Menjumpai Para Penggerak Dan Merajut Jejaring Yang Terserak

Picture by Ahmad Wahyu Rizqiawan

Ditulis Oleh : Ahmad Wahyu Rizqiawan - 01 Desember 2019


Tak hanya manusia yang mampu menyusun buku. Tapi, buku-buku mampu menggerakkan, menyusun dan membentuk semesta episode kisah hidup manusia. 


Dua hari sebelum tulisan ini ditulis, saya menghubungi Mas Nirwan untuk meminta kontak simpul Pustaka Bergerak (PB) yang ada di Kota Solo. Kepada saya, Mas Nirwan memberi dua buah kontak telepon untuk dihubungi. 


Kontak pertama Onok Slastiyan dan kontak kedua Danny Setiawan. Keduanya belum pernah sekalipun saya temui. Saya mengenal Mas Onok melalui media sosial. Sedang Mas Danny, bahkan saya belum tahu apa nama media sosialnya. 


Dalam perjalanan, saya teringat episode sebuah novela berjudul La Casa de Papel — yang di Indonesia diterbitkan Marjin Kiri dengan judul Rumah Kertas karya penulis Mexico, Carlos Maria Dominguez. Novela itu bercerita tentang tokoh "aku" yang bertemu sosok pecinta buku bernama Delgado dan Carlos Brauer. 


Ibarat novela tersebut, barangkali saya adalah sosok "aku" yang akan berjumpa dengan dua tokoh pecinta buku hebat bernama Delgado dan Carlos Brauer. Lebih tepatnya: menemui Delgado dan mendengar cerita tentang Carlos Brauer. 


Ya, Delgado dan Carlos Brauer adalah dua sosok bibliofil (pecinta buku) yang memiliki kecintaan pada buku serupa ia mencintai dirinya sendiri. Dan tokoh "aku" adalah narator yang mengisahkan pertemuan dengan dua bibliofil tersebut. 


Melalui pesan WA, saya sepakat bertemu Mas Onok di depan Stasiun Purwosari Solo. Turun dari bus dan beberapa menit menunggu, Mas Onok pun datang. Dia mengenakan jaket berwarna orange khas pemadam kebakaran dan segumpal senyum penuh kelegaan. 


"Tadi sempat kehujanan, eh lupa kalau saya pakai jaket anti air," ucapnya yang langsung kami susul dengan tawa. 


Meski belum pernah sekalipun bertemu, kami berjumpa seperti seorang teman lama yang sudah ribuan tahun tak bertemu. Mas Onok bercerita banyak tentang kegiatan di Rumah Baca-nya. Kami juga menyempatkan diri menikmati kopi, sebelum akhirnya berangkat berkunjung ke rumah Danny Setiawan. 


Pasca adzan ashar berkumandang, kami sampai di sebuah rumah yang terasnya terdapat gerobak angkringan. Dan di tiap jengkal tembok terasnya dipenuhi gambar mural. Memasuki ruang tamu, deretan buku berbaris rapi menempel di temboknya. 


Kami disambut seorang pria berambut gondrong yang mengenakan kaus berwarna hitam. Meski awalnya terkesan sangar, dia teramat ramah pada tamu. Keramahan yang sungguh ensiklopedik dan amat bijak. Dialah sosok Danny Setiawan. 


Dengan rendah hati, Mas Danny mempersilakan kami melihat-lihat isi rumahnya. Sepintas, rumah itu mirip perpustakaan, tapi juga mirip museum. Atau mirip keduanya. Ya, rumah teduh yang mirip perpustakaan dan museum itu bernama Rumah Kriya. 


Rumah berada di pinggir Jalan Hasanuddin Solo itu, tak hanya berisi buku-buku untuk dibaca; tapi juga dijejali ide, konsep, pemikiran dan sejumlah karya hasil kreasi anak-anak binaan Mas Danny. 


Di ruang tamu rumah itu, Mas Danny, Mas Onok dan saya berbincang-bincang tentang banyak hal. Mulai buku-buku, Pustaka Bergerak hingga keajaiban-keajaiban kecil berupa jejaring yang mempertemukan kami bertiga. 


Saya dan Mas Danny tak pernah bertemu sebelumnya. Saya dan Mas Onok juga belum pernah ketemu sebelumnya. Tapi, saat kami berjumpa, rasanya seperti teman lama yang telah lama tak bersua. 


Begitulah, barangkali, tak hanya manusia yang mampu menyusun buku. Tapi, buku-buku mampu menggerakkan, menyusun dan membentuk semesta episode kisah manusia. 


Dari perbincangan tentang buku dan bagaimana ia digerakkan, kami berbincang tentang betapa dahsyatnya kekuatan jaringan. Kekuatan jejaring yang mampu menyatukan manusia secara ideologis hingga psikologis


"Seseorang akan dipertemukan saat memiliki frekuensi yang sama," kata Mas Danny pada kami, sambil menyeruput teh hangat yang ada di depannya. 


Benar sekali. Bagaimana mungkin saya dari sebuah kota kecil di pojokan Jawa Timur, bisa terjalin dan terhubung secara kultural dengan Mas Onok dan Mas Danny yang berada di Kota Solo. Tentu ada semacam spektrum yang mempertemukan kami. 


Kami memang tak sama dalam banyak perkara. Tapi kami, punya minat yang sama dalam hal memeratakan buku untuk dibaca. Itu bukti bahwa Pustaka Bergerak menyatukan misi-misi kami yang amat beragam.


Pustaka Bergerak, tentu sebuah keajaiban. Ia menampung dan mengumpulkan misi-misi kecil yang terserak di berbagai sudut bumi Indonesia. Berfungsi menghimpun jejaring untuk mempertebal semangat para penggeraknya. 


Pustaka Bergerak juga bersifat menyemesta dan universal. Simpulnya ada di tiap kota di Indonesia. Dan tak mensyaratkan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (politik/ideologi) tertentu untuk menjadi bagiannya. 


Saat semua riuh perkara Pilpres, misalnya, Pustaka Bergerak tetap bergerak dan abai pada apapun isunya. Pustaka Bergerak tumbuh secara organik dan bergerak tak kenal periodik. Bukankah itu sebuah keajaiban? Tak hanya keajaiban, bagi saya, itu modal penting sebuah peradaban. 


Mas Danny dan Mas Onok sempat berangan-angan bahwa kelak, entah kapan, Pustaka Bergerak tak hanya berbagi buku. Tapi juga berbagi bermacam ilmu --- sesuai kebutuhan daerah masing-masing akan wujud literasi itu sendiri. 


Literasi, kita tahu, berasal dari kata latin literatus: orang yang belajar. Orang yang tak pernah berhenti belajar. Tentu saja, dengan jaringan yang sudah tertata, Pustaka Bergerak diharap mampu memicu manusia-manusia untuk tak pernah berhenti membaca dan belajar. 


Baik membaca dan belajar dari ayat kauliyah (secara tekstual) maupun membaca dan belajar dari ayat kauniyah (secara kontekstual) terhadap kondisi zaman. 


Saya yang hanya menemui Mas Onok dan Mas Danny saja, mampu merasakan pergolakan semangat yang luar biasa dalam upaya berbagi buku bacaan. Coba bayangkan: andai seluruh simpul PB bertemu, semangat yang terkumpul tentu juga lebih besar. 


Mas Onok dan Mas Danny punya keinginan yang sama. Suatu hari, entah kapan, mereka berharap seluruh simpul Pustaka Bergerak bisa berjumpa. Tentu dalam rangka mempertebal semangat. Atau sekadar memperkuat ikat persaudaraan. 


Benar. Saya serupa mengalami sebuah episode seperti dalam sebuah novela berjudul Rumah Kertas. Lalu bertemu dengan Delgado dan Carlos Brauer. Bedanya, Delgado dan Carlos Brauer yang saya temui berasal dari Kota Solo dan keduanya saya temui secara bersamaan.  


Saya ingat, di baris pertama paragraf kedua bab 1 (bab ‘pembuka’ buku) Rumah Kertas, ada kalimat berbunyi: “buku mengubah takdir hidup orang-orang”. Betapa kalimat itu menggambarkan buku yang mampu mempertemukan Mas Onok, Mas Danny dan saya. 


Sedang di baris terakhir paragraf pertama bab 4 (bab ‘penutup’ buku), berbunyi sebuah kalimat: “orang rupanya juga bisa mengubah takdir buku-buku”. Betapa kalimat itu menggambarkan para penggerak Pustaka Bergerak yang mampu menggerakkan buku di bermacam daerah terpencil di Indonesia.




















John Doe
Ahmad Wahyu Rizqiawan
Pustakawan dan pendamping belajar

Artikel Terkait

Berbagi Rasa Merdeka

Di Era Revolusi Teknologi Dan Informasi Ini, Listerik Dan Buku Adalah Dua Tanda Kemerdekaan. keduanya Membantu Manusia Membebaskan Diri Dari Cengkaraman Kegelapan: Kegelapan Lahir Dan...

Rumah Baca Api Literasi Menjadi Sudut Baca...

Kalau Kita Masih Ingat, Beberapa Tahun Yang Yang Lalu Pernah ada Kampanye Gencar Tentang Perlunya Masjid Memiliki Perpustakaan. Waktu Itu banyak Masjid Yang Mendapat Bantuan Buku Untuk...

Urgensi Literasi Media Bagi Kecerdasan...

Dalam Beberapa Seminar Atau Diskusi Yang Membahas Literasi kekinian, Sering Saya Jumpai Kritik Tajam Ditujukan Kepada Lembaga, Komunitas, Pegiat Literasi Dan Sebagainya Mengenai Kesadaran...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul