Ada Uang Ada Nilai

Picture by Zainal Abidin

Ditulis Oleh : Zainal Abidin - 30 Juni 2020

Bersyukurlah orang yang punya tabungan di bank atau simpanan di Koperasi. Termasuk anda yang masih menyimpan lembaran rupiah di bawah bantal dan kasur. Alat pembayaran ini sangat dibutuhkan saat pandemi wabah Covid-19. Tak usah pikirkan dulu perdebatan elite di pusat soal penting tidaknya mencetak uang. Soal ini, Bank Indonesia paling takut membahasnya. Intinya, negara kita tak sedang baik-baik saja.


Kembali ke tabungan. Lirik lagu anak-anak ini paling digemari pengelola perbankan. Isinya ajakan untuk menabung.

"..bank yuk kita ke Bank

bang bing bung yo kita nabung

tang ting tung yo jangan dihitung

tau tau nanti kita dapat untung...."


Kalau Bank ada acara yang melibatkan anak-anak, lirik lagu tersebut selalu dinyanyikan. Saya belum menemukan lirik lagu ajakan ke Koperasi. Jadi maaf, belum bisa saya share kali ini.


Berapa banyak diantara kita yang saat ini masih memiliki simpanan yang cukup, sebagai bekal melewati babak demi babak Covid-19. Mungkin ada yang sudah seret mendekati sekarat, atau bisa jadi telah mendatangi gedung Pegadaian untuk menggadaikan kendaraan dan emas. Jangan-jangan cincin kawin juga sudah ditukar uang. Covid-19 yang melintas ke bulan Ramadan memang berat ujiannya. Semua pekerjaan mesti dilakukan di rumah, dan itu belum tentu mendatangkan duit. Bukankah kita harus melangkah ke luar rumah menjemput rezeki?. Jika hanya di rumah terus, dari mana umat muslim yang berpuasa Ramadan mendapatkan uang membeli makanan dan minuman untuk buka puasa?.


ASN yang gajinya sudah habis di hari sebelumnya, tentu akan menarik dana cadangan yang ada di tabungan. Pun jika masih ada. Ujiannya di sini. Saya tak usah bahas tenaga honorer dan korban PHK. Perihnya pasti luar dalam. Uang yang di tabungan, di bawah bantal atau di celengan yang terbuat dari tanah liat sekalipun sebenarnya bukanlah kekayaan. Uang hanya alat yang digunakan membeli ini dan itu. Kekayaan itu adalah nilai yang kita ciptakan saat memiliki uang. Misal saya punya uang lalu membeli Smartphone. Telepon pintar ini saya gunakan untuk promosi dan menjual barang dan jasa secara online. Jika barangnya laku maka itulah nilai yang dihasilkan dari smartphone yang saya beli. Bukan justru membeli smartphone lalu menggunakannya untuk menyebar kabar bohong. Ada nilai yang dihasilkan, tapi nilai yang meresahkan.


Meski bukan kekayaan, uang sangat penting sebagai alat transaksi. Namun sejak Ramadan ke-14 saya gelisah soal berita yang mengabarkan negara kita sedang sekarat. Negara tak punya uang, bahkan untuk membiayai penanganan Covid-19 sekalipun. Jika tak ada lembaga donor, maka solusinya BI diminta mencetak --ini usul salah seorang anggota DPR yang bakal sulit (mungkin) diamini BI.


"Semua ekonom sangat memahami alasan BI menolak mencetak uang. Rupiah bisa anjlok tidak bernilai. Lembar Rp100 ribu bisa-bisa buat beli tempe saja kurang,” ini pernyataan Ekonom INDEF, Dradjad Wibowo. Saya mengutipnya dari laman daring Republika edisi Kamis, 7 Mei 2020.


Saya lalu berpikir, kenapa tidak kita kembali ke zaman BARTER, di mana barang ditukar dengan barang, jasa ditukar dengan jasa. Itu jika memang uang akan sulit lagi ditemukan di dalam dompet dan buku tabungan. Bukankah Barter dulu sukses dilakukan orang-orang dari suku Mesopotamia 6000 SM? bahkan konon saat ini Suku Baduy masih melakoninya.


Sistem Barter memang banyak kekurangan, utamanya jika barang yang mau dipertukarkan tak sesuai atau tidak tersedia. Namun tak ada salahnya mencoba, minimal dalam lingkup tetangga. Bisa jadi tips ini efektif mencegah isteri saya, dan mungkin isteri anda di rumah mem-posting status di berandanya: "Saya di rumah saja, tapi uang saya keluar rumah terus".

Saya punya senyum untuk dibarter. Anda punya apa?.



John Doe
Zainal Abidin
"Malilu Sipakainge' Mali SiparappE" (Bugis) "Yang lupa diri diingatkan, yang hanyut diselamatkan"

Artikel Terkait

Cerita 10 Rumah Aman Di Desa Kami

Kebetulan Komunitas Compok Litetasi Dipercaya Untuk Menjalakan Program #10rumahaman, Program Kerjasama Kemenkominfo , Ksp & @pustakabergerak.id Dengan Tujuan Utama memberi Rasa Aman...

Belajar Tauhid Dari Corona

Menyebarnya Virus Corona Atau Covid-19 Ke Penjuru Negeri, Telah Membuat Manusia Heboh Oleh Berita Atau Opini Yang Tersebar Di Tengah Masyarakat, Khususnya Di Jagat Maya.dampaknya Adalah Rasa...

Virus Corona Dan Khawatiran Publik

Virus Corona Yang Masuk Ke Tanah Air, Membuat Publik Begitu Khawatir. Sejatinya, Khawatiran Akan Hal Itu Bersifat Wajar. Namun Menjadi Tidak Elok Jika Diiringi Dengan Sikap Berlebih. Sikap Ini...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul