Ini Buku, Bukan Sabu

Ini buku, bukan sabu.

Hal pertama yang ada dalam kepala saya ketika menulis ini adalah pertanyaan-pertanyaan dikepala sejak 3 bulan yang lalu. "Bukankah fungsi taman kota juga sebagai wadah berkegiatan sosial?, lantas mengapa berkegiatan sosial menyebarkan buku dilarang?".

Iya, ini kisah kami. Pengerak pustaka bernama literasi berkaki. Minggu pertama kita bergerak tidak terjadi masalah apa-apa, lancar aman dan kondusif. Akan tetapi permasalahan ini dimulai pada minggu ke tiga, ketika pihak keamanan menemui kami dan bertanya tentang surat izin, dan bla. . Bla. . Bla. Sebab katanya takut ada yg melaporkan kami sedang melakukan transaksi komersial. (woyyy, baca. Itu ada tulisan bebas baca, tdak untuk dijual).

Wah, kami baru tau kalo berkegiatan spt ini harus ada surat izin. Okey, berbekal dari arahan petugas keamanan taman tersebut, kami mencoba mengurusi birokrasi terkait perizinan tersebut. Dimulai mencoba mengurus ke Dinas Perhutanan (kebetulan taman tersebut dikelola oleh dinas kehutanan). namun dari dinas, kita diarahkan ke PTSP(Pelayanan terpadu satu pintu) sebab untuk pemprov DKI segala administrasi dipusatkan di PTSP tersebut. Okey, akhirnya kita menuju PTSP pusat, dan menjelaskan terkait kegiatan kami dengan tujuan yg sama, memohon izin untuk kegiatan ini. Akan tetapi, dari PTSP pusat kita diarahkan lagi ke PTSP kelurahan, sebab permasalahan kami ini adalah ranah PTSP kelurahan. Well, kita ikuti. Setelah sampai di PTSP kelurahan, ujung ujungnya tetap, tidak bisa dinego. Kita harus membayar biaya RETRIBUSI sebesar 1 JUTA. wewww, satu juta? Dalam batin kami, satu juta mending kami belikan buku. Belom lagi kami notabeninya anak Rantau, masih kuliah dan anak kos lagi. Dapat dri mana kami uang 1 juta itu. Belom lagi walaupun kita mampu, surat izin tersebut hanya diperuntukkan untuk 5 kali penggunaan. Sedangkan kegiatan kami terus menerus setiap minggu.

Akhirnya kita menyiasati, tetap mengadakan kegiatan literasi. Dengan tanpa melapak, diam-diam membawa buku dalam tas kami. Kemudian baru membagikan buku ke adik-adik yang memang biasa menunggu kami. Sebelum akhirnya pihak keamanan memergoki kami sedang membaca bersama, kami kembali ditanya perihal surat izin, katanya mereka masih dengan ketakutan yg sama. Takut ketika kita melapak, lalu ada yg melapor. . . Bla. . Bla. Bla. "Apa mereka tak punya logika, kami tdak melapak. Buku kami, kami masukkan dalam tas kami!!". Tapi tetap saja, mereka tak mau tau, malah ada yg mengatakan bahwa membawa masuk buku ketaman dalam tas kami, itu adalah sebuah pelanggaran, "heyyy, ini tas kami. Barang pribadi kami. Logika anda dimana?". Yang Intinya seakan-akan kegiatan kami benar-benar ilegal dan kami seakan-akan spt org yg dicurigai sedang membagikan sabu, padahal ini hanya buku. Dan yang membuat kami kesal, didepan anak-anak pula mereka spt itu. Hingga ada anak yg takut ketika membawa buku lalu ada satpam.

Namun, dengan alasan saling mengerti. Sebab mereka pun beralasan hanya menjalankan tugas saja, dan takut bila ditegur oleh atasan. Pekerjaan merekalah yg terancam, lalu anak istri mau dikasih makan apa. Kata mereka. Okey, kami memahami itu, sehingga kami terus mencoba cari jalan lain untuk mengurusi birokrasi surat perizinan ini.

Satu. . Dua bulan kita terus bergerilya. Sembunyi sembunyi melakukan kegiatan. Dengan hanya membawa sedikit buku, dan diselingi kegiatan kecil lainnya. Sembari bolak balik puluhan kali ke kelurahan, koordinasi dengan pihak PTSP keluharan dan lurah hingga pihak kepolisian . Sempat dapat surat izin sekali, namun minggu depannya ditolak lagi, sebab katanya tak sesuai dengan surat izin yg seharusnya.

Panjang kisahnya, hingga sementara kami diperbolehkan melapak didepan taman saja. Sampai pada akhirnya, dihari ini yang membuat kami sangat Kecewa. Sebab, didepan taman pun. Katanya sudah termasuk area steril,dan tdak boleh ada kegiatan yg tanpa surat izin. Untungnya ada warga yang baik, bersedia untuk halaman rumahnya kami tempati melapak.

Aaaaaahh, pengen berkata kasar sebenarnya. Apakah kop sakti instansi akan selalu menjagal seperti ini. Iya, mungkin niatnya baik, tapi apakah tdak ada pengecualian pada hal-hal tertentu.

Jadi kami berfikir konyol, kemudian untuk apa pemerintah dan aturan ada. Jika keberadaannya hanya menghambat pergerakan suatu kebaikan.

Katanya amanat Konstitusi adalah mencerdaskan anak bangsa, tapi koq iya ini rakyat masih saja terus dibodoh-bodohi.

Ini hanya sekedar sharing kawan, untuk meluapkan kekecewaan, kemarahan dan kekesala kami.

Tapi tetap kawan, seberat apapun perjuangan literasi ini. Jngan sampai berhenti.

Saya jadi ingat pesan bapak @Nirwan Ahmad Arsuka, "Hanya buku yang dapat menyelamatkan kita". Jadi sebarkan terus alat penyelamat dari pembodohan ini.

 

#salamLiterasi 
#literasiberkaki 
#literasiberkaki



Komentar

64x64
9 bulan yang lalu

mantap kakak ...

64x64
9 bulan yang lalu

Ya allah, miris bacanya

64x64
irwansyah sarumaha
2 bulan yang lalu

Yg penting, selalu semangat menebar kebaikan