Pergerakan Literasi Dan Musuh Yang Harus Dihadapi

Picture by Ahmad Wahyu Rizkiawan

Ditulis Oleh : Ahmad Wahyu Rizkiawan - 31 Desember 2019

Di dunia pergerakan literasi, ada dua musuh yang niscaya harus dihadapi: rasa malas dan klaim dari pihak tertentu. Dua musuh itu memang kerap melumpuhkan. Baik dari segi semangat maupun segi kelalaian.


Festival Literasi dan Musyawarah Wilayah diadakan Pengurus Wilayah Forum Taman Baca Masyarakat (PW FTBM) Jawa Timur di Bojonegoro pada 18-19 Desember kemarin, mempertemukan saya dengan sejumlah tokoh literasi yang asyik diajak berdiskusi.


Tentu saja saya tak ikut acara tersebut. Sebab, jadwalnya berbenturan dengan jadwal saya bekerja. Namun, malam hari pasca acara dihelat, saya berkesempatan ngobrol secara santai bersama sejumlah tokoh literasi yang hadir ke Bojonegoro tersebut.


Yakni Ketua Bidang Keorganisasian FTBM 2015-2019, Faiz Ahsoul dan partner in crime-nya, Vudu Abdul Rahman. Memang, jika disuruh memilih, saya bakal memilih menemui dua orang ini saja, dibanding ikut acara seremonial.


Pada mereka berdua, saya berdiskusi perihal literasi yang bukan sekadar simbol seremonial berupa jari tangan berbentuk ā€œLā€ saja. Namun, literasi yang menyublim dalam gerak-gerik tubuh dan pikiran. Tentang apa yang telah dan sedang dilakukan, bukan lagi tentang apa yang bakal dan ingin dilakukan.


Mas Faiz tentu bercerita tentang perjalanan karirnya sebagai seorang editor pilih tanding, tentang karya-karya, hingga bermacam pergerakan literasi yang pernah dia bikin di Jogja. Sedang Vudu Abdul Rahman, bercerita pada saya tentang Mata Rumpaka dan bermacam giat-giat pergerakan literasi yang dia gerakkan di Tasikmalaya.


Berbincang bersama mereka berdua, tentu saya dapat banyak sekali ilmu. Wabilkhusus tentang literasi yang tak melulu meminta orang membaca buku. Tapi meminta orang membaca buku, sekaligus meminta diri sendiri untuk juga selalu membaca buku.


Sebab semua tahu, meminta diri sendiri membaca buku kadang tak semudah meminta orang untuk membaca buku. Dan satu hal lagi yang amat penting: menggerakkan literasi tak hanya dibatasi sekadar proses membaca buku. Tapi juga membaca keadaan sosial masyarakat.


Kami menutup diskusi hangat itu tepat pukul 02.00 dini hari. Sebuah waktu yang seharusnya lebih nikmat digunakan untuk tertidur daripada begadang tiada artinya. Namun, kami begadang demi sebuah ilmu. Dan kita tahu, tiada ilmu yang tidak berarti.


Siang keesokan harinya, di pinggir Bengawan Solo; Mas Faiz, Vudu dan saya kembali berjumpa dan ngopi santai sembari berdiskusi. Pada momen itu, saya ditemani seorang kawan dari Ngaostik (rumah komunitas literasi) yang teman-teman dan saya bikin di tempat kami. 


Saya bercerita tentang kejadian unik yang komunitas kami hadapi dua tahun lalu. Saat kami sedang menghelat sebuah acara rutinan berupa pameran buku, pembacaan puisi, dan pertunjukan musik yang kami beri nama Ngaostik Fest.


Dalam waktu yang sama, FTBM sedang ada acara di Dinas Pendidikan setempat. Hadir dalam acara itu, tokoh literasi dan penulis nasional Gol A Gong. Saya sempat berkomunikasi dengan Mas Gong. Dan memberitahu jika di hari kedatangannya di kota kami, kebetulan ada acara Ngaostik Fest.


Mas Gong beserta istri dan anak-anaknya memutuskan berkunjung di Ngaostik Fest. Pertimbangannya sederhana, acara di Dinas Pendidikan dihelat keesokan harinya. Sehingga saat malam hari, tak ada salahnya dia berkunjung ke acara kami.


Mas Gong hadir membaca puisi dan menikmati sejumlah sajian penampilan dari teman-teman. Dia tampak bahagia meski kami, tentu saja, tak mampu memberikan bayaran apapun. Sebab acara Ngaostik Fest tak pernah bersponsor dan murni iuran secara kultural.


Masalah tiba ketika salah seorang oknum FTBM menghubungi kami. Dia bilang, harusnya kami ikut membantu pembiayaan kedatangan Gol A Gong. Sebab, mereka merasa, pihaknyalah yang mendatangkan Gol A Gong. Tapi, malam sebelum acara mereka, dengan semena-mena kami menculik mas Gong untuk mengisi acara kami.


Padahal kenyataannya, kami tak menculik. Bahkan kami tak pernah meminta mas Gong hadir secara langsung. Kami hanya memberitahu bahwa kedatangan Gol A Gong ke kota kami, bebarengan dengan sebuah acara literasi kultural rutin yang kami helat. Dan Gol A Gong ingin hadir menyaksikannya. Sebab, acara itu kebetulan digelar di dekat hotel di mana Mas Gong menginap. Sesederhana itu.


Saat pihak FTBM meminta kami ikut meringankan biaya akomodasi Gol A Gong, tentu saja kami menolak. Sebab, alih-alih punya uang, kami mampu menghelat acara Ngaostik Fest saja butuh iuran beberapa lama. Tentu, meminta kami mengeluarkan dana serupa meminta semut mengeluarkan madu.


Ada kejadian lucu saat oknum FTBM tersebut memberi keringanan pada kami. Jika tak mampu memberi kontribusi pada biaya akomodasi, kami bisa ganti dengan menyediakan makanan ringan buat konsumsi acara mereka. Tentu saja, kami tetap menolak.


Alasannya sederhana. Kami tak pernah memiliki anggaran diam. Kami hanya iuran ketika sedang ada acara rutin saja dan belum pernah menerima sponsor. Menyumbang makanan ringan tentu sulit kami lakukan. Sebab, saat menghelat acara kami sendiri saja, kami tak pernah mempertimbangkan ada tidaknya makanan ringan sebagai konsumsi.


Pergesekan itu berakhir damai. Sebab, pihak FTBM yang punya anggaran besar itu menyadari bahwa komunitas kultural kami memang fakir dana yang alih-alih punya uang kas, tiap menggelar acara saja selalu iuran secara dadakan.


Saat kisah itu kami ceritakan pada Faiz Ahsoul dan Vudu Abdul Rahman --- yang notabene sosok pengurus pusat FTBM, mereka tertawa terbahak-bahak dan memberitahu bahwa kejadian semacam itu tak hanya terjadi di kota kami.


Di bermacam kota, golongan formal memang kerap bergesekan dengan golongan kultural. Kasusnya pun beragam. Ada yang seperti kami alami, ada pula sekadar klaim kosong yang dilakukan golongan formal atas kegiatan golongan kultural.


Kasus semacam itu rentan terjadi karena perbedaan kecenderungan atas dua belah pihak. Kultural bermodal militansi tanpa ingin diribeti aturan, sedang formal hanya butuh jejak dan tanda bukti tapi jarang melakukan pergerakan, karena diribeti aturan.


Saya beranggapan, di dunia pergerakan literasi, ada dua musuh yang niscaya harus dihadapi: rasa malas dan klaim dari pihak tertentu. Dua musuh itu memang kerap melumpuhkan. Baik dari segi semangat maupun dari segi kelalaian.


Mereka yang terkena klaim berupa pujian dan penghargaan, biasanya akan lalai dan merasa apa yang diperbuat sudah mencapai klimaks, meski belum apa-apa. Sedang mereka yang meng-klaim, merasa pekerjaannya diringankan tanpa melakukan apa-apa.


"Senang betul Kemendikbud dgn virus L. Semua yg jarinya pakai L bisa diklaim ini, termasuk yang bergerak mandiri tanpa bantuan langsung Kemdikbud seperti kawan-kawan di jalanan"


Kalimat yang dikirim Mas Nirwan melalui pesan WA tersebut, membuktikan bahwa narasi kisah di atas memang benar-benar terjadi. Dan amat rentan untuk mengganggu semangat menggerakkan literasi. Karena itu harus dihadapi.
















John Doe
Ahmad Wahyu Rizkiawan
Pustakawan dan pendamping belajar

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul