Berbagi Rasa Merdeka

Picture by Nirwan Ahmad Arsuka

Ditulis Oleh : Nirwan Ahmad Arsuka - 02 Desember 2019


Di era revolusi teknologi dan informasi ini, listerik dan buku adalah dua tanda kemerdekaan. Keduanya membantu manusia membebaskan diri dari cengkaraman kegelapan: kegelapan lahir dan batin. Dengan listerik, kekuatan indra dan otot manusia mengalami peningkatan pesat sehingga dalam waktu singkat bisa membalik arus air, memindahkan gunung, menandingi matahari. Dengan buku, kekuatan kognitif manusia mengalami metamorfosis yang mungkin pelan namun akhirnya membuatnya sanggup bahkan untuk membayangkan dan sampai batas tertentu mewujudkan sendiri alam semesta yang lain, yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Buku yang bagus memang bisa jadi sejenis jalur hipotetis lubang cacing (worm hole) yang bisa membawa pembacanya tersedot masuk berpindah ke ruang dan waktu yang lain. Jika pun pembacanya tak beranjak dari tempatnya, dunia dan jaman yang ada di buku itu dapat hadir menjelmakan diri merengkuh si pembaca.

 

Seperti sebagian anak Indonesia yang lahir dan menempuh masa kanak-kanak di kampung atau atau pinggiran kota, perkenalan saya yang pertama dengan buku datang dalam bentuk kompilasi ayat-ayat Makkiyah: qur'an kecil. Ketika saya pertama kali memegang kitab itu, tentu saja saya belum tahu apa isinya. Perlu belasan tahun untuk saya agar bisa mengeri betul apa itu ayat-ayat makkiyah dan apa itu kompilasi. Tapi saya cukup mengerti ucapan nenek dan guru mengaji bahwa jika kita membuka buku itu maka berbagai keutamaan akan terpancar dari buku suci itu, dan para malaikat penghuni surga akan terbang keluar melalui kitab itu untuk mencatat amal kebaikan kita. Namun yang sering saya alami ketika membuka kitab tipis itu bukanlah kehadiran malaikat, tapi kemunculan setan yang menghembus pelupuk mata saya dan selalu berhasil membuat saya mengantuk, bahkan tertidur, jika tak ada yang membentak. Tapi,  selain merasakan sendiri naiknya setan-setan penggoda dari dasar neraka itu, qur'an kecil itu selalu menyeret saya pada kenangan yang mengalir bersama suara anak-anak yang belajar mengenal aksara untuk pertama kali, pengenalan yang dilagukan yang kadang diselingi sayup-sayup suara tumbukan di lusung padi, ringkik kuda yang tertambat di halaman, kicauan tekukur liar yang melayang dari hutan tepi kampung. Alepu, ba, ta, tsa ....

 

Banyak cerita yang terbentang antara bocah kampung yang terbata-bata mengeja alepu sampai ke anak kost kesepian yang mencoba melawan tekanan lingkungan dan gelegak hormon dengan cara membaca buku-buku tebal sebanyak mungkin, dan yang kemudian bergabung dengan kelompok mahasiswa yang sama sekali tak keberatan membiayai gerakan dengan menjual buku-buku curian. American Studies Library di UGM sedikit banyak ikut mempengaruhi gerakan mahasiswa di Jogja dengan menyediakan buku-buku mewah yang sangat menarik perhatian. Salah satu buku koleksi perpustakaan ini, yang pernah hampir berjasa, adalah novel Ernst Hemingway, Island in the Stream. Buku berjaket tebal itu sempat dibawa oleh seorang kawan mahasiswa Fakultas Hukum yang wajahnya agak mirip penyair Chairil Anwar, ke sebuah diskusi mahasiswa di Fisip UGM. Sang kawan menawarkan buku bagus karya pemenang Nobel tersebut, dibumbui berbagai pujian termasuk alasan penjualannya: untuk foto kopi poster dan selebaran. Diskusi itu cukup ramai, dihadiri oleh banyak mahasiswa yang sangat bergelora untuk meruntuhkan kekuasaan Orde Baru dan sekalian membangun ulang Tata Dunia Sejagad, namun tak cukup mampu untuk bahkan patungan beli buku yang dibebaskan dari kepemilikan perpustakaan Amerika.

 

Alberto Manguel, penulis dan penjelajah, merangkai sebuah buku populer yang pantas menjadi bagian koleksi wajib di semua perpustakaan, History of Reading. Buku ini tak cuma bicara tentang panggilan jiwa seorang pencuri buku dan beragam hukuman yang menimpanya.  Ia melacak aneka bentuk tindak membaca dan pengaruh sang pembaca sejak ditemukannya tulisan di Sumeria hingga datangnya gelombang digital yang kini menggemuruh di mana-mana. Meskipun tak ada bab khusus tentang pengaruh tindak membaca pada revolusi, namun kita bisa dengan mudah menarik kesimpulan bahwa laku membacalah yang mengubah makhluk pra-manusia menjadi manusia, mengikat serakan menjadi bangsa, mengangkat naluri bertahan hidup naik menjadi peradaban.

 

Pustaka bergerak yang memburu pembacanya adalah tidakan aktif untuk ikut menjangkau yang terserak dan terpencil, dan menautkannya kembali ke dalam ikatan yang lebih luas dan hangat.

 

Sejak ditemukannya simbol dan aksara hingga hari ini, sebagian besar pustaka di dunia ini adalah pustaka tak bergerak. Pustaka bergeming ini, sampai batas tertentu, selalu memancarkan sejenis aura kuasa dan pengetahuan.  Sejak munculnya peradaban, pustaka yang bisa dianggap lengkap hanya mungkin dibangun oleh penguasa yang sangat istimewa. Hanya raja atau ratu yang benar-benar berkuasa, dan yang lebih penting: tercerahkan, yang sanggup membangun pustaka. Ada ribuan, bahkan mungkin jutaan penguasa yang kaya, namun karena tak cukup tercerahkan, mereka tak mampu membangun pustaka dan tak sempat mewariskan khazanah. Kegiatan membangun pustaka memang kegiatan yang sangat mahal dan makan banyak tenaga. Pengetahuan lisan yang terserak-serak, harus dihimpun dulu lalu ditulis menjadi kitab. Sebelum mesin cetak ditemukan dan digunakan luas, para penyalin yang tekun, bekerja untuk menggandakan kitab itu. Tak aneh jika pustaka menjadi benda yang sangat berharga, yang disimpat di tempat yang istimewa bahkan terlindung seperti benteng. Mereka yang memerlukan pustaka itu, harus datang ke tempat pustaka itu dijaga, dan harus tunduk pada sejumlah aturan yang tak jarang menimbulkan rasa berjarak buat mereka yang pertama kali berkunjung.

 

Hari-hari ini kita melihat bahwa pustaka bisa juga dibangun oleh orang-orang yang tak punya kuasa dan kedudukan. Mereka jelas tercerahkan, meskipun mereka mungkin tak punya kuasa yang menundukkan. Mereka itu bisa jadi adalah tukang tambal ban, tukang kuda, penjual jamu, pedagang tahu, tukang foto keliling, tukang video yang meninggalkan kerja tetapnya di sebuah kantor media, seniman yang memboyong keluarganya kembali ke kampung halamannya, atlit yang menganggur, guru di daerah terpencil. Pustaka bergerak yang mereka bangun tidak berusaha terutama untuk punya koleksi sebanyak-banyaknya, tapi untuk mendapat pembaca sebanyak-banyaknya. Para pembangun pustaka ini terus bergerak antara lain karena kehadiran mereka ditunggu dengan tak sabar oleh anak-anak yang mulai menghapal jadwal kunjungan dan jalur perjalanan mereka, anak-anak yang meninggalkan kebiasaannya nonton atau main pada jam tertentu, karena tahu bahwa pada jam tersebut, satu kendaraan pustaka akan melintas.  Mereka terus bergerak karena ketakhadiran mereka akan menimbulkan tanda tanya bahkan kegelisahan dari para pembacanya, dan tak jarang kegelisahan itu dibereskan dengan mendatangi tempat tinggal sang penggerak yang mungkin sedang terbaring sakit dan susah bergerak.  Para pengunjung itu, terutama anak-anak, datang menjenguk mungkin bukan karena mereka benar-benar peduli pada kesehatan si penggerak. Tapi mereka jelas datang karena mereka tak tahan lagi dengan rasa lapar mereka pada bacaan, rasa lapar yang mungkin menahun yang membuat mereka selalu ingin melahap buku apa saja, termasuk buku-buku bekas.

 

Tak banyak anak di Indonesia yang beruntung memiliki orang yang bersedia meluangkan waktu menemani mereka membaca, dan mau bergerak memburu anak-anak sekalipun suplai bacaan masih sangat terbatas. Jumlah pemburu memang belum banyak, tapi kehadiran dan kerja mereka itu nyata. Mereka muncul di berbagai sudut, dan tak jarang mereka bekerja secara mandiri, dengan modal sendiri. Mereka bergerak membangun budaya baca tulis dengan menggunakan sepeda, kuda, becak, motor, bendi, perahu, atau bahkan kaki mereka sendiri. Sebagian besar dari mereka ini tak punya penghasilan tetap, tapi mereka bersedia menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk mengurangi rasa lapar anak-anak pada bacaan yang baik. Agar mendapatkan bacaan yang cukup layak, ada penggerak yang tak ragu berburu sampai ke sarang pengepul barang rongsokan. Ada juga penggerak yang terus berjalan kaki memanggul noken mencari dan membujuk anak-anak membaca, sekalipun anak-anak yang belum mengenalnya kerap menghindar sebelum akhirnya teryakinkan.  Untuk mencapai anak-anak di pulau yang kekurangan buku, ada penggerak yang tak keberatan melaut dan meninggalkan keluarganya berhari-hari. Semuanya bergerak dengan sejenis dendam agar jangan sampai masa kanak-kanak mereka yang paceklik buku, terus berulang sampai ke generasi berikut: cukup para penggerak itu sajalah yang tak beruntung karena bacaan yang tak memadai. Tahun depan, cerita tentang para penggerak yang beraneka ragam ini, dari kaki Gunung Slamet hingga Pantai Pambusuang, dari Danau Toba Hingga Teluk Cenderawasih, mungkin sudah akan muncul dalam wujud sejilid buku.

 

Saya sendiri ikut ambil bagian dalam Pustaka Bergerak ini antara lain karena ingin membayar kaul: Pada saat saya sudah kesekian kali menyelipkan buku ke lipatan baju dan melangkah deg-degan keluar ke jalan, saya berjanji untuk kelak mengembalikan buku-buku ini, mungkin bukan ke pemiliknya yang kuasa, tapi ke pihak yang lebih membutuhkannya. Dan saya cukup beruntung kena PHK sehingga mendapat pesangon untuk menunaikan kaul itu. Dan karena impian masa kanak-kanak yang sudah terbentuk sejak belajar mengeja alepu untuk berkuda ke tempat-tempat yang jauh, saya mesti ikut membangun jaringan yang berskala luas agar punya banyak saudara yang bisa saya kunjungi dalam perjalanan berkuda itu, dan persaudaraan yang pikir paling indah adalah persaudaraan dalam pustaka. Tak berarti bahwa saya "membebaskan" buku dengan rencana matang untuk mendapat PHK dan punya modal membangun jaringan balas dendam berskala nasional. Sekalipun pesangon saya jauh lebih besar lagi, misalnya, itu sama sekali tak akan menjamin timbul dan tumbuhnya satu simpul pustaka. Yang terpenting dari simpul pustaka, pada akhirnya, adalah pengelolanya, orang yang punya akar di tempatnya tapi dengan wawasan kepedulian yang lebih luas ketimbang daerahnya sendiri. Mereka inilah kunci sebenarnya. Tanpa gembar-gembor mereka terus memburu dan mendatangi pembaca, menyodorkan dan mengenalkan sejumput nikmat membaca, setitik rasa merdeka. Pustaka Bergerak memang belum bisa membawa listerik ke tempat-tempat yang jauh, hanya negara dan perusahaaan besar yang sanggup melakukan itu. Namun, dengan pustaka yang bergerak, rakyat kecil pun bisa menunjukkan bahwa mereka juga sanggup berbagi rasa merdeka kepada sesama.   

 

Selain oleh para penggerak yang tercerahkan, pustaka pemburu pembaca dan pembagi rasa merdeka itu bisa terus tumbuh karena andil para penyumbang buku. Para dermawan ini datang dari berbagai latar belakang, dan menunjukkan bahwa semangat berbagi di negeri ini sebenarnya cukup kuat, dan harus terus ditumbuhkan. Salah satu penghambat meluasnya semangat berbagi itu adalah biaya pengiriman yang mendebarkan. Semakin jauh dan terpencil sebuah alamat yang hendak dituju, semakin tinggi pula biaya pengiriman ini, begitu tingginya sehingga jatuhnya bahkan bisa lebih mahal dari harga buku yang ingin dikirim. Kalau saja ongkos pengiriman buku non-komersial bisa ditekan, jika saja biaya berbagi rasa merdeka itu bisa digratiskan, maka akan semakin banyak orang yang dengan senang hati mengumpulkan buku-buku bekasnya dan mengirimkannya ke pojok terjauh di negeri ini. Di Republik di mana masih banyak desa belum sepenuhnya merdeka karena belum mengalami masuknya aliran buku dan listerik itu, ada banyak manusia berdedikasi yang menghabiskan separuh hidupnya di tapal batas itu. Mereka akan gembira membangun pustaka pemburu pembaca asalkan buku-buku bisa datang secara agak pasti. Mereka akan sungguh-sungguh menggerakkan pustaka itu karena mereka menyaksikan bagaimana anak-anak desa terpencil harus adu nyawa tiap hari hanya untuk mendapatkan pendidikan dasar.

 

Dipermudah oleh internet dan media sosial, kerja sama antara para relawan pemburu pembaca dan dermawan penyumbang buku akan mempermudah penyebaran rasa merdeka ke seluruh penjuru negeri. Kita berharap bahwa kerjasama ini akan terus menguat dan masyarakat mulai merangkul gagasan bahwa menyembelih hewan serentak di hari suci itu tentu tetap boleh, namun lebih baik lagi jika dana pembelian hewan itu dialihkan ke pengadaan buku yang akan dikirim ke sesama ummat yang sangat membutuhkan. Bahwa setelah umroh dan haji pertama, maka tindakan terbaik adalah membelanjakan dana untuk umroh kedua dan seterusnya buat mendukung antara lain jaringan pustaka pemburu pembaca. Upacara-upacara adat yang mahal mungkin akan tetap dilaksanakan, namun masyarakat juga bisa menyimpulkan bahwa memuliakan dunia dan mereka yang masih hidup adalah bentuk ibadah yang tak kalah tinggi nilainya. Manusia beramal, bersedekah, bukan agar dirinya  sendiri masuk surga, tapi agar orang lain yang mungkin tak akan ia kenal bisa menikmati firdaus dan menghargai berkah yang terbentang di mana-mana.

 

Yang jelas, dengan gerakan berbagi buku dan memburu pembaca, kita akan punya anak-anak yang fasih membicarakan sejarah kampungnya dan kebudayaan yang menghidupinya, yang percaya diri menghadapi orang-orang asing dan ide-ide ganjil. Anak-anak ini akan lebih siap untuk mengikatkan diri secara produktif dalam pertautan besar yang kita sebut bangsa, dan mampu membaca buku  raksasa alam semesta, menanti dengan bergairah datangnya pesan yang dikirim oleh langit yang lain yang mungkin belum mencapai dunia hari ini. Anak-anak yang sanggup mengolah dan membalas pesan dari langit yang lain ini tentu akan membutuhkan pustaka jenis lain yang koleksinya mungkin sudah mencapai jutaan, dan menyimpan bukan hanya memori kolektif dua benua dan memori genetik semua spesies. Namun untuk sementara, jaringan pustaka bergerak dengan koleksinya yang mungkin hanya ribuan, dengan dukungan warga penyumbang yang terus meluas dan dengan kerjasama berbagai prakarsa masyarakat yang muncul di mana-mana, sedikit banyak akan ikut mengantar generasi itu menyiapkan diri jadi warga dunia, warga semesta.***



Artikel Terkait

Menjumpai Para Penggerak Dan Merajut Jejaring...

Tak Hanya Manusia Yang Mampu Menyusun Buku. Tapi, Buku-buku Mampu Menggerakkan, Menyusun Dan Membentuk Semesta Episode Kisah Hidup Manusia. dua Hari Sebelum Tulisan Ini Ditulis, Saya...

Rumah Baca Api Literasi Menjadi Sudut Baca...

Kalau Kita Masih Ingat, Beberapa Tahun Yang Yang Lalu Pernah ada Kampanye Gencar Tentang Perlunya Masjid Memiliki Perpustakaan. Waktu Itu banyak Masjid Yang Mendapat Bantuan Buku Untuk...

Urgensi Literasi Media Bagi Kecerdasan...

Dalam Beberapa Seminar Atau Diskusi Yang Membahas Literasi kekinian, Sering Saya Jumpai Kritik Tajam Ditujukan Kepada Lembaga, Komunitas, Pegiat Literasi Dan Sebagainya Mengenai Kesadaran...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul