Allah Mahaesa: Sebuah Refleksi Iman

Picture by Silferius Hulu

Ditulis Oleh : Silferius Hulu - 22 Juni 2020

Sebuah humor rohani…


"Mengapa 10 perintah Allah diberikan kepada bangsa Israel?” Konon, 10 Perintah Allah itu sebenarnya bukan untuk orang Israel, melainkan untuk bangsa-bangsa lain. Tapi justru bangsa lain yang ditawarkan malah menolaknya. Begini kisahnya...


Malaikat pergi ke Amerika…

Malaikat: “Hei kamu orang Amerika, mau perintah Allah nggak?”

Orang Amerika: “Apa isinya?”

Malaikat: “Jangan membunuh!”

Orang Amerika: “Sori yach, kami ini mafia, membunuh adalah kegiatan kami.”

Lalu malaikat itu terbang ke Rusia.

Malaikat: “Hei kamu orang Rusia, mau perintah Allah nggak?”

Orang Rusia: “Apa Isinya?”

Malaikat: “Sembahlah TUHAN, Allahmu!”

Orang Rusia: “Sori yach, kami ini atheis. Nggak percaya sama Tuhan!”

Lalu malaikat itu terbang ke Cina.

Malaikat: “Hei kamu orang Cina, mau perintah Allah nggak?”

Orang Cina: “Apa isinya?”

Malaikat: “Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu!”

Orang Cina: “Sori yach, kami ini pedagang, jadi mesti menipu supaya dapat untung.”

Dan malaikat mampir ke Indonesia.

Malaikat: “Hei kamu orang Indonesia, mau perintah Allah nggak?”

Orang Indonesia: “Apa isinya?”

Malaikat: “Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.”

Orang Indonesia: “Sori yach, kami ini kebanyakan koruptor, jadi mesti merampas harta orang lain.”

Akhirnya si Malaikat tadi mulai bingung, siapakah bangsa yang hendak menerima perintah Allah.

Ia pun terbang ke Israel yang terkenal bandel dan pelit! Pikirnya, siapa tahu mereka mau.

Malaikat tiba di Israel.

Malaikat: “Hei kamu orang Israel, mau perintah Allah nggak?”

Orang Israel: “Mmmh...bayar nggak?”

Malaikat: “Gratis!”

Orang Israel: “OK deh, kami minta SEPULUH...!!!


Saudara/i yang terkasih...


Dalam kisah tadi diceritakan bahwa Allah menyatakan diriNya kepada manusia melalui kesepuluh perintahNya. Dalam Perjanjian Lama dikisahkan bahwa Musa berjuang untuk memperkenalkan Allah dan kebaikanNya kepada umat Israel. Nabi Musa, ia mewakili bangsa Israel, berseru kepada Tuhan demikian: “Tuhan adalah Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya!” Ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami. Sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami. Ambillah kami menjadi milik-Mu.” Kita ketahui bersama dalam PL bahwa karya pewartaan para nabi tidak juga menghantar bangsa Israel pada kesetiaan kepada Allah.


Allah dalam ketersembunyianNya berinisiatif menyatakan diriNya demi keselamatan seluruh umat manusia. Dia yang adalah Allah penyayang dan pengasih merancang apa yang perlu untuk menyelamatkan manusia sebagai mahkota ciptaanNya. Dia menyatakan diriNya dalam wujud manusia, dengan mengutus PuteraNya ke dalam dunia, sehingga manusia dapat mengenalNya.


Dasar obyektif, eksplisit dan pasti tentang ajaran Trinitas dalam PL dan PB tidak dapat ditemukan. Namun, bibit tentang konsep Trinitas tampak melalui pewahyuan kodrat Allah sebagai cinta. Karena itu juga, konsep Trinitas bukanlah hasil olahan pemikiran filosofis dan teologis. Iman akan Trinitas lahir dari kenyataan historis. Manusia diajak untuk masuk ke dalam persekutuan Trinitas.


Kodrat Allah adalah cinta. Cinta hanya menjadi cinta bila ia dinyatakan dalam tindakan. Cinta Allah tidak tinggal dalam kata, melainkan dalam pemberian. Pemberian itu yakni melalui pribadi. Cinta itu harus menerima daging. Ada kasih dan pelayanan. Di dalam cinta terdapat kehendak Allah, supaya manusia hidup dalam cinta. Cinta Allah ini menggerakkan daya hidup manusia untuk hidup dalam kehendak Allah, itulah Roh Kudus. Tiada daya yang paling agung selain cinta.

Kita ketahui juga bahwa terdapat banyak perdebatan mengenai Trinitas ini. Mulai dari Gnotisisme, Modalisme, Triteisme, Yudaisme post-biblis, menolak bahwa Allah yang kudus itu tidak mungkin menjadi manusia (profan).


Selanjutnya, terdapat juga berbagai konsep Allah Tritunggal pada abad kedua yang digagas oleh beberapa aliran seperti Subordinarisme, Monarkisme (dinamis dan modalis), dan Doketisme. Aliran-aliran ini mempertanyakan ke-Allah-an Yesus dan Roh Kudus serta kebersatuaanNya masing-masing dengan Allah Bapa. Istilah prosopon (topeng, masker) menjadi konsep dominan mereka. Inti perdebatan adalah ousia (kesatuan hakikat) dan hypostasis (keunikan dari masing-masing pribadi).


Para Bapa Gereja juga merefleksikan konsep Trinitas secara kompleks dan variatif. Namun, selalu saja terasa tidak cukup mewakili siapa sebenarnya Allah Tritunggal.

Inilah kendala manusia dalam membicarakan Allah, yaitu keterbatasan manusia dan ketakterbatasan Allah. Akan tetapi, meskipun sesuatu yang terbatas tidak bisa memahami yang tak terbatas, tetapi yang tak terbatas bisa memahami yang terbatas.


Beberapa alasan yang membantu pencarian kita, mengapa kita membicarakan dan memikirkan Allah. Pertama, kita harus menghindari gambaran dan bayangan akan Allah yang salah, supaya kita tidak jatuh dalam praktek penyembahan berhala. Kedua, kita juga perlu membantu sesama dalam pergumulan mereka mencari Tuhan dalam hidupnya. Ketiga, kita harus mewartakan keagungan dan kebaikan Allah yang tak terbatas itu dengan cara memuji dan memuliakanNya serta merasakan kehadiranNya dalam hidup.

Allah adalah Sabda. Di dalam Sabda itu terungkap CintaNya. Sabda Cinta Allah itu hadir dalam realitas sejarah hidup manusia melalui peristiwa Inkarnasi: Sabda menjadi daging. Dia yang adalah Allah yang tersembunyi, kini menjadi manusia dan hadir dalam sejarah kemanusiaan. Dia turut merasakan pengalaman manusia. Dia hadir mewartakan Kerajaan Allah, yakni kerajaan cinta. Di dalam Cinta terdapat kehendak, yakni Roh Kudus, Roh yang keluar dari Bapa dan Putera. Roh Kudus diutus agar menjadikan baru seluruh muka bumi. Memahami Trinitas tidak cukup pada tataran intelektual belaka, tetapi juga harus menyentuh kedalaman batin kita.


Perkataan kita merupakan ungkapan atau wujud dari siapa kita. Kata-kata yang keluar dari mulut kita, itulah yang mengungkapkan diri kita yang sesungguhnya. Di dalam perkataanku di sana termuat kehendakku dan kekuatanku.

Imajinasikan konsep Allah Tritunggal bukan dengan konsep Petrus, Yakobus, Yohanes, melainkan dengan konsep diriku, kata-kataku, dan kehendakku.


Kita adalah insan pencinta yang Allah ciptakan, supaya kita dapat menjadi perpanjangan tanganNya untuk menghadirkan Allah yang Mahabaik itu kepada sesama.

Karya penciptaan, keselamatan dan pembaharuan adalah karya Allah Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin.



Artikel Terkait

Menyiapkan Peta Jalan Pulang

Prolog saya, Dan, Mungkin Juga Anda, Sudah Pernah Mendengar Kisah Tentang Orang Tua Di Desa Yang Banting Tulang Demi Menjaga Dan Memberi Jaminan Agar Bekal Biaya Anaknya Yang Bersekolah Di...

Refleksi Filosofis Atas Diri Manusia

Refleksi Filosofis Atas Diri Manusiapenulis: Silferius Hulu, S. Fil Dalam Diri Manusia Terkandung Potensi-potensi Kejiwaan (spiritual) Yang Sangat Menentukan Bagi Esensi (diri) Dan Eksistensi...

Ayam Menulis Telur

Oleh Badaruddin Amir  di Sebuah Sekolah Menulis Suatu Pagi, Dua Orang Siswa Mendekati Gurunya. Mereka Merasa Telah Lama Menjadi Siswa Namun Harapannya Untuk Segera Menjadi Penulis Belum...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul