Para Pencipta Peristiwa

Picture by Nirwan Ahmad Arsuka

Ditulis Oleh : Nirwan Ahmad Arsuka - 02 Desember 2019


Carolus Linneaus, pendiri taksonomi modern, memberi nama ilmiah untuk species manusia yang bertahan hidup saat ini: Homo sapiens (Manusia bijak, Manusia berpikir). Ada banyak teori yang coba menjelaskan mengapa species-species yang lain punah, tapi ada satu hal yang jelas tentang mengapa Homo sapeins menjadi satu-satunya species manusia yang lestari dan siap menghuni Mars di abad ini.

 

Yuval Noah Harari, penulis Sapiens: Brief History of Humankind (2014) menunjuk kunci keberhasilan manusia pada kesanggupannya menyusun fiksi, membayangkan hal-hal yang tidak ada, dan menciptakan yang belum pernah ada. Yang kurang diulas oleh Harari, adalah kunci lain yang tak kalah penting dari kemampuan kreatif menyusun fiksi, yakni kemampuan kritis untuk melepaskan diri dari satu fiksi, membedakan fiksi dari fakta, lalu bergerak sistematis menyusun semesta lain yang melampaui faktisitas.

 

Tapi intinya, keunggulan Sapiens adalah revolusi kognitifnya, karakter yang membuat seluruh individu normal dari species ini selalu ingin tahu. Tak berlebihan jika Jorge Luis Borges, salah satu pembaca paling rakus di abad ke-20, lewat tokoh Pierre Menard, menulis, "Berpikir, menganalisis, mencipta, bukanlah tindakan istimewa, melainkan pernafasan alami dalam kehidupan mental manusia. Dirumuskan secara lain: berpikir (termasuk membaca) adalah karakter Homo sapiens.  Bahkan prasyarat dari kehidupan. Organisme yang gagal membaca lingkungannya, akan hilang dari kehidupan. Nama yang diajukan Linneaus cukup tepat untuk species manusia modern.

 

Minat baca

 

UNESCO (Organisasi Pendidikan, Pengetahuan dan Kebudayaan PBB) didirikan antara lain oleh semangat menjaga keberadaan Homo sapiens. Sejak lima dekade lalu, organiasi ini mengikuti pekembangan literasi dunia dan terus mengumumkan hasil penelitiannya. Salah satu buah riset mereka yang banyak beredar, khususnya di dunia pendidikan, adalah tentang minat baca. UNESCO selalu menegaskan bahwa meskipun tingkat buta huruf di Indonesia berhasil dikurangi namun minat baca tetap sangat rendah.

 

Pernyataan UNESCO ini diperkuat oleh Central Connecticut State University (CCSU). Lembaga yang menggarap proyek World's Most Literate Nations itu baru saja mengumumkan temuan dari penelitian di 62 negara dan menempatkan Indonesia di nomor 61 dalam hal minat baca. "Prestasi" ini dicapai sekalipun untuk infrastruktur pendukung kegiatan membaca, Indonesia menempati posisi yang lebih tinggi dari Jerman, Selandia Baru, Portugal, Korea Selatan.

 

Dilihat dari sudut pandang UNESCO dan SSSU, hitungan mereka tentu benar, tapi kesimpulan mereka menarik untuk diuji. Yang jelas, kesimpulan mereka, yang kemudian diulang-ulang oleh banyak pejabat dan pesohor di Indonesia, adalah bahwa memang minat baca Indonesia sangat rendah. Begitu rendahnya sehingga seakan-akan manusia Indonesia itu bukan anggota species Homo sapiens yang selalu haus pengetahuan baru.

 

Mereka yang berkeliling membawa buku bekas mendatangi pembaca, akan mengalami betapa keliru UNESCO, CCSU dan semua pihak yang menyanyikan rendahnya minat baca Indonesia. Mereka yang bergerak bisa bersaksi betapa kedatangan mereka membuat anak-anak bersorak kegirangan. Pustaka yang memburu pembaca, apa pun modanya, itu bagaikan bintang neutron di luar angkasa. Ia mungkin tak memancarkan cahaya yang menyilaukan. Volumenya pun mungkin kecil saja. Tapi kehadirannya melengkungkan ruang di sekitarnya; pergerakannya mengubah kenyataan di wilayah yang dilaluinya.

 

Anak-anak kampung yang biasanya tampak lesu, atau tenggelam dalam permainan, akan serentak berteriak-teriak dan meninggalkan permainan mereka, begitu pustaka pemburu pembaca bergerak masuk kampung mereka. Sejumlah anak bahkan tak merelakan kepulangan pustaka itu. Bagaikan satelit-satelit mungil, anak-anak itu tertarik dan mengorbit lengket dan ingin ikut ke manapun si pustaka bergerak, seperti anak-anak mengikuti langkah si Peniup Suling dari Himmelin.

 

Di daerah terpencil dan kekurangan bacaan, buku-buku bekas yang tiba adalah hadiah yang tak ternilai. Anak-anak pun berebut buku. dan menangis jika tak mendapat bagian. Di tempat lain, anak-anak akhirnya mencuri buku. Begitu besarnya rasa lapar mereka pada ilmu, mereka sampai melanggar larangan Tuhan, dan pura-pura lupa mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya. Jarak yang jauh dan medan yang berat tak menghalangi anak-anak untuk selalu mengunjungi simpul pustaka yang siap menerima mereka dengan tangan terbuka.

 

Jika dikaji lebih jauh, memang bukan buku itu benar yang membuat anak-anak berkerumun. Anak-anak selalu gembira terutama pada kegiatan baca itu, baru kemudian pada bacaan itu sendiri.  Buku hanya alat bantu. Yang membuat mereka tersenyum lebar adalah kehadiran orang-orang yang bersedia mendatangi mereka, menyapa secara bersahabat dan meladeni rasa ingin tahu mereka. Kedatangan para relawan itu menciptakan peristiwa yang memicu munculnya rentetan peristiwa lainnya.

 

Peristiwa yang berlangsung inilah kuci sebenarnya. Jika peristiwa tak lagi seru, anak-anak tak akan tertarik datang. Itulah yang terjadi pada berbagai perpustakaan sekolah atau taman baca yang tak meranggas. Itu juga yang terjadi pada sebagian besar buku-buku yang beredar di Indonesia, yang ditulis secara hambar, bahkan buruk, dengan pandangan dunia yang kaku dan tak berubah.

 

 

Ibukota Dunia

 

Unsur "peristiwa" ini juga yang bisa menjelaskan mengapa masyarakat Indonesia yang tampak tak sanggup beli buku itu, bisa berlomba-lomba membeli handphone. Dibanding buku-buku yang banyak beredar, gadget jelas lebih mampu membantu menciptakan peristiwa, setidaknya membuka ruang lebih besar untuk merasa terlibat dalam peristiwa,

 

Tanpa sedikit pun kampanye peningkatan minat koneksi, masyarakat Indonesia berbondong-bondong menyambungkan diri dengan internet . Tanpa kegaduhan tebar-virus-SIM-card, misalnya, angka SIM-card di Indonesia terbang naik melampaui jumlah penduduk. Indonesia pun mengalami laju pertumbuhan tertinggi di dunia untuk iklan internet mobile dan digital. Jakarta mencatatkan diri sebagai kota twitter yang paling aktif di dunia, lebih aktif dari Tokyo, London atau New York. Indonesia muncul jadi ibukota media sosial dunia.

 

Statistik mencengangkan yang dikeluarkan ondeviceresearch.com dan emarketer.com itu akan lebih menakjubkan lagi jika infrastruktur telekomunikasi dan informasi Indonesia sudah lebih baik. Dan pejabat pemerintah tak terlalu cemas pada kemungkinan yang muncul dari persebaran informasi yang serba cepat dan terbuka. Memang, statistik itu masih jauh jaraknya dari predikat Indonesia sebagai adidaya ilmu dan teknologi dunia. Tapi angka-angka itu menunjukkan bahwa minat pada hal-hal yang anyar, kuriositas yang bisa berkembang menjadi pohon ilmu, sebenarnya cukup sehat di benak penduduk negeri ini.

 

Statistik Indonesia di dunia digital ini ikut membuat kita merasa bahwa statistik UNESCO dan CCSU itu datang dari pandangan dunia yang tak lengkap, dan bisa melihat apa yang kurang dan perlu dikoreksi dari pernyataan "resmi" tentang minat baca rendah itu.  Dengan segala niatnya yang mulia, gerakan peningkatan minta baca atau penebaran virus literasi, adalah gerakan yang tak dibimbing oleh  paradigma yang bagus. Minat baca ada pada semua manusia, terbentuk oleh evolusi, tertanam dalam struktur gen, dan akan terus hadir selama manusia mencintai hidup dan ingin memuliakannya.

 

Karena itu, gerakan peningkatan minat baca yang tak dibimbing gerakan cinta dunia dan kehidupan, niscaya akan gagal. Kegiatan membaca akan meningkat dengan sendirinya jika pembaca mendapatkan kehidupan seru di sana. Pembaca haus gerakan yang membantu mereka punya arti di dunia, yang mengenalkan satu jenis literasi sebagai upaya memperluas cakrawala dan memperkaya khazanah.

 

Ketimbang mengeluhkan minat baca dan ngotot mendisiplinkan anak dengan beban yang berat, memang lebih tepat memperbanyak jumlah guru dan relawan yang sanggup mencipta peristiwa. Guru dan relawan yang kreatif adalah unsur yang sangat menetukan. Di tangan mereka, buku bekas dan tak menarik sekali pun bisa menjadi bahan pemicu peristiwa, penyibak makna aneka tanda heran.

 

Beban para pencipta peristiwa ini tentu akan meringan jika ada aliran kitab yang tidak gentar pada imajinasi yang melampaui fakta, nilai yang menampik ketakmungkinan dan melepasbebaskan semua kemungkinan. Kita memerlukan banyak bacaan yang menerima semesta raya dan kehidupan dunia sebagai berkah menakjubkan yang layak dijelajahi sejauh mungkin. Anak-anak kita perlu dikenalkan sejak dini pada ajakan untuk menjelajah ke tengah dan berani menemu malam, karena memang ada banyak hal yang begitu ajaib di luar kota-kota kita, di luar jantung dan tepi rimba kita, di luar abad dan langit kita.

 

UNESCO merayakan 50 tahun Hari Literasi Internasional dengan semboyan "Reading the Past, Writing the Future." Semboyan dengan kesadaran waktu yang sangat linier ini terlalu umum dan tak menawarkan cara kerja yang cukup jelas. Kita layak mengayomi dan membantu UNESCO dengan seruan yang lebih programatis: "Datangi Pembaca, Ciptakan Peristiwa."

 

 

  

 

Artikel ini pertama kali terbit di Harian KOMPAS, Rabu, 7 September 2016.

Judul awal artikel ini adalah "#Lawan UNESCO"




Artikel Terkait

Memberontak Dan Melawan Menggunakan Buku-buku...

Serupa Subcomandante Marcos Dengan Ezln-nya, Pustaka Bergerak Adalah Gerakan Memberontak Dan Melawan Kebodohan Menggunakan Buku-buku Bacaan.para Penggerak Pustaka, Sepintas Mengingatkan Saya Pada...

Membaca, Memperluas Sudut Pandang

Sudah Baca Buku Apa Minggu Ini?, Atau Masih Hanya Sampai Membaca Status-status Dimedia Sosial Saja?. Memang Sama-sama Aktifitas Membaca Sih, Tapikan Konten Informasinya Hanya Sepotong-sepotong...

Indonesia, Kerja, Pencerahan

Indonesia Memang Bukan Sekedar Sebuah Wilayah Yang Terbentang Dari Aceh Sampai Papua, Dari Mianggas Sampai Rote. Indonesia Adalah Sebuah Kerja: Rangkaian Tindakan Bersama Untuk Memberi Arti Pada...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul