Sanggar Baca Nelayan

Nelayan Pelabuhan Blimbing Launching Sanggar Baca Nelayan

Lamongan (14/7)."Otot kawat balung wesi sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh nelayan di pelabuhan Pantura, tapi nelayan juga harus berfikir secara berkemajuan", itulah yang disampaikan oleh Nur Wahid Ketua Rukun Nelayan Blimbing. Hal tersebut disampaikan dalam launching "Sanggar Baca Nelayan" yang di pelopori oleh Rukun Nelayan Blimbing yang bekerja sama dengan Rumah Baca Cahaya, Serikat Taman Pustaka dan Pustaka Bergerak Indonesia. 

Launching yang bertemakan "Buku Penggerak Kehidupan Pantura", dihadiri oleh para tokoh desa Blimbing dan perangkat pemerintahan Blimbing. Hadir juga para nelayan Pelabuhan Pantura Blimbing, Lamongan. Acara yang berlangsung di sekretariat Rukun Nelayan Blimbing ini memberikan kegembiraan bagi masyarakat nelayan Blimbing. 

Menurut Pendamping nelayan Blimbing, "70-80% nelayan Blimbing lulusan SMP, bahkan 30% tidak sekolah. Sedangkan, perkembangan teknologi untuk penangkapan ikan terus berkembang. Bagaimana bisa menggunakan teknologi untuk menangkap ikan jika membaca saja tidak bisa?", tambahnya. "Nelayan harus bisa menyesuaikan diri terhadap teknologi supaya memiliki tangkapan ikan yang baik", pungkasnya.

Hadir dalam launching tersebut, Nirwan Ahmad Arsuka Ketua Pustaka Bergerak Indonesia. Bang Nirwan sapaan akrabnya menyampaikan bahwa, "yang mampu menghidupkan sanggar baca ini adalah masyarakat itu sendiri, bukan para relawan". Lanjutnya dalam sambutan tersebut, "masyarakat harus diberikan peran lebih dalam mengelola kehidupannya, karena masyarakat jauh lebih paham, tinggal di dampingi oleh relawan."

Baru kali ini, inisiai akan simpul pustaka digerakkan oleh nelayan, biasanya oleh para relawan. Nelayan Blimbing patut diapresiasi David Efendi selaku Ketua Serikat Taman Pustaka yang membawa buku-buku donasi dari MPI PP Muhammadiyah berharap, "aktivitas ini bisa menjadi model gerakan yang diinisiasi oleh masyarakat, yang kesehariannya sudah disibukkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, namun masih memberikan ruang untuk mengapresiasi pentingnya gerakan literasi."

Waryono atau yang biasa dipanggil Cak Yon, selaku Penggerak Rumah Baca Cahaya berharap, "buku-buku tidak hanya berada di Sanggar Baca Nelayan, tapi buku-buku juga bisa menemani nelayan saat istirahat tidak melaut". Rumah Baca Cahaya sering menggelar lapak baca di sekitar pelabuhan Blimbing setiap akhir pekan. Lokasi sanggar  baca sangat strategis di kompleks pelabuhan Blimbing atau TPI dimana orang Ramai setiap waktu dan sanggar baca ini buka 24 jam. Dalam waktu dekat banyak donatur buku berdatangan baik dari warga,kepala desa, dan juga serikat taman pustaka yang mewakafkan banyak buku di sanggar baru ini.

Semua pihak berharap, supaya Sanggar Baca ini bisa ramai dikunjungi dan bermanfaat untuk masyarakat nelayan dan bisa di jadikan model gerakan masyarakat nelayan di tempat lainnya. (fik)



Komentar