Menulis Mimpi Di Balik Jeruji

Kamis, 3 Mei 2018. Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta mengadakan kegiatan pameran literasi yang bertema “Tinta Di Balik Jeruji: Menulis Mimpi.”Kumpulan karya dari Warga Binaan Lapas (WBP) diluncurkan ke publik – Dari Puisi, Komik, Kriya, Poster, Seni Rupa hingga musikalisasi puisi.       

Acara ini merupakan hasil kolaborasi; Pustaka Bergerak, Komunitas Pecinta Buku Lapas Narkotika Yogyakarta (Kopiku), Rumah Baca Komunitas, Lapas Narkotika Klas IIA Yogyakarta, dan Kemenkumham Yogyakarta.

Dengan pengamanan yang ketat untuk masuk ke lapas, saya merasa merinding. Karena baru pertama kali ini saya masuk ke dalam rumah binaan khusus bagi pecandu narkoba. Setelah melewati proses pemerikasaan, saya takjub dengan tempelan ornamen pada dinding lapas yang memuat kata-kata mutiara dari penulis dunia -  Puisi yang menceritakan banyak tema, serta lukisan yang indah di pandang dan sarat akan makna. Dinding dan jeruji besi ternyata bukan penghalang bagi ide dan kreativitas untuk dituangkan. Segala macam produk juga dipamerkan, baju sablon, perenak-pernik kerajinan tangan, miniatur motor, dan segala olahan kulit -  yang menurut saya memiliki keindahan  estetika dan gagasan yang orisinil.

Hal yang aneh adalah pameran ini seperti festival seni dan sastra ketimbang menggambarkan lapas narkotika. Jeruji besi hanya pembatas fisik, namun ide dan gagasan bisa menembus ruang dan waktu. Beberapa karya puisi yang saya baca-pun tak kalah dengan begawan puisi macam Wiji Thukul ataupun W.S. Rendra. Khasanah kehidupan mulai dari asmara hingga sosial-politik bisa dibaca oleh pengunjung, beberapa pengunjung sangat antusias mendiskusikan karya dengan warga lapas. Mulai dari orang tua hingga anak muda, sibuk mengelilingi setiap sudut ruangan untuk membaca dan melihat-lihat produk kesenian.   

Saya merasa sedang diberikan kuliah umum dan workshop oleh warga lapas. Saya percaya bahwa buku adalah jendela dunia, dan tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun selama empat tahun kuliah, baru pertama kali ini saya melihat bagaimana peradaban  tidak selalu di ciptakan oleh kampus, peradaban juga bisa diciptakan di dalam lapas. Saya teringat  bagaimana Pramoedya Ananta Toer produktif menulis dan menghasilkan karya yang mendunia di saat ia di penjara. Ia menuliskan kisah penemuan identitas nasional dari jeruji besi yang dingin -  Hanya bermodalkan mesin ketik dan kertas, Pram mampu menggambarkan dunia kepada pembaca.

Di sini-pun peradaban dunia yang luas itu juga digambarkan oleh warga lapas – Salah satunya puisi milik Enggar Saputro.  Puisinya yang berjudul “Emak”-  Bagi saya memiliki makna yang dalam; penggambarannya terhadap tokoh dan alur sangat kuat. Karena puisinya panjang lebih dari 10 bait, maka saya kutipkan dua bait saja.

Mak! Kau tuntun kaki mungil telanjang ini menyusuri rel kereta di gurita

Turut mereguk mata air limbah penuh masalah

Bau bacin menyengat para harlot yang keluar dari gubuk reyot

Menghirup napas pemabuk yang terhuyung-huyung dalam papahan kesedihan

Mak! Terjilat kumandang adzan subuh

Kita pulang ke rumah, tinggalkan Bang Suwung

Ajari anakmu tegak berdiri seperti alif lagi

Mencuci rombengan di Sungai Winongo penuh kesabaran

Belanja ke Pasar Kranggan dengan dengan keprihatinan

Kau siram tunasmu menggunakan hafalan robek

Puisi ini mengisahkan bagaimana kesedihan, harapan, dan kerinduan yang terdalam dari seorang anak terhadap ibunya yang sudah tiada. Penggambara suasana dan pilihan diksi yang tepat membuat saya menahan emosi ketika membacanya berulang-ulang. Puisi “Emak” ini mengingatkan saya pada puisi Saut Situmorang “Andung-Andung Petualang” yang juga bercerita seorang anak yang menyesali kenakalan semasa muda dan akhirnya harus kehilangan ibunya. Bagi saya puisi Enggar Saputro sangat layak untuk di baca oleh khalayak luas -  puisinya memiliki orisinalitas dan idealisme dalam kepenulisan. Seperti dalam pusiinya berjudul “Demo Lodo.”

Berderet teriak serak lawan

Pengeras tegas hancurkan siculas

Menahan panas dan melawan hujan

Suarakan keadilan di tengah penindasan

Buruh mengeluh dituduh perusuh

Penyusup merayap sedikit usut

Pengecut Surut, pemberani menghadapi

Karbitan atau militan

Rakyat yang sekarat hujat pengkhianat

Duduk di kursi beludru sambil mencuri

Siapa bunda putri? Bagaimana kasus century

Mati selalu dipeti kayu

Kasus mulus tiada pupus

Satu jam yang lalu, Ia baru saja melantunkan puisinya diringi lagu Iwan Fals “Pesawat Tempur” . Suaranya dengan nada tinggi dan penuh emosi. Saya dan beberapa pengunjung berkesempatan untuk diskusi dengannya. Mas Enggar yang berperawakan santai bersedia menjawab semua pertanyaan dengan raut wajah yang sumringah. Ia bercerita bagaimana menulis puisi dengan belajar otodidak, ia bahkan tak mengenyam bangku kuliah. Untuk asupan pengetahuan ia suka membaca buku dan koran, saya kira ia menyukai puisi Wiji Thukul dan Rendra, tapi ternyata ia tidak mengenal keduanya. Saya kagum dengan apa yang ia tulis, baginya menulis itu adalah kebebasan, tak perlu memuja tokoh sastra untuk dicap sebagai sastrawan. Ia juga tak mau untuk menonton TV, karena baginya TV adalah sampah.  

Saya menyukai puisi dengan gaya bercerita dan memberontak. Mas Enggar bagi saya adalah Wiji Thukul versi baru yang dilahirkan dunia. Puisi-puisi yang ia ciptakan banyak bercerita mengenai tema sosial-politik di Indonesia .

Menjelang sore acara sarasehan diskusi pameran literasi pun dimulai. Acara ini di moderatori  oleh Danto (Kopiku), Nirwan Arsuka (Pustaka Bergerak), Syarif Bando (Kepala Perpusnas RI), dan Erwedi Supriyatno (Kepala Lapas Narkotika Klas IIA Yogyakarta). Diskusi ini pun dihadiri oleh ratusan warga lapas dan pegiat literasi.

“Siapa saja bisa terjebak seperti kita (masuk Lapas), tidak perlu orang-orang terhormat tidak perlu uztadz...Dengan membaca kita bisa menentukan posisi kita 10 tahun yang akan datang, itu tergantung dengan apa yang kita baca hari ini... Tak perlu bergelar Profesor untuk menjadi pintar, namun dengan membaca sebanyak-banyaknya kita bisa memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas meskipun tanpa titel. Tokoh-tokoh seperti Bung Karno dan Bung Hatta merupakan contoh bagaimana mereka pernah di penjara berkali-kali namun menjadi tokoh inspiratif lewat karyanya, dan tulisan-tulisannya. Seperti Sukarno, menulis Indonesia Menggugat ketika berada di dalam penjara untuk mengguncangkan dunia, jadi bagi warga lapas jangan berkecil hati, teruslah berkarya dan berkreativitas. . . Di zaman ini masyarakat dunia dibentuk oleh buku-buku, bagi orang yang menyukai sosialisme ia akan membaca buku-buku Karl Marx, jika orang-orang menyukai paham kapitalisme ia akan membaca buku-buku Emile Durkheim, dan Max Weber . . . Luasnya dunia ini tergantung dengan buku-buku yang kita baca.ucap Kepala Perpusnas RI.      

Nirwan Arsuka juga berbicara banyak bagaimana ia pernah berkunjung ke Lapas Majene dan Maros, ia melihat bagaimana literasi sangat berguna untuk warga lapas tetap bisa mengenyam pendidikan. Di lapas Narkotika Yogyakarta ini, ia percaya bahwa gerakan literasi penjara bisa dikembangkan untuk menjadi pelopor gerakan literasi penjara nasional.

“Setelah saya datang di sini, saya merasa sedang berada di pusat kebudayaan. Bagaimana kata-kata tokoh dunia menghiasi ruangan, dan tidak saya dapatkan di kampus-kampus. . . Dari pilihan kata saja yang ditampilkan, terasa bahwa lapas narkotika ini memeiliki keistimewaan di bandingkan dengan lapas-lapas lain di Indonesia. Dengan hal ini bisa membantah pandangan bahwa penjara adalah tempat untuk membuat orang jera, namun dengan konsep seperti ini penjara malah seperti kampus . . . Dengan membaca dan menulis literasi bisa berkembang lebih luas. Bagi saya warga lapas di sini sudah menerapkan literasi terapan, karena dengan membaca dan menulis kemudian menghasilkan serta menerapkan ilmu ke dalam produk kesenian, dan kerajinan yang bermanfaat untuk orang lain dan warga bisa berpartisipasi aktif. Sehingga apabila warga lapas keluar, bisa membuat unit ekonomi kolektif yang berguna bagi masyarakat” Ucap Nirwan Arsuka yang disambut tepukan peserta diskusi.

Danto selaku penggagas Kopiku juga menjelaskan bagaimana komunitas baca lapas upayanya bersama kawan-kawan untuk  mewadahi warga lapas yang ingin berkreativitas. Ia pun berharap dengan keaktifan dan karya yang diproduksi warga lapas bisa meringankan hukuman kawan-kawannya, karena dengan kegiatan ini warga lapas juga ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kegiatan pameran literasi ini masih dibuka sampai pada 5 Mei 2018. Setelah acara diskusi selesai, saya merasa bahwa persitiwa ini merupakan tonggak sejarah awal bagaimana literasi bisa menembus batas-batas sosial. Pendidikan adalah untuk semua warga negara, tidak membeda-bedakan status, dan kelas. Masih adakah pendidikan yang seperti itu? Setelah melihat semangat dari gerakan literasi penjara, saya yakin bahwa optimisme ini bukanlah utopis belaka. Asalkan kita berani, dan berkolaborasi dengan seluruh elemen serta mencari celah dalam sistem – Bergerak mamajukan pendidikan nasional bukanlah ucapan jempol semata. Seperti fakta yang terjadi pada hari ini.

 

Biodata penulis:

Danang Pamungkas, jurnalis lepas di beberapa media online.



Komentar