Cerita dari Kampung Isogo, Sorong Selatan, Papua Barat

Semangat pagi kawan. Semoga masih semangat dalam menggerakkan kemajuan literasi di negri ini.

Belum juga reda lonjakan emosi sebab aturan baru itu, pagi ini kembali perasaan kami mulai teraduk dengan kesedihan. Ketika mendengar cerita serta kekecewaan kawan penggerak dari Taman Isogo

Kurang lebih penggalan ceritanya seperti ini:

Di sini saya akan bercerita tentang awal bagaimana saya tertarik untuk menjadi pengiat literasi dan merasa kurang setuju dengan peraturan baru yang dikeluarkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud.

Saya awalnya tidak tahu dimana itu kampung Isogo, karena saya ditugaskan mengajar disana, maka berangkatlah saya dengan 3 orang teman guru. Untuk sampai kekampung Isogo ini dari kota kabupaten melalui jalur laut dengan waktu tempuh 5 jam dan tergantung kondisi cuaca serta gelombang, Sesampai disana perahu atau longboat yg kami tumpangi berhenti tepat di pantai depan sekolah, gembira rasanya sampai di tempat itu tapi air mata saya tidak bisa ditahan karena melihat bangunan sekolah, Bangunan yang terdiri dari 3 ruangan itu sudah tidak punya atap lagi, lantai yang sudah tidak utuh lagi, dan air mata saya semakin deras mengalirnya ketika saya buka lemari yang ada isinya buku buku pelajaran masih GBHN dan itu tidak utuh, saya lupa terbitan tahun berapa,tapi pas saya duduk dibangku SD tahun 1995 buku itu sudah tidak dipakai lagi, karena bagunan yang sudah tidak layak pakai, kami kembali ke kota kabupaten,disitulah saya berniat mendirikan taman bacaan yang saya beri nama Taman Bacaan Kampung Taman Isogo
.
Saya daftarkan taman bacaan saya pertama kali di donasi buku kemendikbud, setelah kasih masuk prosposal di dinas BNPB, saya kembali lagi ke kampung, kemudian kami coba membangun atap sekolah ala kadarnya asal bisa untuk berteduh sambil menunggu jawaban proposal yang sudah kami ajukan.
.
Sekolah ini sudah lama tutup karena tidak ada guru, dan jangan kaget karena dari 108 siswa yang sekolah hanya ada 10 siswa yang bisa membaca, dari situlah semangat saya semakin kuat untuk mendapatkan buku buku penunjang pembelajaran dan buku buku bergambar yang bisa menarik anak anak untuk buka buku, Karena sudah lama tidak sekolah anak-anak ini ,walaupun sudah kelas 5 SD tapi masih kurang memehami huruf dan tulis angka masih banyak terbalik.
.
Saya mempunyai tugas sampingan sebagai operator sekolah,yang menuntut saya harus ke kota kalau ada administrasi Dapodik siswa, karena selain jauh dari kota kampung ini tidak punya listrik dan jaringan. Bulan maret saya ke kota,tapi masih belum ada kiriman yang masuk, saya mulai cari cari link di Facebook dan ketemulah saya dengan grup Pustaka Bergerak Indonesia, sayapun bergabung dan mulai berbagi tentang kegiatan kami di sore hari mengajak anak-anak membaca buku seadanya yang saya dapat dari menyisihkan uang gaji untuk membeli buku anak-anak yang harganya Rp.5000
.
Bersyukur karena setelah bergabung dengan Pustaka Bergerak bulan Mei 2018 saya dapat kiriman buku pertama, lupa pengirimnya siapa, tapi klo tidak salah kak Anandito dari Sanggar Literasi Indonesia yang bertempat di Malang, Jawa Timur
.
Ketika buku itu dibawa ke kampung anak anak sangat senang, walaupun untuk awal mereka cuma lihat lihat gambar saja, dan mendegarkan saya membaca, tapi mereka sangat antusias sekali memperhatikan dan mendengar, dari situ saya tahu untuk mendapatkan buku salah satu hal yang harus dilakukan adalah dengan berbagi atau posting kegiatan di sosial media atau di group FB Pustaka Bergerak, walaupun itu sepele tapi bagi saya berat,karena dikampung tidak ada jaringan dan listrik, jadi HP pun jarang hidup, dokumentasi cuma sedikit, kalau tidak ke kota berarti tidak dapat kiriman, tapi allhamdulilah dari bulan Juli walaupun saya tidak promosi, Kak Anandito, Bu Asmariah, Oma malthide serta donatur lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu tanpa saya minta mereka terus mencarikan donasi, terimakasih yang tiada terkira kami ucapkan.
.
Donasi yang saya dapat tidak hanya buku cerita tapi juga buku mewarnai, buku tulis, pensil dan pensil warna. Anak anak semakin senang mendapatkan kiriman itu, jangankan untuk membeli pensil warna,ke sekolah saja mereka tidak bawa buku dan pensil karena tidak punya uang, Jadi ingat awal dulu saya atasi dengan membeli beberapa buku tulis dan pensil kemudian sayap kasih pinjam ketika mereka disekolah, karena kalau dibawa pulang pasti hilang, tapi semenjak oma malthide selalu mengirimkan alat alat tulis, semuanya saya bagikan. nah lagi lagi oma malthide mengenalkan saya ke seseorang, namanya Dewi Pangesti, bagi kami dia seperti malaikat karena tanpa diminta setiap bulan dia pasti mengirimi kami alat tulis dan buku dasar membaca
.
Kalau diceritakan semua tidak kelar sampai besok ini, jadi singkat saja saya merasa sedih dengan kebijakan baru sekarang yang membatasi kriteria buku, padahal kami sangat butuh buku pelajaran,buku penunjang pelajaran, seperti dasar dasar membaca,dan buku cerita fiktif dan paling parah juga pengirimannya dibatasi dalam ruang lingkup satu propinsi, tolong kasihani kami yang di Papua, karena pengirim kami selama ini dari jawa dan sedikit sekali dari dalam Papua.
.
Oya buku yang kami kirim tidak langsung sampai ke Isogo tapi hanya sampai pos kabupaten, kirimanya itu baru kami ambil kalo ke kota karena biaya ke kota mahal, 5 juta kalo sewa dan tantangannya nyawa juga, kami sudah sering merasakan bagaimana rasanya perjalan yang tidak sesuai rencana, perahu mau kebalik lah dan lain-lain
.
Saya sangat berharap sekali ada solusi terbaik dengan mempertimbangkan kondisi kami yang ada dipedalaman, ,kalau tidak, untuk kami yang di Papua pasti terputus. 
Kami di sorong selatan,kalau masyarakat kampung Isogo pendapatan minim semua, cuma 2 orang PNS, lainnya nelayan,tapi karena kampung terpisah juga dari kecamatan hasil tangkapan tidak bisa dijual kalau tidak ada pembeli dari Sorong
.
Sekali lagi saya ucapkan terimaksih ke donatu-donatur yang telah mengirimi kami buku yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. dan Alhamdulilah anak-anak kami sudah banyak bisa membaca sekarang, maaf kalo ada kata yang kurang berkenan, sekali lagi kami ucapkan beribu-beribu terimakasih.
.
dari pinggiran Indonesia, Hayrina, Kampung Isogo, Sorong Selatan.



Komentar