Hasil PISA Dan Cubitan Untuk Dunia Pendidikan Indonesia

Picture by Ahmad Wahyu Rizkiawan

Ditulis Oleh : Ahmad Wahyu Rizkiawan - 13 Desember 2019

Tiga negara teratas dalam rangking PISA, punya tradisi membaca buku yang progresifnya luar biasa. Itu menunjukkan secara tegas bahwa perkembangan literasi di sebuah negara berbanding lurus terhadap kemajuan pendidikannya.


Penilaian Siswa Internasional atau OECD Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 baru dirilis hasilnya pada Selasa (3/12) lalu. Dan yang didapat Indonesia, tentu serupa saat kita menyaksikan Timnas sepakbola Indonesia kala melakoni laga internasional: masih mengecewakan.


Penilaian internasional diselenggarakan

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tersebut, demi mengetahui kemampuan siswa secara komprehensif di seluruh dunia; wabilkhusus dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains itu, menunjukkan bahwa pembangunan sumberdaya manusia memang sangat dibutuhkan Indonesia.


Dari hasil penilaian tersebut, terbukti kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar Indonesia masih amat rendah. Secara umum, Indonesia berada di peringkat 75 dari 81 negara di dunia. Tentu saja, ini menjadi cambukan keras bagi dunia pendidikan Indonesia.


Penelitian tersebut membeber jika kemampuan membaca siswa Indonesia mendapat skor rata-rata 371. Tertinggal jauh dari Cina, Singapura, Makau, dan Hong Kong yang berada di peringkat teratas dengan skor lebih dari 525. Sialnya, hasil ini turun dari skor 397 yang didapat Indonesia pada 2015 lalu.


Tak hanya kemampuan membaca, skill berhitung atau matematika siswa Indonesia mendapat skor 379. Hasil ini bahkan jauh dari Cina yang mencapai 591 dan Singapura yang mencapai 569. Sialnya, angka ini turun dari skor 386 yang didapat Indonesia pada 2015. 


Sedang untuk kemampuan sains, Indonesia mendapat skor 396, jauh di bawah negara sebesar Kota Surabaya --- Singapura --- yang bertengger di posisi kedua dengan skor 551. Dan sialnya, angka ini turun dari skor 403 yang didapat Indonesia pada 2015 silam.


Kesialan-kesialan itu, tak pantas kiranya jika hanya dirutuki belaka. Tapi harus dicari tahu dan ditemukan, perkara apa yang menyebabkan kita masih sering tertimpa sial, serupa Timnas sepakbola Indonesia yang kerap gugur di laga final kompetisi internasional.


Mari kita cek sejumlah hasil secara lebih detail. Untuk bidang Matematika, 3 negara di urutan paling atas adalah Cina (591), Singapura (569), dan Makau (558). Sedang Indonesia berada di urutan ke 72 dengan skor (379).


Ayo kita cek lagi sejumlah hasil secara lebih rinci di bidang membaca. 3 negara urutan teratas masih sama; Cina (555), Singapura (549) dan Makau (525). Sementara Indonesia berada di urutan ke 72 dengan skor (371).


Selanjutnya, kita cek lagi hasil secara rinci dari bidang sains. 3 negara di urutan pertama masih tetap sama. Cina (590), Singapura (551), Makau (544). Sedang Indonesia, berada di urutan 70 dengan skor (396).


Setelah membaca hasil rinci tersebut, mungkin ada dua hal yang bakal mengisi kepala kita. Pertama: ternyata di dunia ini ada sebuah negara bernama Makau dengan kualitas pendidikan sangat bagus. Dan kedua: kebiasaan apa sih yang membikin negara-negara itu punya rangking bagus di PISA?


Ternyata, 3 negara urutan pertama dalam hasil PISA tersebut, punya riwayat tradisi membaca yang luar biasa besar. Istilahnya, pemerintah benar-benar ngopeni masyarakat untuk bisa terus membaca.


Kebiasaan Membaca di Negara-negara Juara PISA


Cina

Sebuah survei kebiasaan membaca dirilis Akademi Pers dan Publikasi Cina menunjukkan, pada 2017, orang Cina dewasa membaca rata-rata 7,78 buku setahun, dan anak-anak dan remaja di bawah 17 membaca 8,81 buku.


Survei mencakup 18.666 sampel yang dikumpulkan dari 29 provinsi itu, menunjukkan pada 2017, penduduk kota memiliki kebiasaan membaca sebesar 67,5 persen. Sedang penduduk desa memiliki kebiasaan membaca sebesar 49,3 persen.


Dalam beberapa tahun terakhir, pembacaan secara digital berkembang pesat di Cina. Pada 2017, misalnya, pembaca digital di Cina mencapai 73 persen. Angka itu terbilang naik. Sebab, pada 2016, pembaca digital di Cina hanya sebesar 68,2 persen.


Singapura

Singapura punya National Library Board (NLB), semacam Perpus Nasional yang punya program Read at School bagi anak-anak usia 7 hingga 12 tahun. Tak hanya itu, NLB juga memiliki program Sure, Understand, Research dan Evaluate (SURE) yang diperuntukkan segala usia.


Program SURE dilakukan sejak 2013. Tujuannya, memberi pengetahuan soal validasi informasi, khususnya yang berkaitan dengan internet. Khusus program tersebut, NLB bahkan bekerjasama dan di-backup penuh Kementerian Pendidikan agar program lancar.


Makau

Dalam laporan berjudul Serving Library User from Asia (a comprehensive handbook of country-specific information and outreach resources) yang ditulis John Hickok (2019), menunjukkan bahwa sejak 2013, pemerintah Makau menggalakkan perbaikan kebiasaan membaca secara besar-besaran.


Jauh sebelumnya, kebiasaan membaca dan menulis di Makau memang sudah terbangun. Namun, minimnya jumlah penerbit membuat Makau minim produktivitas buku. Tapi, pada 2013, Pemerintah Makau segera memperbaiki perpustakaan dan produksi buku santer digalakkan. Bahkan, festival buku bertajuk Macau Literary Festival diadakan tiap tahun.


Jadi, diakui atau tidak, riwayat literasi di tiga negara tersebut berperan membangun potensi para pelajar mereka untuk kian mudah menjangkau prestasi. Karena itu, saat kita tengok riwayat literasi di Indonesia, kita bakal memaklumi kenapa Indonesia masih berada di posisi paling bawah.


Buktinya, tiga negara teratas dalam rangking PISA, punya tradisi membaca buku yang progresifnya luar biasa. Itu menunjukkan secara tegas bahwa perkembangan literasi di sebuah negara berbanding lurus terhadap kemajuan pendidikannya.


Membaca buku itu penting. Amat penting. Dan secara kolektif sangat penting bagi masa depan sebuah bangsa. Dan yang lebih penting dari itu semua, suplai buku dan kemudahan masyarakat untuk mengakses buku-buku berkualitas juga amat penting. Sebab, minat baca tinggi tapi sulit mendapat buku bacaan, serupa wedang kopi sonder gelas: ambyar!


Sebuah artikel berjudul 45 Facts on The Importance of Reading Books (2019) yang ditulis Chris Drew dan dimuat helpfullprofesor.com, menunjukkan bahwa membaca buku punya peran dan dampak luar biasa dalam hidup. Bahkan, dampak itu bakal dibawa di sekujur usia.


Chris Drew memaparkan alasan --- mayoritas berdasar riset data dan penelitian amat memukau --- kenapa kita harus membaca buku. Tentu saja, saya tak bisa mencantumkan semua alasan itu di tulisan ini. Jika Anda sedang tidak sibuk, Anda bisa membacanya sendiri.


Di antara 45 alasan tersebut, hampir semua membeber alasan kenapa kita harus membaca. Namun, saya hanya akan mencantumkan dua di antaranya saja. Sebab dua hal itu, menurut saya, berkait erat dengan hasil PISA yang beberapa pekan ini ramai dibahas.


Pertama: membaca membantu kita merawat dan membangun fungsi kognitif. Meski membaca dikenal meningkatkan kemampuan berpikir. Tapi sesungguhnya, ini lebih dari sekadar berpengetahuan lebih. Tapi lebih pada meningkatkan kapasitas untuk belajar, mengurai kode, dan memecahkan teka-teki.


Membaca buku seperti pergi ke gym untuk pikiran. Ia melatih koneksi dan memperkuat otak. Para ilmuwan memiliki teori yang disebut fungsi cadangan kognitif. Teori ini mengatakan, semakin banyak kita menggunakan otak (membaca), semakin baik kemampuan mempertahankan dan membangun koneksi mental baru.


Kedua: membaca buku dapat meningkatkan fokus. Dunia saat ini, penuh dengan distraksi. Banyak hal mengkilap cerah yang menyeret perhatian kita ke segala arah, meski hanya melalui kotak kecil bernama ponsel. Karena itu, berkonsentrasi untuk taneg pada satu tugas, bukan sesuatu yang mudah.


Membaca buku dapat menghalangi distraksi dan mengajari kita untuk tetap fokus. Membaca membutuhkan perhatian yang berkelanjutan pada satu hal; membaca buku akan melatih otak kita menenangkan diri dan berkonsentrasi pada tugas yang kita kerjakan.


Dari paragraf demi paragraf itu, sudah seharusnya pemerintah paham bahwa suplai buku dan akses membaca buku amat penting bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Karena itu, apa yang sejak dulu dan hingga kini diperjuangkan kawan-kawan di Pustaka Bergerak, bukan omong kosong belaka.


Saya patut bersyukur, dalam diskusi bertajuk Pisa, Literasi dan Urgensi Road Map Bonus Demografi yang menghadirkan Nirwan Ahmad Arsuka (Pustaka Bergerak), Syaiful Huda ( Ketua Komisi X DPR RI), dan Totok A. Soefijanto (peneliti Universitas Paramadina) beberapa waktu lalu, menghasilkan sejumlah poin. Di antaranya:


1. Gerakan literasi harus jadi gerakan literasi total yang melibatkan semua elemen masyarakat dan pemerintah, bukan hanya kemendikbud saja. Parlemenpun diminta untuk membangun Gerakan Literasi Parlemen.


Syaiful Huda sebagai ketua Komisi X DPR RI akan mendorong gerakan literasi parlemen ini. Bentuknya antara lain; pengumpulan donasi buku dari semua anggota DPR yang akan dikirim ke para relawan di berbagai penjuru. Para anggota DPR didorong untuk ikut membina simpul-simpul pustaka di daerah pemilihan masing-masing.


2. Harus ada kesepakatan nasional tentang arah pendidikan kita yang bertekad membangun budaya ilmiah dan teknologis dan mengejar ketertinggalan di berbagai lini.


Hanya dengan kesepakatan nasional yang jelas dan kuat itu, maka kebijakan otonomisasi pendidikan di berbagai lapisan bisa produktif dan punya kekuatan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045


3. Harus ada perubahan paradigma dan pendekatan radikal atas kebijakan dan pelaksanaan pendidikan dan pengembangan kebudayaan kita. Menteri desa didorong membuat permen yang menegaskan dan menetapkan jumlah tertentu dari Dana Desa untuk pengembangan literasi di seluruh Indonesia.


4. Free Cargo Literacy (FCL) yang melibatkan partisipasi aktif warga harus dihidupkan kembali.


5. Jangan takut pada penyebaran ajaran radikal yang terorganisr, tapi lawanlah dengan memproduksi dan menyebarkan pengetahuan kritis, kreatif dan ilmiah dalam jumlah dan mutu yang jauh lebih tinggi.


Jika 5 poin kesepakatan itu benar-benar dilakukan, saya percaya jika dalam waktu 5 atau 10 tahun lagi, Indonesia bakal mampu mengejar ketertinggalan atas negara-negara lain. Sehingga peringkat PISA pun, bisa jadi, agak ke atas dan tidak terlalu berada di garis degradasi.







John Doe
Ahmad Wahyu Rizkiawan
Pustakawan dan pendamping belajar

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul