Reaksi Berantai Kebudayaan

Picture by Nirwan Ahmad Arsuka

Ditulis Oleh : Nirwan Ahmad Arsuka - 02 Desember 2019


Kita memang harus berterima kasih secara wajar pada Ki Hadjar Dewantara dan generasinya. Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan pertama Republik, yang hari lahirnya dijadikan hari besar nasional, ini mengabdikan hidupnya untuk kebudayaan Indonesia agar tak telihat lagi rakyat Indonesia yang “kehilangan roch kebangsaan merdeka dan cita-cita mereka sendiri mati.”

Adukan antara keprihatinan nasib bangsa di masa depan dan keyakinan akan keunggulan kebudayaan sendiri yang diwarisi dari masa silam, memang gampang menegakkan nasionalisme kebudayaan. Semakin pekat unsur keyakinan akan kehebatan kebudayaan sendiri, semakin kaku dan mengerut pula hasil adukan itu. Wacana kebudayaan kita pun hanya diisi pokok besar pencarian identitas nasional. Dan tentang puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.

Pandangan Ki Hadjar, yang ditopang oleh banyak pihak itu, kita tahu, meninggalkan pengaruh yang kokoh di departemen pemerintahan yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan, hingga hari ini. Banyak yang sepakat bahwa manfaat yang kita peroleh darinya antara lain adalah terus bertambahnya produk kebudayaan Nusantara yang oleh UNESCO dinyatakan sebagai warisan dunia.

Tapi produk kebudayaan yang dihargai dan berhenti di UNESCO, seperti halnya karya-karya seni yang besar yang baru selesai diciptakan, memang masih berada di tahap antara. Agar mereka benar-benar hidup, mereka harus memasuki kehidupannya yang kedua. Kehidupan kedua, kehidupan yang melepaskan diri dari kuasa tunggal penciptanya, berawal ketika karya bertemu dengan dunia. Mereka itu bukan hanya harus bisa menemui dan menggauli manusia, mereka perlu membentur-bentur dan membentuk jaman.

Hanya lewat perbenturan intens dengan dunia inilah, produk kultural dan kreasi artistik dapat diketahui kekuatannya yang sesungguhnya. Kekuatan yang memang pantas dihormati itu terlihat antara lain pada sejauh mana mereka akhirnya bisa menghancurkan sebuah tradisi dan membangun tradisi baru yang lebih kaya. Produk kultural dan karya artistik yang belum merombak sebuah tradisi, sebenarnya belum pantas untuk dibangga-banggakan.

 

Kepemimpinan Warga

Kesadaran mendalam tentang pentingnya produk kultural dan kreasi artistik bergaul rapat dengan dunia, masih tampak diamalkan lebih sungguh-sungguh oleh para pekerja seni dan budaya ketimbang oleh aparat pemerintah.  Tahun 2015 kemarin, kembali kita melihat para pekerja swasta itu sambung menyambung memimpin membawa berbagai karya seni dan budaya kita menemui dunia yang bisa dijangkau. Sebagian besar mereka berusia muda, dan beberapa di antara pekerja itu bukan pribumi.

Jakarta dan terutama Jogja yang sudah berkali-kali menyelenggarakan biennale dan festival seni, tahun lalu makin jauh mendatangi dan menarik publik masuk ke dalam proses penciptaan. Di Makassar, selapis anak muda bekerja di tengah keterbatasan menyelenggarakan biennale yang pertama di kota itu. Dengan lebih dahulu merogoh kantong sendiri, sejumlah orang menerjemahkan puluhan karya sastra Indonesia ke Bahasa Inggeris dan Jerman, dan bergabung dengan rombongan besar memenuhi undangan Pesta Buku Frankfurt sebagai tamu kehormatan. Di banyak tempat di berbagai penjuru, penciptaan karya dan pelibatan masyarakat, juga terus mengalir.

Demokratisasi seni untuk membawa karya kreatif menemui orang banyak dan telibat dalam proses pemaknaan dan penciptaan, punya akar yang cukup panjang di negeri kita. Upaya ini tentu bisa ditelusuri akarnya bukan hanya sampai ke Gerakan Seni Rupa Baru, di pertengahan dekade 1970-an. Lekra (lembaga Kebudajaan Rakjat) yang berdiri dua dekade lebih sebelumnya, tercatat berupaya, sekaligus merangsang sekian pihak, untuk turba dan membuat masyarakat luas ambil bagian dalam kegiatan artistik dan kultural. Mereka masuk dan mengubah beberapa seni tradisi menjadi seni progresif-revolusioner.

Dengan akar demokratisasi seni yang sedalam ini, mestinya kehidupan kesenian dan kebudayaan kita sudah jauh lebih semarak dari sekarang. Tentu ada banyak hal yang bisa ditunjuk jadi penyebab belum berhasilnya berbagai mata air penciptaan dan aneka arus demokratisasi seni menjadi aliran yang cukup besar untuk menggerakkan turbin.  Penyebab utamanya, yang bermula dari macetnya perwujudan berbagai gagasan cemerlang,  adalah belum memadainya mutu sebagian besar pemimpin dan aparat pemerintah — berapa banyak di antara mereka yang bisa mengatasi kebiasaan korup dan sanggup menikmati kamus, misalnya? Dari mereka ini tentu sulit mengharapkan adanya strategi kebudayaan yang berwawasan luas, yang mereka dukung dengan kerjasama dan komitmen yang kokoh.

Kita memang punya catatan tentang pejabat Negara yang masa kekuasaannya membuat semarak kehidupan kesenian dan kebudayaan. Kita selalu ingat Ali Sadikin yang membuat Jakarta jadi begitu bergairah. Sejaman dengan itu, di Makassar ada HM Patompo, walikota “gila” yang juga mengubah kota di Timur itu ramai dengan kegiatan kreatif. Selain kepala daerah, kita juga pernah punya birokrat yang dikenang karena kerjanya yang tidak biasa. Edy Sedyawati dan Murtidjono, memang dua nama yang wajib disebut.

 

Mengayomi Negara

Di luar sejumlah oknum visioner itu, negara kita bagi sementara pengamat tampak seperti perenang buta yang kadang timbul dan lebih sering tenggelam di tengah arus penciptaan dan kebudayaan global. Perangkat pengelolaan Negara kita, terutama institusi sipilnya yang tertinggal jauh dari militer dalam hal kepercayaan publik, memang perlu didorong untuk terus merombak diri agar makin sesuai dengan tuntutan jaman, dan mudah mengangkat pemimpin yang berpandangan jauh. Dengan bantuan revolusi teknologi, Republik Indonesia perlu dikawal terus menjadi Rumah Kaca Baru, agar warga bisa menyidik apa yang sudah dan belum dikerjakan oleh para pejabat, dan memberi umpan balik yang jernih dan bergairah.

Dengan pilkada langsung, kita memang telah membesar peluang mendapatkan pemimpin yang bisa diharapkan, seperti Ahok di Jakarta sekarang, atau Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi dan Nurdin Abdullah di Bantaeng, misalnya. Selain terus mendukung dan mendampingi mereka, kita juga perlu mendorong agar para pengganti mereka bisa terus mempertahankan dan mengembangkan apa yang telah dikerjakan oleh para pejabat visioner itu.

Gerakan yang dalam sekian kasus tampak seperti “mendampingi dan mengayomi pejabat Negara” itu, berjalan seiring dengan kegiatan penciptaan artistik dan demokratisasi seni yang terus berlangsung. Para pekerja seni dan budaya yang makin kuat aspirasi politiknya di berbagai penjuru, juga jadi makin berpengalaman menyiasati keterbatasan untuk membawa masyarakat memasuki penciptaan, mengusahakan kehidupan kedua bagi karya.

Kegiatan para warga itu memang akan menjadi lebih semarak jika Negara terlibat mendukung. Negara tentu tidak perlu mengurusi buah kehidupan pertama kreasi artistik, tapi Negara bisa berperan sangat besar membantu kehidupan kedua karya itu, dengan payung hukum dan politik anggaran yang memadai. Mereka yang sedang menggarap RUU Kebudayaan, hanya akan benar-benar berguna jika mereka berhasil merumuskan UU yang berwatak progresif-kosmopolit. Membantu pembangunan dan pengembangan berbagai ruang kegiatan yang ditopang perbendaharaan yang menyiapkan diri menjangkau dunia, jadi tujuan dasar.  Seperti halnya produk pengetahuan alam dan hayati, produk kegiatan artistik dan kultural akan makin panjang dan semarak hidupnya jika didukung oleh berbagai lumbung pengetahuan dan penciptaan.

 

Mengawal Kehidupan Bintang

Sains dan teknologi telah merombak hubungan kita dengan dunia dan perlahan-lahan membuatnya jadi semesta dimana keajaiban adalah hal yang sehari-hari, dan yang sehari-hari adalah keajaiban. Seni dan kebudayaan yang mampu mengubah hubungan kita dengan sesama manusia, juga sanggup membuat semesta yang ajaib, dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan oleh pengetahuan empiris. Pertautan antara pengetahuan ilmiah dan kreasi artistik yang terus menerus merongrong batas itu, tentu membentangkan jagat baru yang berlimpah berkah, dengan kemungkinan perluasan kekayaan pengalaman dan cakupan kepedulian yang senantiasa meningkat.

Kebudayaan bergerak dinamis bukan hanya karena banyaknya manusia yang terlibat di dalamnya, tapi juga karena terus bermunculannya buah akal budi yang merongrong tradisi dan meremehkan batas-batas. Jika Negara terlibat cerdas menemani publik dan para pencipta, maka reaksi berantai penciptaan yang saling topang akan lebih cepat mencapai besaran yang berdampak luas. Negeri yang sanggup bergembira mengelola serius reaksi berantai ini akan dengan sendirinya menjadi matahari kebudayaan yang diperhitungkan.

 

 

 




Artikel Terkait

Memberontak Dan Melawan Menggunakan Buku-buku...

Serupa Subcomandante Marcos Dengan Ezln-nya, Pustaka Bergerak Adalah Gerakan Memberontak Dan Melawan Kebodohan Menggunakan Buku-buku Bacaan.para Penggerak Pustaka, Sepintas Mengingatkan Saya Pada...

Membaca, Memperluas Sudut Pandang

Sudah Baca Buku Apa Minggu Ini?, Atau Masih Hanya Sampai Membaca Status-status Dimedia Sosial Saja?. Memang Sama-sama Aktifitas Membaca Sih, Tapikan Konten Informasinya Hanya Sepotong-sepotong...

Indonesia, Kerja, Pencerahan

Indonesia Memang Bukan Sekedar Sebuah Wilayah Yang Terbentang Dari Aceh Sampai Papua, Dari Mianggas Sampai Rote. Indonesia Adalah Sebuah Kerja: Rangkaian Tindakan Bersama Untuk Memberi Arti Pada...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul