Manusia Tak Beradab Itu, Menjadi Sangat Beradab.

Suasana Jepang Dimalam Hari (Sumber : https://www.pexels.com/photo/woman-walking-in-the-street-durin

Ditulis Oleh : Ari Ghi - 19 Agustus 2019

Masa kolonial Belanda menjajah Indonesia selama 3.5 Abad, sekutu Jepang 3.5 tahun dan sejarah-pun menjelaskan bukan pada 3.5 abad, tapi 3.5 tahun-lah Indonesia merasa lebih sengsara, sebab perlakuan dari negara jepang banyak dikisahkan lebih kejam dari perlakuan bangsa Belanda. Salah satu perlakuan itu biasa kita kenal dengan sebuatan Romusa.

Dengan kelicikan propaganda, mengaku sebagai Saudara Tua dari Asia. Jepang berhasil memasuki Indonesia, dengan beralasan akan mengusir Belanda dan akan memberikan kemerdekaan untuk Indonesia. Namun kenyataannya, sejarah berkisah lain. Banyak literatur yang mengatakan betapa tidak beradabnya perlakuan Jepang pada saat itu.

Begitulah sejarah menjelaskan tentang masa lalu. Perihal Jepang yang pernah menjajah negeri kita. Kemudian tahun demi tahun berlalu. Kita sudah sama-sama merdeka. Orang Belanda harus kembali ke negaranya, orang Jepang juga kembali kenegaranya sendiri. Dan kemudian harus sama-sama menjaga ketertiban dunia.

Seiring berjalan waktu itu, hingga detik ini. Dahulu saya berfikir bahwa Jepang itu sangat kejam sangat biadab dan tidak berperi kemanusiaan. Sebab pengalaman masa lalu yang benar-benar membuat sakit hati. Namun tidak dengan sekarang, orang-orang tidak biadab itu menjadi sangat beradab.

Saat saya berkesempatan mengunjungi negara tersebut. Suasananya benar-benar berubah, tidak lagi seperti yang ada dalam pikiran saya terdahulu. Semua berubah disini, semua menjadi sangat tertata dengan biak. Jika tata kotanya saja yang rapi, mungkin saya tidak heran, sebab negara ini memang negara maju.

Akan tetapi yang menjadi sorotan saya adalah, orang-orangnya. Semua disiplin, taat aturan dan bahkan tingkat kejahatan di kota ini sangatlah minim.

Sepanjang jalan, jika kita berjalan di trotoar maka kita tidak akan menemukan kemacetan. Tidak akan menemukan kesemrautan kendaraan, bahkan jarang sekali saya melihat orang mengendarai motor. Rata-rata orang memilih berjalan kaki. Disetiap persimpangan jalan disini, ada semacam lampu lalu lintas yg dikhususkan untuk para pejalan kaki. Jika lampu tersebut merah, maka mereka harus berhenti,intinya seperti lampu lalu lintas di negara kita. Yang menjadi istimewa bagi saya, mereka dengan penuh kesadaran. Diawasi atau tidak, bahkan tidak ada pengawasan sama sekali. Mereka tetap dengan tertib dan disiplin mematuhi aturan tersebut.

Bahkan pernah suatu malam, yang terbilang sudah sangat larut, tidak ada kendaraan dan jalanan sudah sangat sepi. Saya berjalan menuju hotel, dipersimpangan jalan saya melihat seorang yang sedang berdiam diri menunggu lampu jalan berubah menjadi hijau. “Whats Man?, ini sudah tengah malam kawan. Lu lewat, juga ngak bakalan ada orang nabrak atau menghalangi jalan lu. Lu tinggal nyebrang!", Pikir saya dalam benak.

Tapi orang jepang, tetaplah orang jepang. Kedisiplinan tidak akan mengenal waktu. Dimana dan dengan siapa, dia sepertinya harus selalu melekat pada diri setiap warganya. So, bagaimana dengan saya dan dengan rekan-rekan sekalian?, Man kita tertinggal jauh. Tidak perlu-lah saya menjelaskan bagaimana dengan kita. 

Sepanjang jalan, jika kita berjalan lagi. Kita tidak akan menemukan tempat sampah. Sepertinya di sepanjang jalan kota ini, tidak disediakan tempat sampah. Namun jangan salah, tidak pernah saya melihat satupun sampah plastik atau sampah kertas berserakan atau tercecer di sepanjang jalan yang saya lewati. Bahkan di gedung-gedung sekalipun, kita hanya akan menemukan tempat sampah di toilet, atau ruang-ruang tertentu. Saya sangat kesulitan jika memegang sampah disini. Akhirnya, harus saya jinjing atau harus saya kantongi saja jika sampah itu muat di kantong saya. "Gila, gimana cara ngebuat karakter mereka kaya gini ya.?".

Lalu, jika kita mencoba ke pusat perbelanjaan, ke stasiun atau tepat dimana semua orang harus mengantri. Sepertinya tidak perlu saya jelaskan dengan detail. Tampaknya tanpa saya jelaskan ini, saya yakin anda tau. Bahwa mereka akan berbaris dengan sabar dan rapi, tidak ada yang saling mendahului atau yang rusuh menyela.

Hal yang paling penting juga bagi mereka adalah harga diri. Bahkan jika kita bertanya sesuatu tentang pengetahuan yang mereka jelaskan, lalu mereka tidak bisa menjawab, maka mereka akan menangis. Wahhh, konyol. Tapi itu kenyataannya.

Mungkin dari kita ada yang pernah mendengar istilah Harakiri. Iya, itu budaya bunuh diri yang sudah turun temurun diwarisi oleh para Samurai. Bisa jadi, mereka akan melakukan Harakiri, jika harga diri mereka terlecehkan atau mereka merasa sangat malu. Semisal, ketika mereka ketahuan melakukan tindak Korupsi mungkin, maka tidak heran tingkat korupsi di negara ini sangat minim sekali. Tidak seperti di negara kita, dimana korupsi merajalela. Mungkin kenapa para pejabat kita doyan korupsi, karena mereka tidak menghargai diri mereka, bahkan tidak memiliki harga diri mungkin.

Well, kesimpulannya. Negara yang dulu tak tak beradab ini sudah sangat beradab kawan. Apa kabar dengan negara kita ?, negara yang konon katanya penuh adab dan budaya lokal yang sangat kaya akan kaidah sopan santun. Mari kita sama-sama menilai sendiri. 

Saya menuliskan ini bukan sebab uforia saat di negara orang, atau berniat membanding-bandingkan Indonesia dengan Jepang. Tapi harapan saya, ini menjadi perenungan bersama. Hal dasar yang perlu kita terapkan jika negara kita ingin maju.


John Doe
Ari Ghi
Hello, my Name is ghi. Seorang yg menyukai hal-hal yg berhubungan dengan dunia sosial. Saya juga bagian dari pustakabergerak Indonesia.

Komentar

Lihat Komentar Lainnya
mayor ghi
mayor ghi 2019-10-14 16:17:22

Keren mas tulisannya.

Ari Ghi
Ari Ghi 2019-10-20 09:52:15

Iya dong

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul