Manusia tak beradab itu, menjadi sangat beradab.

Berbicara masa kolonial Belanda yang menjajah Indonesia selama 3.5 Abad, dan sekutu Jepang 3.5 tahun, namun dalam sejarah menjelaskan bahwa 3.5 tahun saat di jajah jepanglah Indonesia merasa lebih sengsara, sebab perlakuan dari negara itu di jelaskan lebih kejam dari perlakuan bangsa Belanda. Terbukti, salah satu perlakuan bangsa Jepang yang kejang sering kita kenal dengan Romusa.

Dengan kelicikan  propaganda mengaku sebaga Saudara Tua dari Asia. Jepang berhasil memasuki Indonesia, dengan beralasan mengusir Belanda dan akan memberikan kemerdekaan untuk Indonesia. Namun kenyataannya itu hanya siapa untuk menjajah Indonesia. Banyak literatur yang mengatakan betapa tidak beradabnya perlakuan Jepang pada saat itu. 

Begitulah sejarah menjelaskan tentang masa lalu. Perihal Jepang yang pernah menjajah negeri kita. Kemudian tahun demi tahun berlalu. Kita sudah sama-sama merdeka. Orang Belanda harus kembali ke negaranya, orang Jepang juga kembali kenegaranya sendiri. Dan kemudian harus sama-sama menjaga ketertiban dunia.

Seiring berjalan waktu itu, hingga detik ini. Dahulu saya berfikir bahwa Jepang itu sangat kejam sangat biasa dan tidak berperi kemanusiaan. Sebab pengalaman masa lalu yang benar-benar membuat sakit hati kami. Namun, orang-orang tidak biadab itu sekarang menjadi sangat beradab.

Saat saya berkesempatan untuk mengunjungi negara tersebut. Suasananya benar-benar berubah, tidak lagi seperti yang ada dalam pikiran saya terdahulu. Semua tertata disini. Jika tata kotanya yang rapi saya tidak heran, sebab negara ini memang negara maju.

Akan tetapi yang menjadi sorotan saya adalah, orang-orangnya. Semua disiplin, taat aturan dan bahkan tingkat kejahatan di kota ini sangatlah minim.

Sepanjang jalan, jika kau berjalan di trotoar maka kau tidak akan menemukan kemacetan. Tidak akan menemukan kesemrautan kendaraan, bahkan jarang sekali saya melihat orang mengdarai motor. Rata-rata orang memilih berjalan kaki, dan kamu tau?. Disetiap persimpangan jalan disini, ada semacam lampu lalu lintas yg dikhususkan untuk para pejalan kaki. Jika lampu tersebut merah, maka mereka harus berhenti,intibya seperti lampu lalu lintas di negara kita. Yang menjadi istimewa bagi saya, mereka dengan penuh kesadaran. Diawasi atau tidak, bahkan tidak ada pengawasan sama sekali. Mereka tetap dengan tertib dan disiplin mematuhi aturan tersebut.
Bahkan pernah suatu malam, yang terbilang sudah sangat larut, tidak ada kendaraan dan jalanan sudah sangat sepi. Saya berjalan menuju hotel, dipersimpangan jalan saya melihat seorang yang sedang berdiam diri menunggu lampu jalan berubah menjadi biru. “Whats Man?, ini sudah tengah malam Man. Lu lewat, juga ngak bakalan ada org nabrak atau menghalangi jal lu. Lu tinggal nyebrang!, Pikir saya dalam benak.

Tapi orang jepang, tetaplah orang jepang. Kedisiplinan tdak akan mengenal waktu. Dimana dan dengan siapa, dia sepertinya harus selalu melekat pada diri mereka. So, bagaimana dengan saya dan dengan  rekan-rekan sekalian?, Man kita tertinggal jauh. Tidak perlu lah saya menjelaskan bagaimana dengan kita. 

Sepanjang jalan, jika kau berjalan lagi. Kau tidak akan menemukan tepat sampah seperti di negara kita. Sepertinya di sepanjang jalan kota ini, tidak disediakan  tempat sampah. Nunggu jangan salah, tidak pernah saya melihat satupun sampah plastik atau sampah kertas berserakan atau tercecer di sepanjang jalan yang saya lewati. Bahkan di gedung-gedung sekalipun, kau hanya akan menemukan tempat sampah di toilet, atau Ruang-ruang tertentu. Saya sangat kesulitan jika memegang sampah disini. Akhirnya, harus saya tentang atau harus aya kantong saja jika sampah itu muat di kantong saya. Gila, gimana cara ngebuat karakter mereka kaya gini ya.?.

Lalu, jika kau mencoba ke pusat perbelanjaan, ke stasiun  atau tepat dimana semua orang harus mengantri. Sepertinya tidak perlu saya jelaskan dengan detail. Tampaknya tampa saya jelaskan ini, saya yakin anda tau. Bahwa mereka akan berbaris dengan  sabar dan rapi, tidak ada yang saling mendahului atau yang rusuh memburu-burui.

Hal yang paling penting juga bagi mereka adalah harga diri. Bahkan jika kita bertanya sesuatu tentang pengetahuan yang mereka jelaskan, lalu mereka tidak bisa menjawab, maka mereka akan menangis. Wahhh, konyol. Tapi itu kenyataannya.

Mungkin dari anda ada yang pernah mendengar istilah Harakiri. Iya, itu budaya bunuh diri yang sudah turun temurun diwarisi oleh para Samurai. Bisa jadi, mereka akan melakukan Harakiri ini jika harga diri mereka terlecehkan atau mereka merasa sangat malu. Semisal, ketika mereka ketahuan melakukan tindak Korupsi mungkin, maka tidak heran tingkat korupsi disini sangat minim sekali. Tidak seperti di negara kita, dimana korupsi meraja  lela. Mungkin kenapa para pejabat kita doyan  korupsi, karena mereka tidak menghargai harga diri mereka bahkan tidak memiliki harga diri.

Well, kesimpulannya. Negara yang dulu tak tak beradab ini sudah sangat beradab Man. Apa kabar dengan  negara kita, negara yang penuh adab dan budaya lokal yang sangat kaya akan kaidah sopan santun?. Mari kita sama-sama menilai sendiri. 

Saya menuliskan ini bukan sebab uforia sebab sedang di negara orang, atau berniat membanding-bandingkan Indonesia dengan Jepang, tapi hal ini perlu kita ketahui saja. Hal dasar yang perlu kita terapkan jika negara kita ingin maju.



Komentar