Renungan Tentang Buku

Buku hanya dapat bernilai buku ketika terbaca. Saat ia terpenjara dalam lemari, buku tak punya arti apa-apa, kecuali sekadar pajangan sampah. Lihatlah sampah-sampah kertas dan tinta itu, begitu banyak dipelihara orang dalam lemari antik. Bertahun-tahun buku terpenjara di sana tanpa ada yang membacanya, karena pemiliknya sendiri telah mengunci dan melarang siapapun juga membaca buku-bukunya.

Tentu saja anda memenjara buku dalam lemari antik karena berpikir bahwa suatu waktu nanti akan membaca buku itu (lagi). Tapi demikianlah waktu tak memiliki toleransi, dan tak pernah mau berdamai dengan siapa pun juga. Ia bergerak terus, melompat dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, dari bulan ke tahun terus meninggalkan kenangan pada awal hari. Kamu pun tercengan karena tiba-tiba sudah sepuluh tahun tak pernah membuka-buka lemari bukumu. Kamu sudah lupa di mana menyimpan kuncinya karena selama ini kamu hanya rajin membuka-buka lemari pakaian, menggonta-ganti isinya hingga selalu baru. Pakaian-pakaian bekas yang di awal hari kau simpan di sana kini telah kau sedekahkan ke orang-orang yang tak mampu membeli pakaian, atau telah kau buang ke tempat sampah.

Kamu telah memenjara buku demikian lama, telah menutup kesempatan bagi orang lain untuk membaca buku itu demikian lama dan kamu sesungguhnya telah membuat dosa-dosa yang tak ternama.

Padahal bukupun seharusnya kau perlakukan seperti manusia. Atau paling tidah seperti pakaian-pakaianmu. Kau harus membiarkannya bebas menempuh nasibnya sendiri. Terbaca atau tidak terbaca tapi jangan terpenjara. Biarkanlah buku itu bisa bebas bergerak ke mana-mana. Dan demi buku bisa bergerak, sebaiknya buku-buku yang tak kau gunakan lagi kau sedekahkan dengan ikhlas kepada orang-orang yang membutuhkannya, atau perpustakaan-perpustakaan yang bersedia merawat dan membuatnya selalu bergerak mengunjungi pembaca. Dengan begitu kau akan mendapat amal jariah karena ilmu yang terbagi kepada orang lain tak ada lain maknanya adalah amal jariah. Kamu dan pengarang buku itu akan terus menerima amal tersebut.

Sekadar renungan badaruddin Amir, Baruga Baca Iqra, Sulawesi Selatan.



Komentar