Rumah Baca Api Literasi Menjadi Sudut Baca Menarik Di Lamongan

Sudut Rumah Baca Api Literasi di Masjid Karangrejo

Ditulis Oleh : Fathan Faris - 21 Agustus 2019

Kalau kita masih ingat, beberapa tahun yang yang lalu pernah ada kampanye gencar tentang perlunya masjid memiliki perpustakaan. Waktu itu banyak masjid yang mendapat bantuan buku untuk modal mendirikan perpustakaan. Ada kampanye gerakan wakaf buku segala. Bahkan telah berdiri sebuah badan yang khusus membina perpustakaan masjid ini.

Dalam waktu sebentar memang kelihatan banyak takmir yang kemudian memajang buku-buku koleksinya di masjid. Akan tetapi karena kurang pengalaman, atau karena belum mampu menciptakan daya Tarik agar perpustakaan ini menghilang dari masjid-masjid. Jadilah masjid-masjid itu seperti sebelumnya, masjid tanpa kegiatan perpustakaan. Buku koleksinya disimpan rapi takut hilang, atau malahan sudah habis dipinjam orang tanpa dikembalikan.


Sebenarnya, perlukah sebuah masjid mendirikan perpustakaan? Jawabanya tentu saja perlu. Mengapa? Karena dengan adanya perpustakaan umat Islam atau jamaah masjid akan terpacu untuk terus maju, tidak kalah dengan umat agama lain yang lebih dulu memiliki perpustakaan di tempat-tempat ibadah mereka.

Islam sesungguhnya menghendaki agar umatnya mengembangkan budaya baca-tulis. Adanya perintah Iqra’ itu sekaligus dapat ditafsirkan agar selain gemar membaca dan mengkaji sesuatu secara ilmiah, umat Islam juga diharapkan mampu menulis dengan baik. Kedua budaya ini, budaya baca dan budaya tulis ini erat kaitannya. Orang yang gemar membaca akan lebih mudah menulis, dan orang yang gemar menulis hampir dipastikan juga gemar membaca.


Kalau dikaji, masyarakat yang maju, termasuk masyarakat ilmu pengetahuan yang sekarang hadir dimana-mana, hampir dipastikan memiliki budaya baca dan budaya tulis yang maju. Umat Islam di masa jayanya dulu dihargai dan dihormati orang sampai berabad-abad juga karena kemampuannya membaca dan menuliskan berbagai ilmu pengetahuan, dan karya seni yang indah-ndah yang menyimpan kearifan manusia. Pusat-pusat kerajaan Islam baik di Andalusiana (Spanyol) maupun di Mesopotamia Irak/Bagdad, selain memiliki masjid yang besar dan agung yang juga dipergunakan sebagai tempat belajar, juga memiliki perpustakaan yang isinya puluhan ribu buku.


Nah, kalau masjid-masjid kita sekarang miskin buku tanpa perpustkaan, tanpa ada kegiatan membaca dan menulis, maka ini sungguh merupakan kemunduran yang patut ditangisi. Oleh karena itu, agar generasi nanti tidak menangis terus-menerus , karena kita hanya mewariskan ilmu, mulai sekarang marilah kita hiasi kembali masjid-masjid kita dengan buku-buku, dengan kitab-kitab, dengan Al-Qur’an bersama dengan tafsir yang jumlahnya sangat banyak itu. Kemudian kita tingkatkan lagi setelah masjid-masjid kita kaya buku marilah kita jadikan masjid kita dan takmir kita sebagai lembaga yang secara ilmu pengetahuan produktif. Yaitu dengan melakukan gerakan penulisan, penerjemahan, dan penerbitan. Masjid Salman ITB Bandung yang terkenal dan kami juga punya Rumah Baca Api Literasi di wilayah Lamongan ini menjadi pusat gerakan pencerahan masyarakat, kami juga melengkapi diri sebagai pusat gerakan ilmu dan peradaban. Ada kegiatan penerbitan, yang menerbitkan buku dan media percetakan.

Untuk ini dalam struktur takmir perlu dibentuk seksi perpustakaan, yang tugasnya adalah menambah koleksi buku, menata, mengatur, dan melayani peminjaman. Baik yang akan dipinjam di tempat atau melayani peminjaman buku yang akan dibaca di rumah. Seksi perpustakaan itulah yang bertugas meningkatkan daya Tarik perpustakaanya, agar setiap hari atau setiap buka selalu ramai dikunjungi jamaah masjid.

Agar perpustakaan masjid dapat menarik dan ramai dikunjungi salah satu kiatnya adalah menjalankan para peminjam. Manjakan sekaligus didiklah mereka agar bertanggungjawab.



John Doe
Fathan Faris
Aktif bergerak sebagai pendamping sosial masyarakat dan aktif dalam dunia lingkungan hidup. Founder Rumah Baca Api Literasi, owner Api Literasi Publishing, Owner Api Production.

Artikel Terkait

Peran Dan Tantangan Pemuda "di Era Generasi...

Banyak Kalangan Menyebut Anak-anak Muda zaman Now sebagai Generasi Millennial. Generasi Ini Lahir Setelah Zaman Generasi x, Atau Tepatnya pada Kisaran Tahun 1980 Sampai Tahun...

Urgensi Literasi Media Bagi Kecerdasan...

Dalam Beberapa Seminar Atau Diskusi Yang Membahas Literasi kekinian, Sering Saya Jumpai Kritik Tajam Ditujukan Kepada Lembaga, Komunitas, Pegiat Literasi Dan Sebagainya Mengenai Kesadaran...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul