Babu Baca Buku, Buat apa?

Bagi segelintir orang, profesi pembantu rumah tangga, atau pekerja domestik diidentikan dengan kebodohan dan kepatuhan tanpa syarat. Orang yang memilih menjadi pembantu rumah tangga adalah orang bodoh yang tepaksa mengambil profesi itu karena tak ada pilihan lain.

Bagi segelitir yang masih beranggapan seperti itu, mungkin perlu saya kenalkan dengan sosok pekerja domestik yang satu ini: Nanik Riyati.

Nanik, seorang ibu dari dua anak adalah tenaga kerja wanita asal Cilacap yang bekerja di Taiwan. Ia bekerja di sektor rumah tangga, dengan tugas merawat seorang pasien lansia dan seluruh pekerjaan rumah tangga. Bersih-bersih, mencuci, memasak, menyetrika, dan sebagainya. Jika dilihat dengan kacamata anggapan segelintir orang di atas, maka Nanik bukanlah orang yang bisa dibayangkan bisa menjadi agen perubahan.

Tapi coba lihat kisahnya.

Perempuan 34 tahun ini memang seorang pembantu rumah tangga. Tapi ia juga adalah seorang mahasiswa yang terdaftar di Universitas Terbuka Taiwan. Di sela-sela pekerjaannya yang padat setiap hari, ia belajar secara mandiri melalui diktat-diktat dan kuliah online yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka Taiwan. Majikannya yang juga adalah seorang dosen, mengijinkan ia bekerja sambil kuliah. Ia tetap bisa menunaikan pekerjaannya dengan baik. Waktu istirahatnya, ia isi dengan membaca buku dan mengerjakan tugas kuliah.

Selain membaca banyak buku dan kuliah, Nanik Riyati juga menulis. Ia pernah memenangkan sebuah penghargaan kepenulisan yang diselenggarakan oleh pemerintah Taiwan untuk para imigran dari empat negara.

Lebih dari itu semua, ia punya visi yang sangat bagus. Ia mengajak kawan-kawannya sesama pekerja domestik, untuk bergabung bersamanya menggagas GEMAS (Gerakan Masyarakat Sadar Baca dan Sastra). GEMAS punya misi ingin mendirikan rumah-rumah baca atau perpustakaan di Indonesia.

Pada tahun 2015, salah satu anggota GEMAS yang bergabung dengan Nanik, pulang ke Indonesia dan mendirikan perpustakaan GEMAS yang pertama. Tahun berikutnya, telah berdiri perpustakaan yang kedua di Kediri. Dan setelah hampir tiga tahun sejak GEMAS digagas, sudah ada lima perpustakaan GEMAS berdiri di tanah air.

Semua pengelola perpustakaan GEMAS adalah mantan pekerja domestik, mantan pembantu rumah tangga. Orang-orang yang sempat dianggap bodoh dan tak punya pilihan.

Boleh jadi para anggota GEMAS memang tak seberdaya organisasi atau lembaga lain yang sama-sama bergerak di bidang pustaka. Namun GEMAS membuktikan bahwa siapa pun, profesi apa pun, bisa menjadi agen perubahan.

Nanik Riyati dan kawan-kawannya sesama pekerja domestik telah memerdekakan diri mereka dari stereotip lemah dan tak berdaya, melalui buku-buku dan gerakan pustaka.

Jika seorang babu bisa melakukan langkah nyata ini, maka Anda yang lebih segala-galanya, pasti bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi untuk Indonesia tercinta.

 

Teruslah bergerak, teruslah menyebarkan kebaikan.



Komentar

64x64
RUMAH BACA MAHARDIKA
6 bulan yang lalu

KEREN