Meneguk Aksara Dalam Pesan-Pesan Kakek

Malam itu bukan sekedar mempertemukan beranda wajah secara face to face, tetapi dibalik malam yang mengerumuniku dengan tepuk tangan dan ucapan selamat yang kutemui. Ada jalan kenangan yang mengantarkanku menemui sang kakek di perpustakaan ingatanku, seperti biasanya saat bersua dengan sang kakek bukan hanya ditemani secangkir kopi dan pisang goreng. Tetapi, kebersamaan dengan kakek menyisipkan pesan-pesannya padaku. “cucuku, teruslah menuntut pengetahuan. Lihatlah kakek yang buta huruf bisa menjadi kepala kampung. Jadi, kalau cucu-cucuku meneguk air aksara pengetahuan maka bisa melebihiku. Ingatlah selalu cucuku”

Rasanya perkataan kakek seakan menusuk dalam batinku, sembari menyadarkanku bahwa keonaran yang kulakukan di sekolah tak memberikan arti pada perjalananku menuntut pengetahuan. Malah sebaliknya akan membuat diriku dicemoh, lebih-lebih hanya akan mencoreng nama baik keluarga. Sebab keluargaku berharap supaya kudapat mempersembahkan prestasi bukan membuat mereka menjadi pesimis dengan keonaranku.

Di waktu pulang sekolah seorang guru mendatangi rumah kakek. Sebagaimana biasanya kakek menerima tamu dengan ramah dan mendengarkan serta menemani bercengkrama hingga bercerita. Dari beranda raut muka dari guru tersebut, tergambar rasa segan dan berat menyampaikan maksud hati tujuan kedatangannya. Namun, wajah kakek yang bersahaja dan bersahabat pada siapa saja akhirnya meneguhkan keyakinan guru tersebut untuk mengutarakan kedatangannya.

Maaf Puang (bahasa Bugis panggilan penghormatan kepada tokoh adat) ada sesuatu hal yang hendak kami sampaikan dari pihak sekolah”, tutur guru tersebut. “Tuan guru, sampaikanlah”, sahut kakek. “Sebelumnya, kami minta maaf apabila penyampaian dari pihak sekolah kurang berkenan bagi puang”, sebut guru tersebut. “Tuan guru, sebagai masyarakat tentu kami berharap dapat bersama dengan pihak sekolah untuk membina generasi muda”, sebut Kakek.

Sebelum menyambung pembicaraan guru tersebut, berhenti sejenak tampak ada rasa berat hati menyampaikan pesan dari pihak sekolah kepada Kakek. Bukan karena khawatir melainkan rasa segan kepada Kakek yang juga dikenal sebagai Kepala kampung yang dekat dan dihormati oleh masyarakat. “Maaf Puang, ini soal cucu puang yang banyak membuat keonaran di sekolah yang dari hari ke hari semakin menjadi-jadi. Bukan kami tak sanggup mendidik melainkan cucu Puang, tak mau mendengarkan guru-guru di sekolah”, papar guru tersebut. “Tuan guru, tidak usah khawatir nanti saat di rumah pasti kami akan nasehati. Supaya mau mendengarkan guru-guru di sekolah”, sebut Kakek. “Terima kasih banyak Puang atas pengertiannya”, tutur guru tersebut. “Tuan Guru, kami sebagai keluarga yang mesti mengucapkan terima kasih atas perhatian dari pihak sekolah”, jelas Kakek.

Kata-kata yang disampaikan Kakek membuat raut wajah guru tersebut begitu semringa. Hal, tersebut begitu beralasan mengingat masyarakat yang belum begitu melek pendidikan biasanya ketika seorang guru menyampaikan persoalan anak, cucu dan keluarga mereka di sekolah biasanya malah balik menuduh pihak sekolah tak bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak mereka. Sehingga sikap Kakek yang menerima keluhan pihak sekolah tentangku dan malah akan turut menasehatiku saat berada di rumah.

Saat pulang dari sekolah saat barada di rumah, wajah Kakek belum juga terlihat. Sehingga akhirnya kubertanya pada Nenek tentang dimana Kakek berada. Sebab biasanya saat pulang sekolah wajah Kakeklah yang menjemput kedatanganku. “Nek, kemana Kakek ?”, sahutku. “Kakekmu pergi kerja bakti”, tutur Nenek. “Kerja bakti, kenapa lama sekali ?”, tanyaku. “Setelah kerja bakti dilanjutkan pertemuan dengan para sesepuh adat di balai desa”, kata Nenek. Karena, Kakek tak berada di rumah akhirnya kuputuskan untuk pergi bersama teman-teman ke pantai. Maklumlah anak-anak desa di kampungku hiburannya hanya bermain di pinggir pantai. “Hei, paling bagus main bola saat air laut surut, sebut Rudi. “Tapi, dimana kita ambil bola ?”, kataku. “Tenang, serahkan pada Anto pasti beres”, tutur Rudi. Tak lama berselang Anto muncul bersama kawan-kawanku yang lain dengan bola plastik berwarna biru putih. “Ayo teman-teman, kita mulai main bola”, sebut Anto. Bersama teman-temanku akhirnya kami main bola begitu larut hingga matahari terbenam di ufuk barat.

Merasa hari telah masuk waktu sholat magrib akhirnya bersama teman-temanku bergegas dan ada pula yang berlari. Sebab diantara teman-temanku ada juga yang mengembala sapi, sehingga mereka khawatir sapi-sapi mereka telah mendahului sampai di rumah. Jarak rumah Kakek dari pantai tidaklah terlalu jauh jaraknya, cuma butuh melewati hamparan persawahan yang melekuk-lekuk bagai gelombang air laut yang menari-nari. Tetapi, bagi kami yang telah terbiasa malah hal itu menjadi sesuatu yang amat menyenangkan.

Melihat Kakek yang tengah duduk di teras rumah membuatku melupakan semua keletihan bermain seharian di pinggir pantai. Sebab biasanya setelah masuk di rumah, Kakek memanggilku dan menanyai aktifitas bermainku seharian. “Cucuku, gimana seru bermain di pantai”, kata Kakek. “Iya Kek. Seru bisa bermain bola dan sesekali menceburkan diri di laut”, sahutku. “Kalau begitu cepat mandi dan ganti baju. Kakek mau mengajakmu pergi”, tutur Kakek. Mendengar ucapan Kakek yang ingin mengajakku pergi, membuatku begitu bersemangat ingin pergi bersama dengan Kakek, hingga tak begitu lama Kakek kubiarkan sendiri menungguku. “Ayo Kek, kita pergi”, sahutku. Dengan motor Suzuki bersama dengan Kakek kami menelusuri dari lorong ke lorong mulai dari rumah dengan lampu petronas hingga rumah dengan lampu philips, memanggil dan menyambut Kakek untuk singgah di rumah masyarakat.

Pada saat perjalanan pulang menuju rumah, diatas motor Kakek menegurku “Cucuku, apa kira-kira yang membuat masyarakat menghormati Kakekmu ini, hingga mereka mau memanggil Kakekmu ini singgah di rumah meraka ?”, tutur Kakek. Dengan penuh semangat kujawab “Karena, Kakek berbuat baik pada masyarakat”, sebutku. “Apakah cucuku juga ingin seperti Kakek ?”, kata Kakek. Kujawab “Iya, Kek”. “Kalau begitu dengarkanlah nasehat guru di sekolah dan jangan berbuat keonaran”, jelas Kakek. Nasehat di malam itu saat bersama Kakek benar-benar membuatku merasa bahwa kelakuanku di sekolah telah sampai di telinga Kakek. Yang membuatku tersentuh karena Kakek dengan caranya menasehatiku bukan dengan langsung menunjukkan kemarahan, sebagaimana orang tua biasanya lakukan. Tetapi, Kakek berbeda malah dengan memberiku contoh dengan keteladanan yang membuatku terkesan. Sehingga Kakek tak terkesan langsung mengguruiku melainkan ikut terlibat dan sembari apakah kutak ingin seperti Kakek. Mungkin karena faktor itulah setelah mendiang Kakek meninggalkan kami, setiap kali kumerasa terpuruk bahkan di cemoh oleh siapapun ingatanku tentang Kakeklah yang membuatku kembali bangkit.

Semenjak meninggalnya Kakek rasanya ada yang hilang dari hidupku. Kalau selama ini saat-saat mengalami kekalutan pikiran, pasti ada Kakek yang menasehatiku dan menghiburku. Hingga saat-saat terpuruk dalam perjalananku di sekolah memuncak, saat seorang guru mencibirku “keluarga terpandang, kok di sekolah tak membanggakan”. Mendengar ucapan itu rasanya ingin memberontak dan menantang guru tersebut untuk berduel secara fisik. Tetapi, seolah bayangan Kakek muncul dihadapanku meredam emosiku dan kembali mengarahkan tekadku untuk membuktikan ucapan guru tersebut tidaklah benar. Setelah merenung apa yang diutarakan oleh guru tersebut, agak beralasan karena selama perjalananku menempuh pendidikan tak pernah sama sekali meraih juara kelas, paling banter terbuang dari sepuluh besar. Sehingga tiap pengumuman kenaikan kelas diantara banyak siswa namaku termasuk yang belakangan disebut, orang hanya menimpali naik kelas karena jasa mendiang Kakeknya yang besar terhadap pembangunan sekolah.

Merasa hanya berada di bawah bayang-bayang nama besar Kakek. Akhirnya kutumbuhkan kesadaran untuk lebih giat lagi belajar, kalau selama ini guru bertanya pada siswa “Apakah anak-anak sekalian ada yang mau kerjakan soal di papan tulis ?”, tutur guruku. Biasanya namaku jauh dari peredaran untuk disebutkan apalagi memberanikan diri untuk maju mengerjakan soal di papan tulis. Tetapi, semenjak di kelas lima SD akhirnya kuberanikan diri maju ke depan mengerjakan soal. Tentu bukan hal mudah untuk memulai itu semua, mengingat reputasiku selama ini hanya membuat keonaran. Tetapi, rasanya kuingin juga berprestasi sama seperti teman-temanku yang lain yang telah mengukir prestasi terlebih dahulu.

Secara perlahan kuingin  membuktikan bahwa si anak yang suka buat keonaran, mulai menunjukkan perubahan dan keseriusan untuk menuntut pengetahuan. Di acara pengumuman kenaikan kelas bukan hanya membuat berdebar, tetapi ada suasana yang muncul dari dalam diriku apakah kenaikan kelas kali ini menjadi titik balik perjalananku ataukah seperti biasanya hanya puas dengan predikat naik kelas ?. Kepala sekolah akhirnya mengumumkan nama-nama yang naik kelas berdasarkan peringkatnya. Ketika Kepala sekolah menyebut peringkat dan juara kelas di kelas lima, juara I, II dan III tak banyak mengalami perubahan dari juara-juara kelas sebelumnya. Namun, yang berbeda ketika Kepala sekolah menyebut peringkat V yang banyak dari guru, orang tua siswa hingga masyarakat yang hadir tercengang mendengar nama yang disebutkan Kepala sekolah. Mungkin ini cukup beralasan, sebab selama acara pengumuman naik kelas ada banyak orang yang turut hadir dari masyarakat sekitar yang bahkan ada yang sengaja tak turun ke sawah dan melaut hanya untuk mengikuti acara pengumuman naik kelas. Sehingga nama siswa yang peringkat V di kelas lima dan berhak naik kelas enam adalah nama baru yang masuk dijajaran lima besar bahkan sepuluh besar. Biasanya nama siswa itu hanya menghuni peringkat di luar sepuluh besar. Tetapi, kali ini membuat kejutan dengan masuk di deretan lima besar peringkat kelas, tentu menjadi prestasi tersendiri yang membutuhkan semangat dan keuletan untuk mengukir prestasi. Nama yang disebutkan oleh Kepala sekolah yang menjadi peringkat lima tak lain adalah namaku.

Naik di kelas enam tekad dan semangat belajarku semakin kupacu, apalagi dengan predikat peringkat lima di kelasku menjadi pemicu tersendiri untuk membuktikan bahwa nasehat mendiang Kakekku dulu dapat kubuktikan. Harapanku untuk berprestasi lebih dari peringkat lima terus kuupayakan. Mulai dari bertanya pada guru, raji ke perpustakaan dan menabung untuk membeli buku pelajaran serta buku bacaan semakin kulakukan. Dengan buku pelajaran yang kubeli menambah amunisi semangat belajarku. Melihat semangatku belajar akhirnya Ibuku turut berkomentar sembari mencandaiku “rasanya rindu dengan anakku keluyuran bermain hingga tak ingat waktu”, sebut Ibuku tersenyum. “Ibu, izinkan anakmu untuk lebih lama belajar dibandingkan yang biasanya”, sahutku. “Pasti Ibu berdo’a untukmu, tapi jangan lupa juga bermain dan istirahat kalau malam minggu dan hari minggu”, tutur Ibu sembari mengusap kepalaku. Rasanya usapan seperti itu baru kembali kudapatkan dari Ibuku, setelah sekian lama hanya bisa mengerutkan kening dan memarahiku bila kembali berulah yang membuat anak-anak sekolah melaporkan pada Ibuku.

Di akhir bulan setelah menjalani ujian akhir nasional di semester akhir kelas enam, maka pengumuman kelulusan sekolah bagi kelas enam akhirnya diumumkan oleh Kepala sekolah. Kepala sekolah menyampaikan bahwa pengumuman kelulusan bagi siswa kelas enam akan diumumkan paling akhir. Bagi siswa kelas enam rasa berdebar-debar telah menyelimuti seluruh tubuh kami, hingga tibalah pengumuman kelulusan dengan mengumumkan juara umum setelah mengakumulasi ujian sekolah, ujian praktek dan ujian nasional maka juara umum satu. Akhirnya disebutkan oleh Kepala sekolah, mendengar nama tersebut disebut orang-orang yang hadir langsung terdiam, seolah mendengarkan kejutan untuk kedua kalinya dengan nama yang sama telah memberikan kejutan kembali. Juara umum satu yang diumumkan oleh Kepala sekolah adalah namaku. Saat itu tak ada nama yang hadir dibenakku selain nama Kakekku beserta nasehat-nasehatnya padaku. Rasanya saat itu terjadi dialog imajiner dengan Kakekku, “Kakek, cucumu mempersembahkan prestasi yang membanggakan keluarga. Do’akan selalu cucumu, Kakek”.

Setelah menempuh perjanan menuntut pengetahuan pada tingkat universitas, semua kenangan saat menempuh jenjang pendidikan dari tingkatan SD hingga tingkatan universitas kujalani dengan begitu tabah sembari ditemani oleh nasehat-nasehat mendiang Kakekku. Rasanya malam saat berada pada acara ramah tamah wisudawan/wisudawati menjadi salah satu perjalanan yang cukup monumental, dalam kisahku meneguk air aksara pengetahuan. Karena, nasihat mendiang Kakekku beberapa tahun lalu kembali kuwujudkan dengan meraih gelar sarjana. Yang membuatku tak kuasa menahan derai air mata, ketika pengumuman mahasiswa berprestasi, namaku kumbali disebut sebagai wisudawan terbaik dengan predikat Cum Laude. Sehingga dalam benakku nama Kakek bersama nasihat-nasihatnya kembali menghampiriku, dengan suara bercampur tangis saat menyampaikan pesan dan kesan sebagai alumni terbaik kata-kataku dipenuhi oleh linangan air mata. Seolah kutak sedang berbicara di hadapan hadirin yang hadir, tetapi seakan kuberjumpa dan berdialog dengan Kakekku sembari melempar senyum hangat padaku.



Komentar