MENUJU MILAD-5 RUMPITA : TETAP EKSIS PADA AKSES DAN AKSI LITERASI

Picture by Muhammad Munir

Ditulis Oleh : Muhammad Munir - 04 Januari 2020

MENUJU MILAD-5 RUMPITA :

TETAP EKSIS PADA AKSES DAN AKSI LITERASI


Catatan Muhammad Munir


AWAL YANG BAIK


Berawal dari sebuah konsep RUMAH BUKU dan CAFE BACA yang dibentuk di Campalagian pada 2011. Konsep ini berjalan dengan menyediakan buku dan ruang baca plus minum kopi dan diskusi. Namun harapan tak semuanya selalu berkelindan dengan apa yang direncanakan. Hal ini kemudian mandeg oleh dua kemungkinan utama yakni, rendahnya minat baca masyarakat atau koleksi buku yang kurang menarik minat. Selain dua hal tersebut, factor yang juga menghambat adalah berbagai kesibukan yang juga cukup menyita waktu. Tahun 2013-2014 kembali dirintis di Wonomulyo, tepatnya disamping SMK Muhammadiyah Kuningan. Lagi-lagi tak mendapat respon dari masyarakat.

Pada saat pustaka rakyat sepekan yang diadakan kali keduanya ditahun 2015 yang digagas  oleh Dahri Dahlan bersama generasi muda Pambusuang (GMP), barulah kemudian pengelola berinisiatif untuk pindah ke Tinambung. Di Tinambung kemudian ganti nama Komunitas Rumah Pustaka (selajutnya akan ditulis KRP) dengan moda Sepeda Pustaka, Rumah Buku dan Cafe Baca dan Motor Baca. Lengkaplah sudah moda pustaka untuk meramaikan kegiatan pustaka dan menularkan budaya literasi ke sekolah-sekolah dan beberapa model belajar di alam terbuka. Moda pustaka bergerak digagas secara bersama-sama dengan nawaitu lillahi taala dan atas nama kemanusiaan. Animo masyarakat dan apresiasinya begitu terasa.

KRP yang didalamnya terlibat Ramli Rusli (Pendongeng, Sastrawan, Sutradara Teater), Ainun Nurdin (Pimpinan Rumah Musik Beru-Beru Orchestra), Zulfihadi (Guru SMK dan Peneliti Sejarah), Mattotorang (Pelaku Pemberdayaan Masyarakat/PNPM), Mursalin (Pelatih Tari dan Aktor), Abdul Rasyid Ruslan, Abdul Malik Nurdin, Abdul Malik Sukhri, Hernawati Usman, Nurlia, Salmiah, Fitri dkk cukup membahagiakan sekaligus membanggakan. Kolaborasi mereka untuk terjun ke lapangan semakin mempertegas bahwa budaya literasi semakin mudah ditumbuh kembangkan. Kota, pedesaan dan pelosok terpencil yang tertinggal, terbelakang dan terisolasi semua disasar dengan konsep gelar buku, workshop menulis, dongeng dan menggambar.

Selama satu tahun berjalan, gerakan ini membuahkan hasil. Buku-buku banyak diterbitkan yang kesemuanya ditulis oleh anak-anak binaan KRP. Pada fase ini, peran Dinda Prameswari (Novelis dan Ceo Dins Publishing) dan Hamzah Ismail (Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Tinambung) sangat menetukan. Novel Towaine Tinambung yang ditulis Dinda Prameswari membuat nama Komunitas Rumah Pustaka semakin familiar di Sulawesi Barat bahkan secara nasional. Hal ini ditandai dengan adanya Launching Buku Novel Towaine Tinambung yang diprakarsai oleh anak-anak Mandar di Yogyakarta. Dinas Perpustakaan Kalimantan Timur tak ketinggalan. Melalu Taufi Badaruddin,

Hamzah Ismail, salah satu Dewan Pendiri Teater Flamboyant Mandar langsung meminta Manajemen KRP untuk mengadakan Workshop Penulisan Cerita Dongeng dengan mengundang peserta yang terdiri dari guru-guru PAUD se-Kecamatan Tinambung. Dinda Prameswari didapuk sebagai pemantik pada acara tersebut berhasil mengajak para guru PAUD itu tak saja asik menyimak materi yang disampaiakannya, tapi sekaligus aktif menulis cerita rakyat dan dongeng yang diambil dari daerah dimana guru-guru tersebut berdomisili. Hasil tulisan mereka itu disortir oleh Tim KRP dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang langsung dibiayai oleh Hamzah Ismail. Pembiayaannya tak tanggung-tanggung, sebab ia harus merogoh sakunya sendiri, bukan mengorek anggaran kantor. 

Awal yang juga sangat menunjang proses lahir dan berkembangnya KRP adalah kunjungan Kerja dilakukan ke Markas Besar Komunitas Rumah Pustaka di Depan Masjid Nurul Amin Kandemeng Desa Batulaya. Rombongan Dinas ini membawa ratusan buku donasi untuk program mendekatkan akses bacaan ke masyarakat. Selain itu, Tim ini mengikuti beberapa item kegiatan di lapangan. Intinya mereka ingin mengadopsi gerakan dan metode Komunitas Rumah Pustaka ini di Kalimantan Timur. 

Seiring waktu berjalan, berbagai kegiatan terus dihelat meski dalam kondisi fasilitas yang serba kurang, terutama koleksi buku yang kinan hari kian membutuhkan jumalah yang lebih banyak. Kondisi ini kemudian mendapat respon dari beberapa pemerhati pendidikan anak seperti Darwin Badaruddin (Sekarang Kepala Bappeda Kabupaten Polewali Mandar), Aco Musaddad (Kabag Humas Kabupaten Polewali Mandar) Abed El-Mubarak (sekarang Kepala KUA Kecamatan Tutar), Adi Arwan Alimin (Sekarang Komisioner KPU Sulawesi Barat), Agusnia Hasan Sulur (Sekarang Kepala Disperindag Polewali Mandar), Arifin Baso (Aktifis dan LSM Nasional, sekarang sudah meninggal dunia-Alfatihah) dll. Darwin Badaruddin, Adi Arwan Alimin, Abed El-Mubarak  yang langsung mendonorkan sepedanya, begitupun donasi buku dari berbagai kalangan mulai dari pejabat bahkan masyarakat ikut berdonasi buku.

Hal yang menarik adalah salah satu pemilik akun facebook, Abd. Rahman yang belakangan diketahui tinggal di Desa Tandung tak tanggung tanggung ikut menyumbang satu unit kendaraan bermotor merk Honda CG100 untuk dijadikan sebagai kendaraan operasional. Menyusul Mattotorang ikut menghibahkan waktu, tenaga dan fasilitas 1 Unit Mobil Daihatsu Ertiga untuk digunakan memobilisasi semua perlengkapan saat berkegiatan di wilayah yang bias dijangkau kendaraan empat roda. Untuk lokasi kegiatan yang tak biosa dijangkau oleh kendaraan empat roda, kami tempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua (Motor). Tak jarang di kawasan pelosok seperti Tutar, Matangnga, Bulo, Alu dan lainnya kami tempuh jalan kaki dengan berjalan kaki hingga puluhan kilo meter, termasuk naik turun gunung dan nyeberang sungai menggunakan rakit bambu. April-Oktober 2015),


PERSONALIA YANG TANGGUH


         Sebauah komintas yang lahir, tumbuh dan berkembang tentu harus ditunjang oleh SDM yang mumpuni dibIdang masing-masing. Salah satu aspek ini dipenuhi oleh KRP yang tentu sangat menunjang pergerakan. Gabungan manusia yang lahir dari latar belakang keilmuan yang berbeda-beda sepanjang tahun 2015 terus meramu dan mematangkan program yang lebih diterima oleh masyarakat dan disenangi oleh anak-anak. Ini yang menjadi pembeda antara KRp dengan komunitas lain. Orientasi gerakan KRP ke pelosok lebih kepada gerakan moral, bukan program yang disuplai oleh anggaran dari dinas terkait, istilah kerennya adalah Gerakan Populis, bukan Gerakan Populer.

           Personil tangguh yang ikut jadi perancang awal lahirnya KRP adalah Tiga Berkawan dari Komunitas Budaya APPEQ JANNANGANG, yakni Zulfihadi, Mursalin dan Abdul Rasyid Ruslan. Zulfihadi yang kesehariannya mengajar di SMK Tumpiling Wonomulyo ini memiliki kemampuan IT yang cukup. Kemampuannya membaca aksara lontar ditunjang dengan arsip yang juga tak sedikit membuat pergerakan KRP lebih kepada spesifiikasi kajian kebudayaan. Zulfihadi yang kini menjadi Founder dan Ceo Bisnis KOPI CAP Maraddia ini merupakan generasi Sulawesi Barat yang pertama merancang dan medesain LONTARAQ DIGITAL yang bias diakses dari google (Googel Play).

           Soft Launching Lontara’ Digital ini dihelat pada bulan April 2015 di café Republik Manding dan di Markas KRP pada pada bulan Mei 2015 yang dihadiri oleh Darmansyah (Ketua DPRD Majene), Hamzah Ismail (Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Tinambung), Ridwan Muhammad (Dari Disbudpar Polman), Muhammad Ridwan Alimuddin (Wartawan Senior Radar Sulbar), almarhum Bakri Latief (Budayawan dan Seniman Mandar), Nurdin Hamma (Penasehat KRP), serta tokoh masyarakat dan warga teater Flamboyant Mandar.

Dalam kegiatan Lounching LONTARAQ DIGITAL ini, Drs. Darmansyah langsung merogoh Rp. 1.5000.000,- dari kantongnya untuk mensupport gerakan pemeliharaan dan sosialisasi APLIKASI LONTARAQ DIGITAL ini. Demikian juga Hamzah Ismail. Bukan hanya itu, selaku Ketua DPRD Majene, Darmansyah kemudian mengundang Manajemen KRP untuk hadir sosialisasi Aplikasi ini dalam rangkaian acara HARI JADI MAJENE KE-470 tahun 2015 yang kali pertama diperingati secara besar-besaran pasca disahkannya Perda Hari Jadi Majene, dimana Darmansyah adalah Ketua Pansus Hari Jadi Majene, sebelum akhirnya ia menjabat Ketua DPRD Majene (2014-2019). 

Mursalin, S.Pd yang lebih dikenal dengan gelaran Kaco Kende Tandiapa (nama akun facebook) ini juga seorang desainer yang cukup kreatif. Dari tangannyalah lahir berbagai macam pamphlet, brosur, media publikasi sampai pada editing video kegiatan di Lapangan. Akun Youtube galerikopicoqboq.gmail.com cukup banyak memuat domumentasi kegiatan di berbagai daerah pelosok yang tentunya lahir dari tangan emas seorang Kaco Kende Tandiapa. Video youtube Anak-Anak Langit sampai saat ini masih bias diakses, termasuk desain buku Novel Towaine Tinambung, Buku Dongeng Rumah Pustaka, Logo Komunitas Rumah Pustaka sampai pada logo Rumah Kopi dan Perpustakaan masih merupakan karya tangannya.

Desainer dan Pelatih Tari yang pawai memukul gendang ini juga seorang actor yang banyak mengisi pertunjukan teater. Ia juga sering tampil menjadi sosok yang dipercaya membawakan sambutan penghormatan sesi Mattaroala (Pattaroala) dan Memamnna (Pamanna). Sosk muda ganteng berkulit putih ini juga seorang penulis. Naskah buku Olong Piondo adalah karya pertamanya, meski sampai saat ini belum pernah diterbitkan. Novel Daeng Rioso’ yang ditulis oleh Ilham suriping adalah hasil garapannya mulai dari editing, layout, cover sampai penerbitan merupakan proses kreatifnya dalam dunia perliterasian di Mandar.

Demikian juga dengan sosok muda bernama Abdul Rasyid Ruslan ini. Mahasiswa abadi yang tak pernah selesai dibeberapa kampus di Makassar ini menjadikan markas KRP di Kandemeng sebagai rumah keduanya selepas memutuskan untuk hengkang dari Kota Daeng. Rumah Kontrakan yang jadi markas KRP di Kandemeng ini dijadikan sebagai tempat berkhalwat untuk menentukan kemana dan jadi apa setelah pension jadi mahasiswa. Seama beberapa hari, ia berdiam diri dan terus melakukan upaya agar brand Juragan Pasar-nya bias tetap eksis.

Suatu malam, ketika parade malam takbiran di Tinambung mulai bergemuruh dengan tabuhan ganrang (bedug), ia pamitan. Dengan motor Matic Merah Merk Mio Sporty, Ia menghilang dari balik keramaian jamaah takbiran. Deru mesin motornya hilang ditelan malam dan gelombang suara takbiran diangkasa. Rayid Ruslan sudah memutuskan harus berangkat ke Tapalang untuk mengambil beberapa sampel batu yang katanya mau diekspor ke luar negeri.

Kajian kebudayaan Rasyid memang agak medalam, kendati ia tidak masuk pada wilayah kajian historisnya, melainkan pada kajian sosok pemimpin atau Mara’dia di era kepemimpinan tradisional zaman kerajaan. Salah satu gaya kepemimpinan yang tuntas ia kaji adalah Tokape. Trip perdagangan kopra yang terus berjalan di eranya meski dibawah baying-bayang penjajahan Belanda yang saat itu afiliasi ke Istana, bahkan mendirikan loji di sekitaran Istana atau rumah kediaman Arajang Balanipa, Mandawari.

Entah dengan cara apa dan bagaimana. Setelah 3 bulan menghilang dari markas, tiba-tiba ia muncul di Markas KRP dengan mengendarai mobil Fortuner Plat DC 1. Rupanya, ia datang menjemput kami agar hadir di acara ritual Makkuliwa. Kuliwa adalah ritual untuk selamatan atas sebuah kendaraan yang baru dibeli. Sebelum digunakan untuk bekerja, kendaraan harus di-kuliwa sebagai ritual doa selamat menggunakan kendaraan. Malam itu, kami diam seribu bahasa selama dalam perjalanan. Hal itu dipicu oleh kehawatiran keselamatan dijalan sebab Rasyid yang menyetir dimana selama ini kami tak pernah dengan Rasyid bias mengoperasikan kendaraan roda empat. Pemicu kedua adalah perasaan tak percaya, kok bias ya, hanya tiga bulan anak muda ini sudah bias membeli Mobil Fortuner yang tentu harganya tidak umum bagi kelas masyarakat biasa.

Dan setelah prosesi kuliwa itu berjalan, kami akhirnya yakin bahwa mobil itu memang milik pribadinya dan dibeli dengan uang Cash bukan kredit di pembiayaan. Kami akhirnya menerima kenyataan dengan rasa syukur yang mendalam. Sisa satu yang kami tak faham, Rasyid ini bisnis apa ya? Jangan-jangan ia jadi pengedar narkoba atau jadi mafia. Hahahah. Sejumput rasa itu berkecamuk tak pernah ditanggapi serius oleh Rasyid sampai kami diantar pulang ke Markas KRP.

Semiggu kemudian, Ia kembali muncul dengan beberapa unit mobil ekspedisi. Ia singgah dan menjelaskan bahwa monil boks itu memuat ikan asin yang saya beli dari nelayan pesisir Sulawesi Barat. Saya kemudian percaya saja, sebab kenyataan ia tak mungkin bias memakai mobil mahal jika tak memiliki usaha yang omzetnya besar. Tapia pa mungkin, ikan asing dengan beberapa mobil bok besar itu memungkinkan untuk diekspor?. Lagi-lagi saya dkk harus menyerah dan pasrah pada kenyataan. Kanyataan kedua yang kami tak bisa percaya tapi ini fakta adalah ketika ia datang membawa bungkusan berisi ikan asing dan ikan teri (lure) serta seikat uang senilai Rp. 3.000.000 dan bukti transfer senilai Rp. 6.000.000 ke Jogya untuk biaya produksi buku Novel Towaine Tinambung. Oh, Tuhan. Rio Rannu’u mating nasammi dialla’biratta’. Rasa syukur tentu diikrarkan, sebab Rasyid memberikan uang itu Cuma-Cuma dan meminta membuat satu bangunan model café di depan. Bahannya harus dari bahan bambu, atap rumbia dan gamacca (alisi’). Tak boleh ada atap seng atau dinding tripleks. Model bangunan terserah yang pernting artistic. Itu saja pesannya, lalu minta pamit lagi.

Setelah bangunan jadi, ia kahirnya datang dan meminta untuk memasang papan nama RUMPITA (Rumah Kopi dan Perpustakaan). Mursalin atau Kaco Kende dapat tugas untuk merancang desain spanduk sekaligus logo untuk dipasang di depan Markas. Kini, Komunitas Rumah Pustaka memiliki usaha berupa Café yang diintegrasi dengan buku yang saat itu juga sudah mulai banyak berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia. 

KONSEP RUMPITA LAHIR


Abdul Rasyid Ruslan Direktur CV. Juragan Pasar tak pake fikir lama langsung merogoh koceknya jutaan rupiah untuk menginjeksi semangat literasi dalam bentuk Rumah Kopi dan Perpustakaan disingkat Rumpita. Rumpita kemudian tampil menjadi tradisi baru yang menyatukan konsep gerakan sosial bidang literasi dengan konsep kewirausahaan (entrepreneur).

Rumpita lahir dan menjadi gerakan sosial dengan panding dana yang jelas, yaitu dari penghasilan Rumah Kopi atau Café yang dikendalikan oleh Mama Kirana, Istri dari Ramli Rusli. Gerakannya terawatt dan tak pernah bersentuhan dengan pemerintah untuk mengantongi anggaran. KRP dan Rumpita kemudian menjadi wadah untuk mencerdaskan generasi dengan fasilitas buku bacaan dilengkapi fasilitas jaringan WIFI yang bisa dinikmati setiap pengunjung. Pihak rumpita menyediakan menu kopi susu, gorengan dan binte'.

Membuka usaha kreatif via Rumpita adalah salah satu upaya untuk memperoleh keuntungan secara bermartabat yang sebagian dari keuntungan itu dialokasikan mendanai operasional kegiatan literasi. KRP dan Rumpita dalam perkembangannya ikut membantu pemerintah Polewali Mandar sebagai media mencerdaskan kehidupan bangsa.

Rumpita lahir sebagai upaya untuk menyiasati biaya operasional dan untuk memperoleh uang secara bermartabat. Tidak ada proposal permohonan bantuan, yang ada adalah membentuk kepribadian dan kemandirian. Rumpita fokus dengan kegiatan diskusi literasi, bimbingan menulis dan bimbingan belajar Bahasa Inggris, Membaca Lontaraq, Desain Web Versi Android, dll. Sementara Rumah Pustaka yang dikomandoi Ramli Rusli menjadi pustaka yang bergerak. Konsentrasi kegiatan tidak saja di satu kabupaten, tapi merambah ke Kabupaten Majene dengan membuka Bilik Baca Rumpita dibeberapa tempat mulai dari internal mahasiswa di Unsulbar, lembaga kajian sampai kelompok pemuda dari Kota Majene hingga ke Sendana.

Beberapa bulan kemudian, Manajemen KRP telah berdiri sendiri dengan menggarap Kabupaten Polewali Mandar dan Mamuju Utara. Manajemen Rumpita konsentrasinya di bidang usaha dan kajian dengan tetap bergerak dibidang literasi dengan dibantu bilik baca. Mereka telah ikut berkonstribusi dilingkup pemerintahan dan komunitas masyarakat dalam penguatan literasi.

Penguatan yang dimaksud dengan menggarap beberapa buku tentang Mandar untuk diterbitkan. Beberapa buku yang telah lahir baik digarap langsung maupun yang melibatkan dari Rumpita (2015-2020) antara lain:

1.  BUKU HASIL LOMABA PENULISAN CERPEN 2015 (Penulis Nurlia, Andi Syura Mulis dkk)

2. Novel TOWAINE TINAMBUNG, 2015-Dins Publishing Jogyakarta (Dinda Prameswari)

3. DONGENG, Kumpulan Tulisan Guru PAUD Kec. Tinambung, 2015-Dins Publishing

4. PU’AJI TOKKE, Kumpulan Puisi Mandar 2016-Rose Jakarta Pusat (Bakri Latief),

5. JEJAK JEJAK MANDAR, Kamus Sejarah dan Kebudayaan Mandar, 2017- Gerbang Visual-Polewali Mandar (Drs. Darmansyah dan Muhammad Munir dkk).

6. KOTTAU WARISAN NUSANTARA, 2017-Plus Tangeran kerjasama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Polewali Mandar (Suryananda editor Muhammad Munir)

7. KALINDA’DA KONTEMPORER Cinna-Cinnau-Cinnamu, Cinnata-Cinna-Na, 2017- Rose Jakarta (Bakri Latief editor Muhammad Munir)

8. JEJAK IBU AGUNG ANDI DEPU, 2018- Dinas Sisial Provinsi Slawesi Barat (Muhammad Munir dan Andi Topan Parengrengi)

9. IBU AGUNG HJ, ANDI DEPU (1907-1985), 2018-Gerbang Visual Polewali Mandar (Muhammad Munir dkk)

10.MERAWAT SEJARAH PERLAWANAN I CALAO AMMANA WEWANG, 2018-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daeran Provinsi Sulawesi Barat (Muhammad Munir dan Syahrir Hamdani)

11. TOBARANI, 2018-RUMPITA Tinambung (Muhammad Munir)

12.Nyanyian Secangkir Kopi (Kumpulan Tulisan Peserta Workshop Penulisan MWCF 2018), 2019-Gerbang Visual Polewali Mandar

13.MAPPURONDO, 2017-2019- Anara Publishing Jember Jawa Timur (Hendry Jonatan Manase Editor Sarman Sahuding)

14.OLIOREANG, 2019- Anara Publishing Jember Jawa Timur (Sahabuddin Mahganna)

15.SEKOLAH ALA NEGERI SAKURA, 2019-Anara Publishing Jember Jawa Timur (Sunarto Nasir)

16.KOPI AROMA KOPI, 2019-Anara Publishing Jember Jawa Timur (Hadri H)

17.DIASPORA ISLAM DI MANDAR, Dari Gerakan Kultural Hingga Hegemoni, 2019 (Hasil Program Kerjasama Litbang Kementrian Agama)

18.Enigma, 2019- Rose Jakarta (Antri Jayadi)


Buku-Buku Garapan RUMPITA Tahun 2020 (Sementara Proses):

1.  GURU PEJUANG DARI MANDAR, (Biografi Hj. Maemunah dan GAPRI 5.3.1), 2020-Anara Publishing (Muhammad Munir dkk)

2. IMAM LAPEO, 2020-Anara Publishing Jember (Sarman Sahuding Editor Muhammad Munir)

3. MENJEJAK MANDAR MENGEJA ISLAM, 2020-Anara Publishing (Hamzah Durisa Editor Muhammad Munir)

4. PUTIKA, Online Dengan Tuhan, 2020- (Muhammad Munir)

5. LONTARA’ MANDAR, Panduan Sekolah Lontar, 2020- (Muhammad Munir)

6. SANDO, 2020- (Muhammad Munir)

7. KOLONI MANDAR DI NEGERI BUGIS, 2020-(Muhammad Munir)

8. KABAR DARI MANDAR (Edisi Revisi Dari Buku Jejak-Jejak Mandar), 2020 (Muhammad Munir)

9. MELANCONG KE NEGERI LASKAR PELANGI (Reportase Topole Dibalitung dan Tomatindo di Balitung), 2020- Gerbang Visual Polewali Mandar (Muhammad Munir)

10.SINISME LELE, Anekdot, Banyolan dan Cerita Tammalele), 2020- (Muhammad Munir)

11. DIALOG DENGAN INDONESIA (Mata Kuliah Tammalele di Universitas Alama Raya),2020 (Muhammad Munir)

12.

Hal penting yang perlu dicatat, dalam gerakan literasi dan menebaran virus membaca sejatinya muncul komunitas yang dengan rela melakukan penebaran virus literasi. Jika hanya datang ke satu titik dan pergi ketitik lain tentu tak akan maksimal. Atas dasar itulah, KRP dan Rumpita membuka Bilik Baca Rumpita dibeberapa titik sebagai upaya penguatan terhadap penebaran virus literasi di Provinsi Sulawesi Barat. Selain itu, sinergi dengan beberapa penggerak, baik yang telah terbentuk maupun yang baru mau dibentuk. 

Program Bilik Baca Rumpita yang dimulai pada tahun 2015-2016 sudah ada 10 titik di kabupaten Polewali Mandar dan Majene. Setiap titik diberikan fasilitas buku bacaan 100 eksemplar untuk dibaca olen masyarakat di sekitar secara gratis. Namun program ini distop pada pertengahan tahun 2016, sebab beberapa komunitas mulai bermunculan. Salah satu yang mulai muncul adalah Perahun Pustaka dan Nusa Pustaka yang digagas oleh Muhammad Ridwan Alimuddin, Peneliti Maritim dan Wartawan senior di Radar Sulbar. Ridwan yang sebelumnya bergerak melalui moda Becak Pustaka, menyusul Motor Pustaka bersama Volunter Urwa.

Gerakan Ridwan terus berkembang dan makin intens publikasinya setelah launching Perahu Pustaka di Ba’batoa melalui jasa Nirwan Ahmad Arsuka. Berikut Launching Nusa Pustaka Pambusuang yang menghadirkan Kang Maman Suherman. Dari sini, semua moda pustaka Ridwan semakin dikenal terutama oleh Kang Maman yang intens melakukan promosi dan publikasi melalui stasion TV. Puncaknya, Stasion TV CNN menyangkan profil Nusa Pustaka dan Perahu Pustaka dimana Muhammad Ridwan Alimuddin diberitakan sebagai sosok penggerak dan pemerhati literasi yang berlayar ke pulau-pulau sambil bawa buku. Dari tayangan-tayangan itulah komunitas literasi lahir dan menjamur di berbagai wilayah di Sulawesi Barat. Mereka yang membentuk itu ada sebagaian yang orietasi untuk bisa setenar Ridwan Alimuddin. Ada yang memang secara sadar bahwa gerakan ini mesti kolektif.

Mereka yang bertumbuh bak cendawan itu kian eksis dan intens melakukan berbagai cara. Ada yang menghadirkan media setiap ada kegiatan. Ada yang bergerak saja tak peduli mau dapat apa. Praktis, sepanjang tahun 2016-2017 itu, berbagai media, baik cetak maupun eletronik kerap dihiasi oleh para penggerak literasi. Diantara beberapa yang bergerak dan popular oleh publikasi media itu kemudian hilang tanpa jejak. Dunia perliterasian di sulbar lesu diawal tahun 2017. Beruntunglah ada Nirwan Ahmad Arsuka yang tiba-tiba mengajak simpul-simpul penggerak literasi dari seluruh wilayah nusantara untuk membuat wadah PUSTAKA BERGERAK INDONESIA (PBI) yang puncaknya ka diundang oleh Presiden Joko Widodo ke Istana pada tanggal 17 Mei 2017.

Pustaka Bergerak Indonesia menjadi tranding topic media, terlebih setelah Joko Widodo mencanangkan program FCL (Free Cargo Literasi) dengan menggandeng PT. Pos Indonesia sebagai mitra pengiriman paket buku setiap tanggal 17 bulan berjalan. Kembali para penggerak yang tadinya lesu itu muncul kembali dengan berbondong-bondong mendaftarkan komunitasnya ke Pustaka bergerak agar bias mendapatkan donasi buku dari berbagai daerah di Indonesia. Pustaka bergerak semakin nyata gerakannya. Simpul simpul terus bertambah tiap bulan hingga mencapai ribuan pustaka bergerak seluruh Indonesia. Sontak, Indonesia jadi Negara dengan arus kiriman buku paling aktif. PT. Pos yang memang sudah berpengalaman dalam persoalan pengiriman paket ini juga sangat berperan nyata sehingga FCL bias berjalan dengan maksimal.


KOMUNITAS PUSTAKA BERGERAK SULAWESI BARAT

 

Sebelum Pustaka Bergerak Indonesia dibentuk, selain Nusa Pustaka dan Perahu Pustaka, slah satu yang intens dan konsisten melakukan gerakan adalah munculnya Rumah Baca I Manggewilu dan Museum Naskah Lampu Paindo. Fondernya adalah seorang pemuda lajang yang kesehariannya menjadi Staf di Unsulbar serta Dosen di UT. Komunitas yang dibentuk oleh Thamrin ini kerap terlibat dalam kegiatan Rumpita yakni Wisata Buku. Dengan gencarnya, Thamrin menyewa Bentor Tiga Roda untuk memobilisasi gerakannya yakni gelar buku di berbagai daerah di Kabupaten Majene. Selain itu, kolong rumahnya ia sulap menjadi rumah penampungan buku yang setiap malam dibuka bagi siapa saja yang ingin mem membaca buku.

Setelah Thamrin, muncul Saleh dengan menggunakan moda sepeda. Ia membuat brand Ontel Pustaka yang setiap saat berkeililing di kota Majene sambil bawa buku. Lalu muncul KOPI Sendana, Lentera Rumpita Lembang, Rumah Baca LKMM, Reading Days Prodi Kehutanan Unsulbar, Rumah Baca Prodi Hukum Unsulbar, Educare, Antrabes Rutan Majene, Jalaluddin Rumi Pustaka, Serambi Sastra Mandar dan lainnya. Semua meneriakkan gerakan dan Salam Literasi disetiap tempat dimana mereka melakukan kegiatan. Bukan hanya Majene, Kabupaten Polewali Mandar juga mulai bermunculan antara lain Tata Edukasi, GPS PM, Komunitas PULPEN, Rumah Baca Todakka, ALTAR, Agent Of Sharing, Kampung Pendidikan dan lainnya. Semua tersimpul dalam Pustaka Bergerak Indonesia.

Sepanjang 2015-2017 ini, gerakan literasi semakin membumi khususnya di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar. Menyusul Mamasa, Mamuju dan Mamuju Tengah dan paling akhir Pasangkayu. Semakin menggembirakan sebab sampai saat ini, mulai tahun 2017, sedikitnya 10.000 eksemplar buku telah kami donasikan ke berbagai komunitas dan desa-desa pelosok di wilayah Sulawesi Barat.




Artikel Terkait

Kesenian Jarang Jenggo Solokuro Lamongan

Kesenian Jaran Jenggo Adalah Kesenian Tradisional Masyarakat Desa Solokuro Yang Telah Lama Hidup Dan Berkembang Di Tengah Masyarakat Pendukungnya. Desa Solokuro Sendiri Merupakan Desa Dengan Luas...

Fenomena Guru-menulis Akankah Masih Bertahan...

Berjualan Buku Di Negeri Yang Penduduknya Tidak Suka Membaca Adalah Tindakan Heroik. (andrea Hirata – Orang-orang Biasa)syahdan, Seorang Guru Yang Mengaku Penulis, Membagikan Sebuah Gambar Jpeg...

Agenda Mendesak Bangsa : Memperjuangkan Bacaan

@muhammad Munir(founder Rumpita Sulbar Wa 082113008787 Email Rumpitasulbar@gmail.com)sebuah Catatan Nirwan Arsuka Terkait Seruan Tentang Gerakan Literasi Parlemen, Tentu Harus Diapresiasi Bersama,...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul