti Media Tbk, 2020), hlm. 32, 40.

--------. “Pagebluk”, dalam Tempo, Edisi 16-22 Maret 2020 (Jakarta: PT. Tempo Inti Media, 2020), hlm. 40.

Kompas. “RI Serukan G-20 Jadi Motor Solidaritas Global”, dalam Kompas (Jakarta), Jumat, 27 Maret 2020, hlm. 1, klm. 1-2.

F. Budi Hardiman, “Melalui Pandemi Covid-19”, dalam Kompas (Jakarta), Jumat, 27 Maret 2020, hlm. 6.


Sumber Internet:

https://www.alinea.id/nasional/seruan-lockdown-untuk-kurangipandemik-covid-19-makin-besar, diakses pada tanggal 19 Maret 2020.

https://www.worldometers.info/coronavirus/, diakses pada tanggal 23 Maret 2020.

https://www.who.int/health-topics/coronavirus, diakses pada tanggal 23 Maret 2020.

https://www.setneg.go.id/baca/index/protokol, diakses pada tanggal 24 Maret 2020.

https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/25/203000465/catatan-seorang-dokter perjalanan-infeksi-virus-corona-di-tubuh-manusia, diakses pada tanggal 25 Maret 2020.

https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/22/183000465/update-berikut-15-negara-yangberlakukan-lockdown-akibat-virus-corona, diakses pada tanggal 25 Maret 2020.

https://tirto.id/eFr9, diakses pada tanggal 27 Maret 2020.

https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2020-03/urbi-et-orbi-pope-coronavirus-prayer-blessing.html, diakses pada tanggal 27 Maret 2020.

https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/lockdown?q=Lockdown+, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

https://www.merriam-webster.com/dictionary/lockdown, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

https://en.wikipedia.org/wiki/Lockdown, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

https://penakatolik.com/category/vatikan/, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

https://www.health.govt.nz/our-work/diseases-and-conditions/covid-19-novel-coronavirus/covid-19-, diakses pada tanggal 29 Maret 2020.

https://www.bbc.com/news/uk-51506729, diakses pada tanggal 29 Maret 2020.

https://www.worldometers.info/coronavirus/, diakses pada tanggal 5 Mei 2020.

https://www.kemkes.go.id/, diakses pada tanggal 5 Mei 2020.


[1] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) (Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maret 2020), hlm. 11.

[2] https://www.worldometers.info/coronavirus/, diakses pada tanggal 23 Maret 2020.

[3] https://www.who.int/health-topics/coronavirus, diakses pada tanggal 23 Maret 2020.

[4] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Pencegahan …, hlm. 14.

[5] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Pencegahan …, hlm. 12.

[6]https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/25/203000465/catatan-seorang-dokter-perjalanan-infeksi-virus-corona-di-tubuh-manusia, diakses pada tanggal 25 Maret 2020.

[7] Tempo, “Pagebluk”, dalam Tempo, Edisi 16-22 Maret 2020 (Jakarta: PT. Tempo Inti Media, 2020), hlm. 40.

[8] Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia, Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia Nomor 13.A Tahun 2020 (Jakarta: Direktorat BNPB), hlm. 1-2.

[9] Menurut Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, protokol adalah serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang meliputi aturan mengenai tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang sesuai dengan jabatan dan/atau kedudukannya dalam negara, pemerintah, atau masyarakat [https://www.setneg.go.id/baca/index/protokol, diakses pada tanggal 24 Maret 2020.]

[10] Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor HK.02.01/Menkes/199/2020 tentang Komunikasi Penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) (Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020), hlm. 1.

[11] Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor HK.02.01 Menkes/199/2020 …, hlm. 4.

[12] Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor Hk.02.01 Menkes/199/2020 …, hlm. 5.

[13] Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor Hk.02.01 Menkes/199/2020 …, hlm. 7.

[14] Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor Hk.02.01 Menkes/199/2020 …, hlm. 11.

[15] Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor Hk.02.01 Menkes/199/2020 …, hlm. 12.

[16] Kementerian Kesehatan RI, Panduan Pencegahan Penularan Covid-19 di Tempat dan Fasilitas Umum (Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan, 2020), hlm. 2.

[17] Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor Hk.02.01 Menkes/199/2020 …, hlm. 15-16.

[18] Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Corona virus Disease (Covid-19) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta: Direktorat Mendikbud, Maret 2020), hlm 1.

[19] Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor Hk.02.01 Menkes/199/2020 …, hlm. 29-30.

[20] Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor Hk.02.01 Menkes/199/2020 …, hlm. 24.

[21]Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Nomor HK.02.01/Menkes/202/2020 tentang Protokol Isolasi Diri Sendiri Penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) (Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020), hlm. 2-3.

    [22] https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/22/183000465/update-berikut-15-negara-yangberlakukan-lockdown-akibat-virus-corona, diakses pada tanggal 25 Maret 2020.

[23] https://www.alinea.id/nasional/seruan-lockdown-untuk-kurangipandemik-covid-19-makin-besar, diakses pada tanggal 19 Maret 2020.

[24] Diposting Selasa, 24 Maret 2020, Pukul 17.07 WIB.

[25] https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/lockdown?q=Lockdown+, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

[26] https://www.merriam-webster.com/dictionary/lockdown, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

[27] https://en.wikipedia.org/wiki/Lockdown, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

[28] Tempo, “Garda Depan Minus Senjata” dalam Tempo, Edisi 23-29 Maret 2020 (Jakarta: PT. Tempo Inti Media Tbk, 2020), hlm. 32, 40.

[29] https://tirto.id/eFr9, diakses pada tanggal 27 Maret 2020.

[30] https://www.health.govt.nz/our-work/diseases-and-conditions/covid-19-novel-coronavirus/covid-19-novel-coronavirus-health-advice-general-public/covid-19-self-isolation-close-contacts-and-travellers#001, diakses pada tanggal 29 Maret 2020.

[31] https://www.bbc.com/news/uk-51506729, diakses pada tanggal 29 Maret 2020.

[32] Kompas, “RI Serukan G-20 Jadi Motor Solidaritas Global”, dalam Kompas (Jakarta), Jumat, 27 Maret 2020, hlm. 1, klm. 1-2.

[33] https://penakatolik.com/category/vatikan/, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

               [34]https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2020-03/urbi-et-orbi-pope-coronavirus-prayer-blessing.html, diakses pada tanggal 27 Maret 2020.

[35] https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019, diakses pada tanggal 28 Maret 2020.

[36] Tempo, “Bahaya Ekonomi di Masa Pandemi”, dalam Tempo, Edisi 23-29 Maret 2020 (Jakarta: PT. Tempo Inti Media Tbk., 2020), hlm. 27.

[37] F. Budi Hardiman, “Melalui Pandemi Covid-19”, dalam Kompas (Jakarta), Jumat, 27 Maret 2020, hlm. 6.

[38] https://www.worldometers.info/coronavirus/, diakses pada tanggal 5 Mei 2020.

[39] https://www.kemkes.go.id/, diakses pada tanggal 5 Mei 2020.



Artikel Terkait

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat...

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat Berliterasioleh : Halisa (pegiat Literasi Rbi Tonyaman) payung Rumah Baca Inspirasi Akhirnya Terpasang, Tepat Di Hari Kamis 22 Oktober 2020....

Jarak Aman Dalam Menerapkan Physical Distancing

Sars-cov-2 Atau Yang Biasa Kita Sebut Covid-19, Merupakan Wabah Besar Yang Terjadi Di Lebih Dari 190 Negara Di Dunia. Virus Ini Diindikasikan Menyebar Paling Banyak Melalui Respiratory Droplets...

Hayluz, Taman Baca Yang Mapan?

Kawan-kawan Dan Pengunjung Yang Mengetahui Taman Baca Hayluz Sejak Awal Tentu Saja Mengerti Bagaimana Kami Memulai Dan Mengusahakan Perkambangan Tbh. Mulai Dari Koleksi Bacaan Hingga Pelbagai...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul